18. Dream

45 10 2
                                        

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah yang masih nampak sepi. Kugoyangkan tasku sambil bersenandung kecil, lagu baru yang dinyanyikan oleh boyband asal negeri ginseng. Aku sangat menyukainya.

"Dont mess up my tempo... "

"Lula!"

Seseorang menghentikan nyanyianku. Aku menengok kebelakang, ah! Rupanya si Rita. Mengapa dia ngos ngosan semacam itu?

"Lula... Hhhh... Kauhhhh--"
"Tarik nafas, buang," ujarku sinis.

"Hhhh...... -- Lula, di bangku kamu ada itu--" menarikku kedalam kelas.

Betapa kagetnya aku saat melihat ada sebuah boneka kucing yang sedang duduk manis diatas bangku ku.

"Siapa yang meletakkannya? "
Rita hanya mengedikkan bahunya.

Aku berjalan mendekati boneka itu. Aku sangat menyukainya. Kuangkat bonekanya lalu kupeluk dengan erat.

"Annyeong! " aku kembali dikagetkan dengan suara. Tapi ini bukanlah suara Rita, melainkan suara dari boneka yang kupegang.

Aku memencet lagi perutnya. "Saranghaeo Lula"

Aku tak bisa menyembunyikan binar kebahagiaanku. Tapi, siapa sebenernya yang sudah memberinya?

"Aku Lula," Kim keluar dari balik pintu dengan membawa bucket bunga ditangannya.
Aku menutup mulutku dengan tangan. Sungguh sangat bahagia. Tapi, apa maksudnya Kim?

"Kim? "

"Yes, boneka itu mewakili perasaanku padamu Lula," ujar Kim sambil berjalan mendekatiku.

"Really?"

"Iya Lula, will you be my girl friend? "

Ah, rasanya aku ingin berteriak saat ini juga mendengar pertanyaan Kim. Dari dulu, aku sangat mengaguminya dan betapa senangnya aku saat ini harapanku terkabul.

'Gubrak! '

Aku mengelus pantatku yang mendarat dilantai, kugosok-gosok mataku. Aku mengedarkan pandanganku keseluruh ruangan.

"Hah? Bukankah Kim tadi sedang memintaku untuk menjadi pacarnya? "

"Kim. Kim. Kim. Kau mimpi hah? Cepat kau sudah telat! " eonni Uca membentakku.

Ternyata hanya hayalanku semata.

***

Drabble from mrs_akai

DrabbleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang