Part 47

6.3K 151 26
                                        

.
.
.

Suara benturan jari-jari David terhadap keyboard dari mesin berbentuk kotak bewarna putih itu menjadi latar perbincangan malam mereka. Hanya sekedar obrolan basa-basi sebelum agenda tidur yang dilakoni David dan wanita yang menemani hidupnya, Ara.

Ara sudah bergelung di selimut tebal biru navy. Sedangkan David berada di sampingnya terduduk dan memangku laptop dengan wajah super serius. Tangan kanan pria itu mengetik dengan cepat, tangan kirinya membelai surai Ara. Well, kebiasaan wanitanya tidak bisa tidur jika belum menerima ‘sentuhan’ David.

Pria itu tahu jika Ara adalah replika dari anak perempuan umur lima tahun yang terjebak dalam tubuh berusia 19 tahun. Perilaku manja Ara saat menjelang tidur selalu membuat David kesal, menghela napas panjang, gemas, dan sayang. Misalnya saja sekarang, Ara menatap David lamat-lamat. Kelopak mata Ara berkedip-kedip penuh perhatian, seakan kepala David ada sesuatu yang bernilai tinggi.

Sudahlah, lama-lama juga tidur. Batin David sembari meneruskan pekerjaannya.

"Sayang," cicit Ara

"Hm," David bergumam sebagai jawaban.

"Kira-kira Kak Adam akan marah padaku atau tidak ya?" tanya Ara sembari menyibak selimutnya.

David mengernyit. "Entahlah," ujarnya tanpa berpikir.

Ara merubah posisi menjadi terlentang. "Aku harap kak Adam tidak akan marah…. Apa menurutmu hubungan mereka akan membaik?" wanita itu bergumam penuh keraguan. "Atau malahan mereka benar-benar berakhir?" lanjut Ara

David tak memberikan tanggapan. Sudah biasa mendengar topik tidak penting yang digelontorkan David. Pemikiran wanitanya itu luar biasa, bahkan David curiga jika perhatikan dan kepolosan istrinya itu nantinya akan tercecer karena tubuh mungil istrinya tidak mampu menampung lagi.

"Sayang," rengek Ara, kali ini sambil menarik ujung piama motif kotak-kotak milik David.

Pria itu mengambil napas kasar. Ia menghentikan kegiatannya kemudian menunduk untuk mengecup kening Ara. "Kau Segera, tidur, ya?" pinta David lembut.

Ara menggeleng. "Tapikan itu mungkin-"

"-Ayolah Ara ini sudah tengah malam, tidak sepatutnya kita membahas sesuatu yang bukan menjadi urusan kita,"potong David sembari mengecup kedua kelopak mata Ara. Secara otomatis netra wanita itu terpejam.

"Benar ini sudah tengah malam. Kamu juga harus tidur," ujar wanita itu enggan mengalah.

"Aku tidur tapi nanti," balas David tepat di bibir wanitanya. Pria itu memberikan kecupan agak lama di sana.

David segera melepas tautan bibir mereka sebelum masuk pada kegiatan yang ‘tidak-tidak’. Pekerjaannya lebih butuh perhatian daripada keinginan pria itu untuk melakukan aktivitas malam favoritnya.

Dengan pipi bersemu merah karena kecupan David, Ara kembali menyelimuti tubuhnya. "Aku manja sekali. Sedikit-sedikit butuh bantuanmu, bahkan untuk tidur pun juga masih menyusahkan," racau Ara, matanya tertutup rapat.

"Sayang, tidurlah," David mengingatkan Ara.

"Baiklah aku akan tidur. Pada dasarnya hubungan kita ini bertahan karena kamu tidak bisa menolak keinginanku. Masalahnya aku tidak tahu kapan kamu bosan pada aku dan pada akhirnya tidak lagi menggubris diriku lagi," Ara bergumam.

Baiklah, Ara sayang. Aku menyerah. Seloroh David dalam hati. Jarinya mulai bergerak lincah untuk mematikan laptop nya. Paling tidak David harus bisa menidurkan istri tercintanya terlebih dahulu, kemudian membuka filenya dan mengerjakan pekerjaannya lagi.

"Saatnya kita tidur," kata David sembari meletakkan laptopnya pada meja kecil di samping ranjang.

Pria itu merebahkan diri, merentangkan tangannya. "Kemarilah, biar kamu cepat tidur." David menarik wanitanya ke dalam pelukan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 18, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Teacher is My HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang