Tidak perluh menjadi diri orang lain, cukup menjadi diri mu sendiri.
Aku tidak peduli diri mu bagaima.
Aku mohon jangan membanding kan dirimu, dengan orang lain.
Aku saja menerima mu yang seperti itu.
Lalu kenapa diri mu tidak.
▫▫▫▫▫▫▫☁☁☁▫▫▫▫▫▫▫▫
Di dalam rumah, Ara melihat beberapa beberapa orang yang sedang berkumpul dan melakukan halnya masing-masing. Harry yang sibuk dengan ponsel nya, Fahmi yang sedang duduk di sofa dan memakan cemilan.
"Tumben sekali kau kesini siang hari? Tidak sekolah?", tanya Fahmi.
Ara menjawab singkat, "Baru saja pulang, Kak. Aku hanya ada keperluan dengan orang itu", ucapnya sambil mendelikkan matanya kearah David yang sedang menutup pintu . Fahmi mengangguk paham, " Baiklah, selesaikan urusanmu".
Ara mengangguk dan menatap kepergian Fahmi yang beranjak menuju dapur. Ara melongokkan kepala, mengecek keadaan di ruang tengah.
Tidak bisa, terlalu ramai!! Tak memungkinkan untuk memberitahu David mengenai hal ini.
Hingga akhirnya mata Ara berhenti di sebuah tempat yang menurutnya sangat strategis dan tersembunyi, yaitu di...
"Cepat masuk!", Ara langsung menarik tangan David yang baru tiba disampingnya untuk masuk ke dalam kamar milik Fahmi (juga kamar David) yang pintunya sempat terbuka. David yang masih bingung dengan apa yang terjadi, hanya bisa mengikuti arahan istrinya itu.
"Ya ya ya, mau apa kau?", David mulai curiga saat Ara mengunci pintu kamarnya dan menatapnya dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan. Ara menaruh tasnya dan melepaskan jaket yang sedang dikenakannya, membuat David makin membelalakkan matanya, "Hei, kau! Apa yang akan kau lakukan?", cegah David dengan ekspresi panik.
''Hentikan~akan ada waktunya bagi kita untuk melakukan hal itu! Jangan sekarang!!", David menyelimuti dadanya dengan selimut di kasurnya , merasa keperjakaannya terancam.
Ara mengernyitkan dahi, 'Maksudmu? Aku hanya kepanasan! Aishh, kamarmu pengap sekali", keluhnya dan langsung duduk menyandar ke pintu sambil mengipas wajahnya dengan selembar kertas di tangannya. David menganga lebar, "Kepanasan? Jadi bukan karena...", ucapnya ragu.
" Kenapa? Kau memikirkan hal 'itu'? Aish, aku tidak melakukannya denganmu sebelum Aku lulus", jawab Ara santai sambil mengacak isi tasnya untuk mengambil sesuatu. David merasakan wajahnya memanas karena maksudnya ketahuan, memang tak ada gadis lain yang membuatnya speechless selain Ara.
"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?", ucap David dengan agak kesal. Ara mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada David, "Ajarkan aku matematika".
David memperhatikan kertas itu dan beberapa detik kemudian,
"Kau lebih bodoh dari keledai", ucap David singkat dan membuat Ara agak sangsi bahwa pria dihadapannya ini adalah David yang dikenalnya. Awalnya Ara berfikir bahwa David akan mengejeknya habis-habisan dan menertawakannya tanpa henti, tapi ternyata dia hanya mengatakan 1 kata yang *memang* agak menyakitkan (-..-)
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teacher is My Husband
Teen FictionBagai mana Rafailah Inayah Ulfah yang masih berstatus sebagai pelajar, bisa menikah dengan laki-laki bernama Zidan David Virlando, yang usianya terpaut 7 tahun lebih tua dari nya. Lelaki yang awalnya bersetatus sebagai guru magang di sekolahnya ki...
