Keyra terbangun dari tidurnya. Sejenak dia memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing. Rasa pusing itu pasti karena semalaman dia bergadang.
Rayen!
Keyra seketika menegakkan tubuhnya. Dia menoleh ke samping di mana tempat itu kosong. Tak ada Rayen di sebelahnya. Mereka baru saja bercinta, itu nyata. Bahkan Keyra masih dengan tubuh polosnya di bawah selimut tipis. Juga ada rasa nyeri di keintimannya lantaran semalam mereka terlalu kasar saat bermain.
"Rayen..." Panggil Keyra.
Tak ada sahutan. Suaranya sendirilah yang terdengar. Keyra mencengkram selimut, jantungnya terasa sesak. Dia mencoba tetap berpikir positif.
"Rayen..." Panggil Keyra sekali lagi.
Tetap tak ada sahutan.
Seketika Keyra melompat dari tempat tidur. Dengan berbelitkan selimut, dia memutari segala ruangan di apartemen itu untuk mencari Rayen.
"Rayen!!" Jerit Keyra.
Keyra semakin kalut. Dia membuka lemari pakaian Rayen dan ternyata isinya kosong. Kaki Keyra langsung melemah, dia terduduk di depan lemari dengan air mata yang mengalir pilu.
"Kamu pergi, Rayen?" Lirihnya.
Mata Keyra menemukan sebuah mawar merah. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Keyra, melainkan kertas di bawahnya. Keyra berdiri, dia berjalan lemah mendekati mawar tersebut. Benar dugaannya, Rayen meninggalkan pesan pada kertas itu.
Dear Keyra...
Maaf, aku pergi tanpa membangunkan kamu lagi. Aku takut, kalau kamu bangun kamu pasti bakalan cegah aku untuk pergi, sementara aku harus tetap pergi.
Maafin aku Keyra...
Jika takdir nggak membuat kita bertemu lagi, maka lanjutkan hidup kamu. Jangan bodoh, jalani semuanya sama seperti semula saat kita belum bertemu.
Jaga diri kamu baik-baik.
Rayen.
"Egois kamu, Rayen!!!" Teriak Keyra sambil meremas kertas itu dan melemparnya ke depan. Keyra menangis begitu keras. Dia meringkuk di lantai, memukul lantai marmer itu berulangkali.
"Egois... Kamu egois..." Lirihnya dalam tangis.
Keyra menekan dadanya, sesekali dia memukulnya dengan keras. Rasanya begitu sesak, ada yang menekan hatinya. Sebuah perasaan kehilangan yang begitu hebat.
Sebuah figura yang memajang foto kebersamaannya dengan Rayen, diletakkan dengan manis di atas nakas. Foto itu diambil saat dia dan Rayen mengunjungi SeaWorld untuk pertama kalinya. Latar belakangnya adalah sebuah ikan besar, dengan mereka berdua yang berpura-pura ketakutan seakan ikan tersebut akan memakan mereka. Keyra meraih figura itu, menatapnya begitu lama.
"Rayeeeeeennnn!!!"
PRANG!
Figura berwarna hitam itu langsung pecah berantakan setelah terkena tembok.
( -_・) ︻デ═一 ▸
Keyra kembali ke rumahnya. Dia disambut oleh Triva yang begitu cemas karena kondisinya yang terlihat sangat kacau. Wajah murung, rambut berantakan, pakaian kusut, bahkan saat turun dari mobil Keyra tak mengenakan alas kaki. Keyra berjalan lemah masuk ke dalam rumahnya.
"Keyra, kamu kenapa, Nak? Ada apa sayang?" Tanya Triva.
Keyra langsung memeluk mamanya itu. Dia kembali menangis. Lelah rasanya mengeluarkan air mata yang justru makin menyiksa relung hati. Tapi hanya dengan cara itu Keyra bisa menumpahkan segalanya.
"Sayang... Kamu kenapa?" Ulang Triva, semakin cemas saja.
"Rayen pergi, Ma. Rayen pergi..." Lirih Keyra.
"Pergi kemana? Kamu dari mana emang semalem?"
Keyra tak menjawab, melainkan semakin menangis. Isakan tangisannya terdengar begitu menyayat, hingga semua yang ada di rumah berdatangan untuk melihat keadaannya.
Aila yang masih di rumah Keyra, cuma bisa diam meski dia tau permasalahannya apa. Dia tak mau lancang berbicara, jika Keyra saja belum siap menceritakannya pada keluarganya.
"Lo diapain sama Kak Rayen? Kasih tau gue!" Kaival menyentak tubuh Keyra untuk berhadapan dengannya. Meski hanya seorang adik, peran Kaival dalam melindungi keluarganya juga patut diacungi jempol.
"Kaival," Triva menggeleng, memberikan kode agar anak lelakinya itu jangan memaksa.
"Ma, Kak Keyra nggak pernah kacau kayak gini. Kaival nggak bisa terima kalau ada yang nyakitin dia," ujar Kaival tegas.
"Nggak ada yang nyakitin gue, Kaival! Justru gue yang nyakitin dia!!" Bentak Keyra. Kemudian Keyra berlari naik ke kamarnya, meninggalkan semua pertanyaan yang belum terjawab.
"Tante, biar Aila yang nemenin Keyra. Tante tenang aja, Keyra akan baik-baik aja," ujar Aila meminta izin.
"Iya Aila, tolong temenin Keyra. Tanyain semuanya, mungkin kalo sama kamu dia akan lebih terbuka," minta Triva.
"Iya Tante," Aila sempat melirik Kaival sekilas, lalu dia segera naik ke atas.
"Kaival, udah kamu berangkat kuliah aja. Urusan di rumah ini biar Mama yang urus. Juga ada Aila, kamu nggak usah cemas."
Kaival mengangguk. Dia mengalami tangan Triva, lalu mengucapkan salam dan keluar dari rumah.
Triva menatap ke pintu kamar Keyra yang tertutup. Hatinya begitu cemas, putrinya itu tak pernah seperti itu selama ini.
( -_・) ︻デ═一 ▸
"Key, ada apa? Kenapa Lo kayak gini?" Tanya Aila membujuk.
"Rayen, Ai... Dia... Dia pergi," lirih Keyra.
"Pergi kemana?"
"Area konflik."
Mata Aila membesar. Tanpa perlu Keyra jelaskan, Aila sadar betul kondisi macam apa yang sedang Keyra hadapi saat ini. Area konflik bukanlah tempat yang menjanjikan kepulangan, hanya ada kematian untuk setiap relawan yang berjuang di sana.
"Dia ninggalin gue..." Keyra kembali terisak.
Aila memeluk Keyra. Dia tak bisa bicara apapun lagi, semuanya sudah selesai. Rayen ternyata begitu marah Sampai memutuskan untuk pergi sejauh itu.
"Gue harus gimana, Ai? Demi Tuhan gue cinta banget sama dia. Gue nggak bisa kehilangan dia," rengek Keyra.
"Cuma ada satu cara, Key," kata Aila dengan wajah datar.
Keyra melepaskan pelukan dan menatap Aila dengan serius. "Apa?" Tanyanya.
"Lepas atau bawa dia pulang." Aila turut menatap Keyra.
Keyra tak bersuara lagi. Otaknya sedang memilih, pilihan yang sama-sama sulit.
Aila mengangguk, meyakinkan Keyra.
( -_・) ︻デ═一 ▸
Rayennnnnn😢😢
KAMU SEDANG MEMBACA
SECRET AGENT (Tamat)
RomanceKeyra, dia memutuskan untuk menjadi seorang Agent Rahasia. Dia bergabung dalam detektif swasta yang hampir bangkrut bernama Secret Agent. Demi mempertahankan Secret Agent, Keyra dan Team akhirnya setuju untuk ikut memecahkan kasus bullying yang ada...
