part 5

23.3K 719 9
                                        


Ara berteriak dari balik selimut yang membungkusnya. Faris semakin tidak sabaran untuk megedoran pintu kamar adiknya.

"Ara... Cepatlah bangun." Disusul dengan suraay Faris yang tak kalah keras.

Ara menyesali keputusannya kali ini, untuk menginap di apartemen kakaknya. Dengan wajah merenggut, gadis itu melompat dari ranjangnya yang hangat dan nyaman. Piyama tidurnya nampak berantakan, begitupun dengan wajah yang masih terlihat kusam.

Ara membuka pintu kamarnya, mendapati keadaan kakaknya yang kontras denganya. Nyalinya langsung menciut, melihat Faris yang sudah rapi dengan pakainya. Berbanding terbalik dengannya yang berantakan.

Faris menghela nafas melihat penampilan adiknya kesayangannya itu, tapi tersenyum kecil yang jarang ia perlihatkan. Kecuali dengan keluarga dan orang terdekatnya, keluar begitu saja.

"Dasar bacah, cepat mandi sana." Alih-alih mengucapkan selamat pagi, lelaki itu malah mengusap kepala Ara gemas, membuat rambut adiknya semakin berantakan.

Ara yang merasa tidak terima dengan panggilian yang ditunjukkan padanya.
Well, ia memang tidak suka jika ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan bocah. Walaupun menurut Faris, adiknya itu akan selalu menjadi bocah kecil dimatanya.

Ara kembali menutup pintu kamarnya, hanya untuk mengindari olokan dari kakak lelakinya itu.

Ara memang memutuskan untuk menginap di apartemen kakaknya, mengingat orang tua mereka yang sedang berpergian keluar kota.

Apartemen dengan 30 lantai yang berada dipusat kota, inilah yang menjadi tempat tinggal kakaknya, tapi bukan itu intinya, alasan kakaknya memilih tinggal disini. Alasan terbesarnya adalah karena apartemen ini memiliki balkon luar yang menghadap langsung pada pemandangan dibawa sana, meskipun dilapisi kaca besar sebagai pembatas.

Tidak heran kakaknya memilih untuk tinggal di lantai 25, ia dan kakaknya memang memiliki selera yang sama, mereka sama-sama menyukai hal klasik seperti melihat matahari tenggelam.

.

.

.

Ara mengoleskan Liptin merah sebagai sentuhan terakhir polesannya.
Sama seperti yang sering ia lakukan, tak ada polesan berlebihan diwajahnya mengingat dirinya yang masih tergolong remaja.

Ara keluar dari kamarnya dengan keadaan yang lebih baik, Blouse putih berlengan panjang, serta rok pendek yang tingginya diatas lutut.

Faris sedang menikmati sarapannya, ketika Ara menarik kursi di hadapannya. Lelaki itu nampak fokus dengan layar ipad dihadapannya, sebelum mengalikan pasangannya pada adiknya.

Satu sentum tipis nampak dibibir Faris, Faris Abram Putra adalah tipe orang yang serius dan sedikit dingin. Tapi kepribadiannya akan berubah menjadi hangat jika berhubungan dengan orang  yang disayanginya.

"Siapa yang mengajarimu berdandan seperti itu?" Komentar pertama Faris setelah  meletakkan ipadnya.

Ara menyeringai sedikit, mengalikan fokusnya.
"Kakak, kau lupa kita tinggal di negara seperti apa?" Katanya dengan senyum geli.

Faris menggelengkan kepalanya, kembali mengambil Ipad-nya.

"Apa kau sudah menelpon ayah dan ibu??" Ara terdiam sejenak, sebelum menggelengkan kepalanya pelan.

Ia tak berani menatap kakaknya, yang ia yakini sekarang sedang menghela nafas dengan begitu dalam.

"Ara." Suara panggilan dari Faris membuatnya kembali mengankat kepalanya, menatap kakaknya kembali.

Faris adalah orang  orangan tersabar sebelum David yang bisa menghadapi tingkah kekanak-kanakannya sejak mereka kecil.

Faris mberikan senyum kecil yang menyakinkan.

"Aku akan menelpon mereka nanti." Ucap Ara ringan.

to be continued

.
.
.
.
.
.
.
.

Haiii gi mana, kecewa ngak sama cerita nya.
Semoga tidak.. Dan jangan lupa vote dan comen nya insyaallah saya terima kritik dan saran dari kalian. Karena semua itu akan sangat bermanfaat bagi saya...

My Teacher is My HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang