part 34

7.8K 204 3
                                        

"Sepertinya hidupmu jauh lebih baik setelah suamimu pergi?"

Ara tersenyum semakin lebar setelah menyimpan ponselnya. Puas membuat suaminya kalang kabut karena dia tidak menjawab panggilan dan pesan dari pria itu sejak semalam.

"Tentu saja. Aku puas menghabiskan waktu untuk menonton drama, memuja pria-pria tampan itu tanpa takut harus cek-cok dengannya." jawab gadis itu tanpa dosa.

"Kau semakin menghkhawatirkan. Ah, bagaimana dengan ujianmu? Kau benar-benar akan lulus beberapa bulan lagi ya?"

"Kenapa? Kau seharusnya juga berusaha keras agar kita bisa lulus bersama. Setelah itu kita bisa mencari pekerjaan bersama. Ah," Ara melirik Andi, bertopang dagu. "Kau bahkan sudah memiliki pekerjaan sekarang. Aku jadi bingung apa yang akan aku lakukan setelah lulus?"

"Membuatkan ponakan untuk ku" celetuk Andi polos.

Ara menatap jengah. "Lupakan saja. Aku  masih ingin bekerja dan melakukan hal lainnya. Aishh, bicara denganmu justru semakin membuatku pening!"

"Kenapa dengan dia itu?" Andi menatap bingung sahabatnya yang pergi begitu saja. Sibuk dengan murid-murid yang baru saja datang.

===ooo===

07:30 pm

"Kemana dia itu? Tiga hari tidak ada kabar. Jika sampai panggilanku kali ini tidak di jawab, lihat saja apa yang akan aku lakukan!"

David menggerutu sejak pagi. Febuary pertengahan, musim penghujan sudah menyapa. Dan sudah tiga hari Istrinya tidak menjawab panggilannya atau pun pesan darinya. Tiga hari. Apa gadis itu mulai lupa jika dirinya masih hidup?

"Ya, Ada apa?"

"Kemana saja kau tiga hari ini? Kenapa baru menjawab pangilanku? Apa kau sibuk dengan pria-pria itu? Atau-"

"Aku sengaja. Seperti dugaanku, kau pasti akan uring-uringan. Lega rasanya mendengarmu mengomel seperti ini."

Kening David mengerut bingung. Kenapa istrinya justru tergelak pelan di seberang sana? "Kenapa kau terdengar begitu bahagia? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?"

"Jika boleh jujur, aku rindu omelanmu. Aku sengaja membuatmu marah dan uring-uringan."

David tersenyum tipis. Kelakuan istrinya memang tidak bisa di prediksi. "Jadi sekarang kau sedang merindukanku?"

"Apa bulan depan kau bisa pulang? Jika itu tidak mengganggu jadwalmu."

Bulan depan. Maret. Gadis itu akan ujian. "Eum.. aku usahakan."

"Kau tidak bekerja?"

"Aku berniat melarikan diri dari sini jika kau tidak menjawab panggilanku. Tapi sepertinya aku masih harus rela menunggu sedikit lagi. Aku belum bisa meninggalkan pekerjaanku."

"Aku mengerti. Kalau begitu selamat bekerja."

"Jangan lupa menjaga kesehatan mu, istirahatlah.." David melirik layar ponselnya. Sambungan sudah terputus. Gadis itu pasti kecewa padanya. "Maaf, Ara. Secepatnya aku akan menyelesaikan pekerjaan agar bisa pulang menengokmu."

===ooo===

10 Maret, 08:30 AM

"Sayang, kau sudah menelpon David?"

Ferdi menoleh dari kopi yang baru saja diminumnya. Menatap istrinya dengan kening mengerut. "Belum. Kenapa?"

" Sebentar lagi Ara ujian, apa dia tidak berniat datang kemari"

My Teacher is My HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang