part 7

19.7K 590 12
                                        

Awan gelap sedang menghiasi pagi ini. Koridor koridor kelas terasa sepi sekali. Mungkin karena cuaca yang sedikit dingin, membuat siapapun juga ingin kembali bergelud dengan selimut mereka.
Iya merapatkan blazernya. Ia menyesal  tidak menuruti ibunya untuk membawa jaket.

"Hahh.." cuaca hari ini memang tidak mendukungnya untuk semangat.

Dukkk

"Auhh.." Ara memegangi dahinya. Niatnya untuk berbelok menuju tangga namun karena tidak melihat orang yang turun dan berbelok kearahnya.

"Jalan pakai mata, Ara." Ara mendongak. Matanya menatap pria yang berbaju kemeja biru navy dengan dasi hitam dilehernya.

"Sejak kapan jalan harus menggunakan mata, Pak. Jalan itu mengunakan kaki." Lirih Ara menunjuk kedua kakinya.

David mengangkat sebelah alisnya, saat mendengar Ara berani membalas ucapannya.

"Shh, kau tidak minta maaf?" Ara berjalan melewati David begitu saja.

"Saya minta maaf, Pak David." Ucapnya menoleh, saat  sudah ada dianak tangga pertama. Lalu melambaikan tangan kanannya yang terangkat.

"Apa seperti itu caramu meminta maaf Ara?"  Tanya David yang tidak digubris oleh Ara.

"Dasar kekanakan." Desisnya.

.

.

.

Ara menatap heran pada Ajeng yang baru saja memasuki kelas. Gadis itu menguap lebar, sebelum menjatuhkan tubuhnya dibangku sebelah Ara.

Suara dengkuran halus adalah satu hal yang didengar oleh Ara.

"Wah benar-benar gila, dia baru saja datang sudah langsung tidur." Ara bergumam dengan ekspresi tidak percaya.

Gadis itu menggelengkan kepalanya, sebelum menepuk pundak Ajeng yang masih menampakkan tanda-tanda kesadarannya.

"Ajeng, bangunlah. Sebentar lagi guru akan datang." Dengan sedikit keras Ara membangunkan Ajeng, membuat gadis itu mengangkat kepalanya dengan malas.

"Apa bell masuk sudah berbunyi?" Suara Ajeng terdengar serak, lengkap dengan wajah kusud dan berantakan.

Ara menganggukkan kepalanya pelan. " Cepat bersihkan wajah, kau terlihat sangat kacau."

Ajeng mengambil ponsel disaku jaketnya, mengamati wajahnya yang kini mirip seperti zombie.

Ara dan putri penasaran dengan apa yang dilakukan oleh temannya satu ini, hingga bisa membuatnya begitu kacau. Bahkan dipagi hari seperti ini.

Ajeng sudah kembali dengan keadaan yang jauh lebih baik.
Gadis itu berjalan melewati beberapa orang yang menatapnya dengan heran.
Ajeng hanya mengacuhkan begitu saja. Ia kembali duduk ditempatnya, sementara putri dengan pandangan ingin tahu.

"Nyawamu sudah sepenuhnya kembali?"  Putri bertanya dengan ringgan, senyum geli bermain dibibirnya.

"Kurasa aku ingin tidur lagi." Dengusan pelan menjadi jawaban atas pernyataan tersebut.

"Apa kau bergadang semalaman?" Ara bertanya, Ajeng hanya mengangkat bahunya. Tidak membenarkan dan tidak menyalahkan. Sungguh ambigu.

"Entahlah, Ibuku tadi malam masuk rumah sakit. Dan aku hanya tidur dua jam." Jawab Ajeng. Ara langsung terhenyak kaget, matanya melebar.

"Benarkah? Lalu bagaimana keadaan ibu mu  sekarang?" Tanyanya.

Ara dan Putri ikut bersimpati dengan apa yang menginap Ajeng, membuatnya tidak bisa mengabaikan begitu saja.
Bagaimanapun, ibu Ajeng sudah seperti ibu meraka.

"Ibuku sudah baik-baik saja." Tatapan Ajeng sendu, tapi senyumnya masih terbit dibibirnya.

"Syukurlah, boleh kami menjenguk ibumu nanti." Satu anggukan menjadi jawaban  atas pertanyaannya.

Tettt

Tettt

Tett

Setelah itu bell masuk berbunyi.

"Good morning anak-anak." Guru bahasa Inggris yang cantik, berjalan anggun saat memasuki kelas.

"Morning miss"  jawab semua siswa.
.

.

.

.

"Ah membosankan sekali." Suara melengking dari sebrang sana menginterupsi  seluruh perhatian siswa.

"Kalau tau begini, aku tidak akan sekolah saja." Batin Ara.

Baru saja beberapa waktu lalu Bu Monica masuk, kini mereka kembali ditinggal  dengan beberapa tugas.

"Jika dirumah aku bisa, menikmati kasur kesayangan ku seharian." Ujar salah satu dari mereka yang langsung mendapat anggukan seisi kelas.

Kelas yang semula sepi kini ricuh tak terkendali.

"Hooii, aku punya ide!"

"Put tidak bisakah kau tidak memukuku?" Ucap Nova sambil mengelus puncak kepalanya.

" Tidak bisakah kau mengecualikan suaramu!" Ucap dingin Putri.

Ara membuka novelnya, dan menyumpal telinganya dengan earphone miliknya. Saat ini suasana sudah tidak mendukung dan sudah ia tebak, teman-temanya aku menimbulkan keributan.

Nova mengabaikan ucapan Putri, "Hey, hey bagaimana kalau kita membuat acara seperti liburan sebelum test." Nova berdiri didepan untuk menghasut teman temannya.

Rencana Nova adalah acara untuk bersenang-senang yang tidak ada hubungannya apa pun dengan mata pelajaran.
"Bagaimana? Bagaimana jika kita adalah akhir pekan besok?" Ara melirik sekilas Nova, walaupun telinganya tersumpal dengan earphone namun suara Nova masih bisa terdengar.

"Refreshing otak', itu maksudmu Nov?" Tanya Gilang yang berada dibelakang Ara.

"Hm, betul. Refreshing." Ujar Nova mantap.

"Jadi kau setuju tidak?" Sederet pendapat terdengar dari masing masing siswa. Kecuali dirinya yang masih sibuk dengan dunianya.

"YESS!! Jadi lusa besok kita akan berlibur divila." Nova kembali melangkah dengan senyum lebarnya. Begitulah yang Ara lihat.

Sedangkan dirinya yakin delapan puluh persen untuk di izinkan, oleh ayah dan kakaknya. Tapi sebenarnya masalahnya ada di kekasihnya.

Apakah David akan memberikan izin mengingat David termasuk orang yang overprotektif. Mana mungkin David akan mengizinkan dengan semudah itu, mengingat tidak ada guru yang bertanggung jawab.




.

.

.

To be continued

My Teacher is My HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang