Ara ia memasuki tempat yang akan menjadi tempat pernikahan. Taman yang biasanya ia datangi setiap minggu disulap semakin cantik. Kain-kain putih melintang serupa sulur yang membentuk pagar menuju altar. Langkah kaki Ara dipenuhi kelopak mawar yang indah.
Ibu Ara memberikan jari-jari Ara pada David.
Ara dapat merasakan hangatnya tangan David yang meremasnya pelan. Seolah-olah David memiliki kegugupan yang sama dengan Ara. Seakan-akan David ingin memberikan kekuatan untuk si gadis.
"Saya nikahkan engkau, Zidan David Virlando bin Adam Virlando, dengan putri saya, Rafailah Inayah Ulfa binti Ferdi Yudistira dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai ..."
Ara pun semakin tersihir oleh pesona laki-laki di sampingnya, ketika David mengucapkan kalimat yang tanpa keraguan dalam suaranya.
"Saya terima nikahnya, Rafailah Inayah Ulfah binti Ferdi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"SAH"
David ia menatap Ara tajam. Pupil matanya enggan berkedip satu sekon pun dalam melihat gadis yang menjadi istrinya tepat setelah ia mengakhiri kalimatnya.
Gadis itu serupa kehilangan arah sebab netra David yang tegas menatapnya. Pandangan pria itu melelehkan Ara. Si gadis seolah menjadi satu-satunya pusat dunia David sebab melalui bola mata sang pria hanya ada Ara.
David memangkas spasi di antara mereka untuk memberikan kecupan pertama sebagai pasangan hidup. David sengaja berlama-lama menyentuh pipi Ara. Ia membelai paras si gadis sebentar. David tahu jika Ara gugup, sehingga naluri jahilnya tersulut keluar.
"Jangan mengoda ku, Dav. Sama sekali tidak lucu," ujar bibir Ara tanpa suara pada pria yang wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter tersebut. Ara tahu jika David sengaja mengulur waktu untuk membuat dirinya tak nyaman. Ara tidak suka bayangan dirinya menjadi bahan pertunjukan kerabat nya yang menyaksikan acara pernikahan ini.
"Mengoda dirimu adalah hiburan terbaikku," timpal David sebelum mencium kening Ara selama beberapa sekon.
Sang pria segera mengakhiri nya,
David kembali mencari tangan Ara untuk ia genggam.
Ara mendongak ke arah David dia mengumpat pelan karena David membuatnya gugup.
"Awas kau, David," dengus Ara pada pria yang kini telah menjadi suaminya.
.
.
.
Ara tidak henti-hentinya mengungkapkan kekaguman pada tempat yang kini dipijak oleh kakinya. Bibir gadis itu terbuka beberapa sentimeter, ia enggan menutupnya walaupun sedari tadi David berdecak. Ara merasa merasa bahagia karena bisa menginap di Villa Blue Steps, yang terletak di kota jogjakarta.
Dinding yang berhias batu alam membuat ruangan mendapatkan kesan klasik dan sederhana, fasilitasnya yang lengkap .
Pada kamar utama di dihiasi bunga dan lilin aroma terapi. Ranjang besar yang berada di tengah kamar utama memiliki kelambu putih. Semua yang ada tersebut menjadi favorit Ara.
Ara menghempaskan diri ke ranjang kamar utama yang dipenuhi kelopak mawar. Ada buket bunga besar yang berada di tengah ranjang. Gadis itu tersenyum pada David yang kini mengawasinya sembari bersandar di dekat pintu.
"Apa kau selalu bertingkah seperti anak balita, Sayang?" sindir David ketika sepasang netranya mendapati Ara yang tertawa .
"Iya, aku selalu bertingkah begini kalau kelewat senang. Apa kau benar-benar menyesal mengajakku menikah?" timpal Ara. Gadis itu berdiri membenarkan gaun hitam selututnya. Ia menggoyangkan tangan untuk mengusir David. "Sudah malam, kau lebih baik kau keluar. Aku mau tidur," kata Ara memerintah.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teacher is My Husband
Teen FictionBagai mana Rafailah Inayah Ulfah yang masih berstatus sebagai pelajar, bisa menikah dengan laki-laki bernama Zidan David Virlando, yang usianya terpaut 7 tahun lebih tua dari nya. Lelaki yang awalnya bersetatus sebagai guru magang di sekolahnya ki...
