Cukup saling setia dan jaga hati
Bulan menatap ponselnya dengan gusar. Berkali-kali dia mengecek ponselny. a, berharap orang yang sedang dia tunggu menelpon.
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya." lo gak mau bareng? ". Tanya Nada sambil menatapnya cemas.
Bulan tersenyum. "gak usah, Nad. makasih udah nawarin. Gue mau nungguin abang gue aja. Dia udah janji mau jemput". Jawab Bulan membuat wajah cemas Nada menghilang.
"oke. Tapi kalo lo masih belom dijemput juga sampe sore. Lo telpon gue aja".
Bulan hanya tersenyum lalu mengangguk. Nada berlalu meninggalkan Bulan yang masih menunggu Arkan di halte bus dekat sekolah.
Sebuah pesan tiba-tiba masuk kedalam ponselnya.
Abang Arkan ganteng:
Dek, maafin gue ya. Gue gak bisa jemput lo. Gue lembur di kantor. Tapi gue udah telepon anak tante Anita buat bareng lo. Lo gue titip dulu dirumah tante Anita. Nanti kalo gue udah pulang dari lembur. Gue jemput di rumah tante Anita.
Bulan mendecak kesal. Dia membalas pesan sang kakak.
Bulan Angkasa:
Abang, kok tega sih sama Bulan. Nanti Bulan jadi kambing conge di rumah tante Anita.
Tak berapa lama, balasan dari bang Arkan terdengar membuat ponsel Bulan bergetar.
Abang Arkan ganteng:
Cuma sehari kok, dek. Nanti pas abang jemput abang bawain pizza dua loyang gimana?
Bulan mendesah kecewa. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa egois. Karna bang Arkan bekerja juga untuk dirinya.
Bulan Angkasa:
Oke, tapi cuma sehari ya.
Bulan melihat ke sekitarnya dan tidak menemukan satu orang pun didekatnya. Dia menghela napas lalu memasang earphone pada kedua telinganya dan memejamkan matanya serta menyenderkan tubuhnya pada bangku halte.
Matahari mulai beranjak ke ufuk barat. Semburat jingga itu mulai muncul di langit. Mewarnai langit menjadi lebih indah. Sebuah tepukan di bahu lagi - lagi mengagetkan Bulan.
Dia menoleh dan menemukan Ari yang memakai jaket Alexas warna hitam dengan lambang burung elang jawa yang sedang menengok ke arah kiri persis seperti burung garuda, sedang berdiri disampingnya dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celananya.
Sok cool, batin Bulan.
" sorry, lo pasti udah lama nunggu tadi gue abis rapat sama anak Alexas". Ujar Ari menjelaskan keterlambatannya.
Bulan melepas earphone dari kedua telinga nya. Dia melirik arlojinya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Anjirrr, gue nungguin si pantat panci 2 jam.
"gak papa. Jadi, gue pulang ke rumah lo? ". Tanya Bulan canggung.
Pasalnya, sejak pagi tadi ia dan Ari sudah bertengkar dan sekarang ia akan tinggal sementara waktu di rumah cowok itu.
Ari mengangguk. Dia menggenggam tangan kanan Bulan lalu menariknya menuju motor ninja hitam hijau nya yang berada didepan mereka.
Bulan yang mendapat tarikan dari Ari langsung terlonjak kaget. Jantungnya berpacu cepat.
Dasar ogeb, main tarik-tarik aja. Emang gue kambing.
Ari naik ke atas motor ninja nya dan memakai helm nya. Dia memberikan sebuah helm cadangan pada Bulan. Bulan menanggapinya lalu memakainya.
Dia kemudian naik ke atas motor ninja hitam hijau milik Ari. Ari menstater motornya.
"pegangan! ". Teriaknya pada Bulan.
"gak!". Jawab Bulan cepat.
"terserah, soalnya gue kalo bawa motor ngebut". Ari menaikkan koplingannya lalu mengendarainya cepat menuju rumahnya.
Karena Ari yang membawa motornya ngebut membuat Bulan terpaksa berpegangan erat pada jaket Alexas milik Ari.
Dasar ngambil kesempatan dalam kesempitan.
Mereka akhirnya tiba disebuah cluster perumahan yang bertuliskan ovida penthouse. Bulan melihat sekeliling. Ternyata rumah Ari itu bergaya penthouse, bisa dilihat dari jejeran rumah - rumah penthouse yang mengelilingi perumahan ini.
Ari menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang berwarna cokelat susu dengan gradasi putih. Ari mengklakson motornya. Seorang satpam dengan cepat membukakan gerbang mewah di hadapan mereka.
Ari memasukkan motornya ke wilayah carport. Ia mematikan mesin motornya dan melepas helmnya. Bulan melakukan hal yang sama dengan Ari. Dia mengikuti langkah Ari yang memasuki teras rumahnya.
Ari membuka pintu utama rumahnya. "Ari pulang! ". Sedetik, dua detik, tiga detik. Tetap tak ada sahutan sama sekali.
Ari menghela napas. Dia berbalik menatap Bulan. "kamar tamu dideket tangga. Kalo lo butuh apa-apa panggil bi Nani aja. Dia kepala asisten rumah tangga gue".
Entah apa yang mempengaruhi Bulan. Dia mengangguk patuh seperti seekor hewan peliharaan terhadap majikannya saat mendengar suara Ari.
Setelah memberi tau Bulan. Ari naik ke lantai atas menuju kamarnya. Bulan mengerjapkan matanya guna memgumpulkan seluruh kesadarannya.
Bulan berjalan menuju kamar yang di maksud. Namun, tak sengaja dia menabrak seseorang.
"aduh.., maaf ya. Tadi saya gak ngeliat". Bulan membantu wanita yang seperti berumur 25 tahun itu untuk berdiri.
"ehh..., i-iya. ya non Bulan". Jawab Wanita itu.
"lho, kok kamu tau nama saya? ". Tanya Bulan heran.
"ohh.., tadi den Ata yang bilangin ke saya non, saya Rinani tapi sering dipanggil sama den Ata bi Nani".
" den Ata? ". Bulan mengernyit heran.
" ehh.., maksudnya den Ari, non Bulan". Jawab Nani gelagapan.
Bulan tersenyum. "udah, panggil Bulan aja. Di rumah, ART manggilnya juga Bulan".
Nani tersenyum dan mengangguk. " non, eh.., Bulan maksudnya. Baju gantinya udah bibi siapin di atas kasur".
"ohh.., yaudah makasih ya bi". Bulan berlalu dan kembali berjalan menuju kamar tamu yang dimaksud Ari. Dia melempar tasnya asal.
Bulan merebahkan dirinya di kasur empuk tersebut.
Bulan mencoba mengingat kembali kejadian hari ini antara dirinya dan kak Angga. Tiba-tiba dia kesal sendiri memikirkan hal itu. Bulan berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian, Bulan keluar dari kamar. Dia ingin melihat-lihat rumah Ari. Kapan lagi dia bisa melihat isi rumah ketua genk Alexas.
Bulan mengitari ruang keluarga. Ternyata, keluarga Ari itu sangat menyukai sesuatu yang berbau Matahari. Pantas nama Ari pun sama dengan nama dewa Matahari, Matahari Apollo.
Bahkan lukisan yang menempel di dinding itu pun bergambarkan sunset dan sunrise yang memukau. Bulan berdecak takjub melihat interior rumah Ari.
Setelah puas menikmati keindahan interior rumah Ari bagian bawah. Bulan tergoda untuk naik ke lantai atas.
Tunggu..,tapi nanti gue disangka yang enggak -enggak lagi sama si pantat panci. Gak jadi deh. Entar aja.
Bulan mengurungkan niatnya dan kembali ke kamar tamunya untuk menunggu bang Arkan menjemput dirinya.
#bacotnyaauthor
Aku udah revisi nih readers yang typo-typo nya. Semoga kalian semua gak bosan baca cerita tentang Ari dan Bulan ya.
Jangan lupa kasih tau temen-temen kalian ya kalo kalian suka sama ceritaku.
Don't Forget follow, vote, and comment ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sun And Moon(COMPLETED)
Genç Kurgu|BUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA YA| Dear, Saat aku yakin bahwa kamulah orang yang paling aku percaya. Namun, ternyata aku salah kamu malah membuatku kecewa dan sakit hati. Sebuah cerita yang mengisahkan seorang gadis yang terus menerus berh...
