Saat aku menerima tawaran mu, untuk menjadi bagia dari hidup mu.
Dan tampa kau sadari sejak awal, aku menyerahkan tubuh dan hatiku dengan sukarela untuk kau ikat.
Entah bagai mana akhir nya nanti .
Jika ada wanita mampu melonggarkan ikatanmu padaku, aku tak masalah- hanya jangan sampai kau lepaskan aku.
_
___________________________________
"Tepat hari ini, aku.... , Zidan David Virlando ingin melamar Rafailah Inayah Ulfah untuk menjadi istriku. Untuk menjadi seseorang yang pertama kali aku lihat setelah membuka mata saat pagi menjelang dan yang terakhir kali aku lihat sebelum aku menutup mata saat malam datang. Untuk menjadi calon ibu yang nantinya akan melahirkan anak-anak ku kelak untukku. Untuk menjadi seseorang yang akan menua dalam hidupnya bersamaku. Untuk menjadi seseorang yang akan mendampingiku sebagai seorang Nyonya David."
"Jadi... kau, Ara, bersediakah menerima lamaranku ini, hmm?"
Perkataan yang diucapkan oleh David dengan nada tegas dan mantap itu, kini sukses membuat Ara benar-benar terperangah kaget.
Tubuh gadis itu menegang kaku. Seolah-olah sistem saraf pusatnya tiba-tiba menjadi rusak dalam sekejap. Seolah-olah ia tidak bisa merasakan lagi detak jantungnya yang seperti terhenti dalam sesaat. Seolah-olah ia tidak bisa bernafas dengan benar dan seharusnya dalam sejenak. Namun, bagaikan terhipnotis oleh mata pemuda di hadapannya kini, tanpa sadar gadis itu pun menggerakkan bibirnya dan menjawab, "Aku bersedia, David."
Sang pemuda tersebut tidak mampu menyembunyikan raut kebahagiaan di wajah-nya ketika mendengar jawaban yang dilontarkan gadisnya itu. Ia pun kemudian melanjutkan ucapannya, "jadi bisakah kita menikah secepatnya. Dalam berberapa minggu lagi, aku hanya ingin mengikatmu dalam hubungan yang serius.
Karena sekitar dua bulan lagi, aku akan pindah dan sudah tidak mengajar di sekolahmu lagi."
Belum hilang keterkejutan Ara dengan ucapan David sebelumnya, gadis itu justru kini kembali mendengar rentetan kalimat yang membuatnya semakin terperangah kaget.
"Ta-ta.."
"Kali ini saja, aku mohon. Karena hanya dengan ini aku akan tenang" potong David tanpa menghiraukan suara serak yang dikeluarkan Ara tadi. Seringainya semakin kentara terlukis di bibirnya. "Kita akan menikah dengan sederhana, dengan aku yang mengucap kan ijab qobul, dengan ayah mu yang akan menjadi wali nya"
Kini kedua bibir Ara sampai terbuka membentuk lingkaran kecil ketika David selesai menyampaikan kalimat tadi. Dipandangnya sosok pemuda tepat di manik mata-nya. Mencari sorot canda di kedua iris sang pemuda itu. Tapi nihil.
"Ka-kau yakin, David?" tanya Ara kemudian dengan suara lirih. Nyaris tidak terdengar.
David mengangguk dan menyeringai puas, "Belum pernah seyakin ini."
"Ta-tapi bukankah aku masih sekolah? Dan a-aku juga baru berumur delapan belas tahun."
Mendengar nada ragu dari gadisnya itu, David langsung tersenyum tipis sembari mengangkat kedua alisnya.
"Tidak masalah. Kita bisa menikah diam-diam tanpa diketahui pihak sekolah kita. Tapi, mungkin hanya orang-orang terdekat saja yang akan tahu. Dan… tentang umurmu, bukankan sudah delapan belas tahun, hmm? Itu berarti kau memang sudah boleh menikah, 'kan?"
"La-lalu bagaimana dengan orang tua kita ? Apa mereka bisa menerima jika secepat itu?" kejar Ara lagi.
"Pasti, Sayang. Lagipula ini juga niat baik , bukan?
Aku juga sudah mendapatkan restu dari Ayahmu.
Jadi, sebenarnya sama saja menikah dalam waktu dekat ataupun lama," sahut David dengan nada tenang. Diusapnya puncak kepala Ara dengan lembut. Mencoba menghilangkan keresahan yang ada di raut wajah sang gadis dihadapan nya itu. Kemudian ia memeluk Ara dalam kedua lingkar lengannya.
"Kau sendiri… pasti setuju, 'kan?"
Araa pun langsung mengangguk. Sepasang bibirnya kini tersenyum cerah sembari membalas pelukan David. Semburat merah tentu masih setia menjalar halus di wajahnya. Namun, ia tidak bisa untuk tidak menampakkan ekspresi tertarik dan senangnya akan saran kekasihnya tersebut.
-oOo-
Hidup Ara berubah dalam dua minggu. Ia sempat disibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang selama ini hanya dapat dirinya bayangkan. Kini ia harus pening sebab harus mempersiapkan pernikahannya .
Ara sampai lelah menolak berbagai macam hal-hal mewah yang ditawarkan orang tuanya, juga orang tua dari David. Mereka memberikan sesuatu yang berlebihan, Ara memahami apabila orang tua pasti menginginkan semua yang terbaik untuk anaknya―tapi Ara mendambakan kesederhanaan.
Ara berharap apabila pernikahannya nanti dilaksanakan dengan sederhana. Ara ingin hanya orang-orang terdekat yang menyaksikan upacara pernikahan mereka. Tak luput dari salah satu daftar harapan si gadis ialah gaun pernikahan putih polos tanpa apa pun yang berkilauan. Untungnya, David cuek saja dan tidak mempermasalahkan hal itu. Pria itu menyetujui semua yang dipilih oleh Ara―si gadisnya.
Perdebatan panjang pun tidak luput dari perhatian Ara dan David. Mereka membicarakan semua kemungkinan yang dapat terjadi. Salah satunya ialah mengenai tidak akan tidur bersama sebelum Ara lulus.
"Aku bisa saja setuju, tapi atas syarat dan ketentuan yang berlaku," kata Ara sembari berkacak pinggang. Gadis itu terlihat lucu dengan ekspresinya yang cemberut sementara tubuhnya terbalut gaun pengantin. Ia melotot karena David tak kunjung menjawab. Lawan bicaranya tersebut malah sibuk memakai tuksedo putih yang sebentar lagi digunakannya untuk menikah. "Kau harus menyetujui syarat yang kuajukan, David!"seru Ara kesal. Gadis itu menghela napas berusaha sabar menghadapi pria yang dalam tiga puluh menit lagi akan menjadi pendamping hidupnya.
"Kalau aku tidak setuju, memangnya kau bisa kabur dari upacara pernikahan," celetuk David.
"Kau tidak boleh meniduri wanita lain selama aku belum lulus," ujar Ara.
David menjungkitkan alis, ia tak menyangka jika gadis muda yang kini berdiri di hadapannya akan mengatakan hal tersebut. Ia menarik ujung bibirnya membentuk seringai jahil. "Terserah aku, ini tubuhku. Kau tidak bisa mengatur dengan siapa aku menghabiskan malam," jawabnya datar. David membalikkan tubuh membelakangi Ara ketika pria lain yang dikenalinya sebagai calon kakak ipar masuk ke ruang tunggu pengantin pria tersebut.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana, Ara. Kau malah di sini. Apa kau benar-benar tidak tahan berjauhan dengan Calon Adik Ipar ku sebentar saja? Toh, kalian akan hidup bersama nantinya," keluh Faris. "Katanya tadi kau hanya ingin ke toilet , tapi dirimu berlari ke sini saat tahu David sedang bersiap," Faris melanjutkan omelan.
"Aku tidak kemari untuk menemui si berengsek ini," geram Ara. Mood gadis itu langsung memburuk ketika mendengar ucapan David. Ia merasa sangat cemburu pada entah gadis mana yang mungkin mendapatkan si pria.
David tertawa. Pria yang hari ini jauh lebih tampan tersebut mendekati Ara. Ia menepuk surai Ara yang terurai panjang serta terpasang tiara. David sengaja menunduk agar bibirnya dapat sejajar dengan indra pendengar calon istrinya. "Setelah aku, mengucapkan ijab qobul maka aku adalah milikmu, kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Termasuk menyimpan diriku sendiri untukmu," bisik David kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Ara yang merona.
To be continue
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teacher is My Husband
Roman pour AdolescentsBagai mana Rafailah Inayah Ulfah yang masih berstatus sebagai pelajar, bisa menikah dengan laki-laki bernama Zidan David Virlando, yang usianya terpaut 7 tahun lebih tua dari nya. Lelaki yang awalnya bersetatus sebagai guru magang di sekolahnya ki...
