Ketika kau mengenal cinta, maka kau pun akan mengenal benci
Bulan mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha menyesuaikan pencahayaan ruangan dengan retina matanya.
Ia merasakan seseorang memegang tangannya, ia melihat ke sebelah kanannya dan menemukan kakak laki-laki yang paling disayanginya tertidur.
"Bang Arkan". Panggilnya dengan suara serak. Arkan mengangkat wajahnya dan melihat adik perempuannya yang sudah sadar.
"Kamu udah bangun?. Abang khawatir sama kamu, soalnya kamu udah seharian koma".
Arkan membantu Bulan untuk duduk. Ia mencium dahi adiknya. Karena merasa bersyukur tuhan masih berbaik hati padanya.
"Bang, Bulan mau pulang". Ujar Bulan sambil memegang tangan sang kakak.
"Tapi lo baru sadar, dek. Lo masih dalam tahap perawatan".
Bulan mengerucutkan bibirnya. Ia selalu benci rumah sakit karena selalu mengingatkannya akan kematian kedua orang tuanya.
"Kalo gitu, bawain kak Angga sama Nada kesini". Pinta gadis itu sambil masih mempertahankan ekspresi wajahnya.
"Dasar tukang maksa. But, everything for my beloved princess". Arkan mengeluarkan handphonenya.
Sementara menunggu Arkan menghubungi kedua orang itu. Bulan mencoba mengingat bagaimana dirinya bisa ada di tempat ini.
Oh iya, gue inget. Gue kan lagi nungguin Ari yang minta diajarin bikin puisi trus ke kunci dan lampunya mati.
"Mereka lagi menuju kesini, dek. ". Arkan kembali duduk disamping gadis itu. Bulan tersenyum.
"Makasih, abang ganteng-ku". Bulan mencubit pipi kanan kakaknya.
"Tapi, abang mau ke kantor lagi, kalo mereka udah sampe disini".
Bulan kembali memberengut. Apa ia tidak bisa mendapatkan sedikit perhatian dari sang kakak, bahkan ketika ia sedang berada di rumah sakit sekalipun.
"Kan ini juga buat biaya RS lo juga". Sambung Arkan kembali.
Bulan mendesah. Ia mengangguk, berusaha mengikhlaskan kakaknya yang pergi kembali ke kantornya.
Braakk..!!
Nada berjalan ke arah Bulan dengan tergesa-gesa. "Yang mana yang sakit?, kok lo bisa masuk UGD?, gimana sekarang?, udah baikan? ". Rentetan pertanyaan Nada menghujam Bulan berkali-kali.
"Satu-satu nanyanya dong, Nad. Kepala gue pusing lagi nih". Jawab Bulan sambil memegangi kepalanya.
"Tau nih, gue ditinggalin lagi di parkiran". Angga masuk ke dalam ruang rawat Bulan dengan sekantong buah-buahan.
Ia meletakkan plastik tersebut di atas nakas. Dan menghampiri Bulan. "Gimana keadaan lo? ".
Bulan tersenyum. "Udah baikan, kak. Kata bang Arkan tinggal nunggu tahap perawatannya aja".
"Bagus deh kalo gitu. Soalnya, kalo gue main basket tapi gak ada lo yang nonton gue. Rasanya beda".
Ucapan Angga sukses membuat hati cewek itu berbunga-bunga. Menciptakan sensasi aneh yang dirasakan cewek itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sun And Moon(COMPLETED)
Ficção Adolescente|BUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA YA| Dear, Saat aku yakin bahwa kamulah orang yang paling aku percaya. Namun, ternyata aku salah kamu malah membuatku kecewa dan sakit hati. Sebuah cerita yang mengisahkan seorang gadis yang terus menerus berh...
