Saat ku menyadari tentang rasa ini, aku tau bahwa dihatiku ini telah ada dirimu yang selama ini selalu menghiasi hari-hariku
Bulan berjalan mengendap-endap bagaikan seorang pencuri, bahkab ia sendiri pun bingung mengapa ia harus berjalan mengendap-endap seperti ini dirumahnya sendiri.
Ngapain gue jalan kayak gini?, mirip maling aja. Ini kan rumah gue!.
"Darimana lo?! ". Suara bariton yang tegas dari arah belakang tubuh Bulan, membuat gadis itu terpaku. Dengan hati-hati ia menoleh kebelakang. Menemukan Ari yang tengah bersidekap dan menatapnya tajam.
"Eh, ada elo. Gue kira siapa. Ngagetin aja".
"Darimana lo?! ". Pertanyaan Ari masih belum berubah, matanya pun masih menatap tajam.
"Gue-". Bulan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Gue dari apartemennya Angga".
"Ngapain lo disana?! ". Mimik wajah Ari masih belum berubah.
"Nge-date lah, gue kan gak jomblo kayak lo". Bulan berusaha menutupi ketakutannya saat mata Ari terus mengintimidasinya. Ia mengalihkan pandangannya. "Gue ke kamar dulu, capek! ".
Bulan berbalik dan berjalan menjauh. Punggungnya terasa panas karena Ari yang masih terus memberikan tatapan intimidasi.
"Gue suruh lo pulang jam 8 tapi, lo malah pulang jam 11 malem".
Bulan menghela napas,. Inget, lan. Jangan takut, itu cuma Ari. "Trus?!".
"Itu artinya lo harus dihukum. Besok lo harus berangkat bareng sama gue ke sekolah". Ari dapat melihat ekspresi shock Bulan kala mendengar ucapannya.
"Lo gila?!, mana bisa gue berangkat sekolah sama lo, nyari mati aja gue! ". Kata Bulan lantas melanjutkan langkahnya menuju kamar.
🌞🌞🌞
Gadis itu tersenyum penuh arti, kala matanya menatap sebuah kontrak modelling yang akan dilaksanakan di Jakarta.
"jadi, buat majalah selanjutnya yang mengambil tema kota metropolitan. Mereka pengen lo ambil gambar di Jakarta. Tapi, kalo lo gak m-".
"Gue mau! ". Jawab gadis itu cepat. Ia sangat merindukan laki-laki yang dicintainya, karena sejak ia pergi dari rumah pun ia tak memberitahukannya pada laki-laki itu.
"Gue kangen sama dia, mel. Gue mau ketemu dia. Dan mungkin selama kita di Jakarta, gue akan tinggal sama dia. Jadi, lo bisa pulang ke rumah. Udah lama lo gak pulang, kan mel? ".
Melanie mengangguk. "Tapi, kalo lo tinggal bareng dia, berarti lo gak pulang ke rumah? ".
Wajah gadis itu berubah muram. "Mana bisa gue pulang ke rumah, setelah melakukan hal keji seperti itu ke seseorang hingga membuatnya kehilangan nyawanya".
Melanie memeluk gadis itu, mencoba menguatkannya. "Setiap orang punya kesempatan kedua, hal. Dan lo juga berhak dapet kesempatan itu ".
Zohal tersenyum, ia mengurai pelukan Melanie. "Kesempatan kedua?, gue gak pantes buat dapet hal semacam itu".
🌚🌚🌚
"Ini bagus gak ya? ". Bulan mengecek penampilannya sekali lagi didepan cermin, entah sudah berapa lama dan sudah berapa kali gadis itu berdiri di depan cermin sambil terus mengganti pakaiannya.
"Lo mau kemana? ". Ari bersender pada kusen pintu kamar Bulan.
Tanpa menoleh, Bulan menjawabnya. "Gue mau ke apartemennya kak Angga. Mau ngasih dia surprise kalo gue udah bisa masak".
"Yakin lo dia ada di apartemennya? ".
"Yakin. Gue udah ngehubungin dia, dan dia bilang jadwalnya kosong hari ini".
Ari manggut-manggut. "Okay, take care".
Bulan memandang Ari tak percaya. Wah, jangan-jangan Ari otaknya makin sengklek nih.
Ari beranjak dari tempatnya berdiri. Ia berkeinginan untuk menonton tv. "Lo bebas hari ini. Terserah lo mau pulang jam berapa".
wah, beneran makin sengklek otaknya Ari. Harus dibawa ke dokter tempat gue periksa nih orang.
"Woy, lo jadi pergi gak?, atau mau gue anter? ". Sentak Ari, mengangetkan Bulan yang tengah melamun.
"Jad-".
Sebuah nada panggilan telepon terdengar dari handphone Bulan. Gadis itu langsung mengangkatnya karena Angga lah yang menelpon.
"Halo, kak..... Oh, gitu ya.... Yaudah, gak papa kok.... ". Bulan menutup sambungan teleponnya bahkan sebelum Angga menutupnya.
Ari yang melihat perubahan drastis mimik wajah Bulan lantas bertanya. "Kenapa lo? ".
"Kak Angga ada urusan mendadak jadi, gue gak ke apartemennya". Bulan kembali masuk ke kamarnya.
Ari mengernyit heran. Angga bukanlah orang yang seperti itu. Pasti ada sesuatu yang gak beres.
Handphone Ari mendapatkan sebuah pesan yang langsung dibaca oleh cowok itu. Rahangnya mengeras. setelah mengetikkan balasan, Ia bergegas mengambil jaket dan kunci motornya. Berangkat menuju lokasi yang telah dikirimkan padanya.
Ari menepikan motornya di parkiran kafe mataram. Setelah melihat Zohar yang tengah duduk bersembunyi, Ari menghampirinya.
"Lo bisa tau mereka disini darimana? ". Tanya Ari. Ia duduk disamping Zohar dan ikut bersembunyi agar dua orang yang tengah mereka perhatikan tak menyadari keberadaan mereka.
"Dari Melanie. Kemaren dia pulang ke rumah. Langsung aja gue introgasi tentang keberadaan Zohal". Zohar mendesah. "Adek gue brengsek amat ya. Pulang bukannya ke rumah malah ke apartemen pacar gelapnya".
Entah kenapa, hati Ari tak sakit melihat Zohal yang tengah beesama Angga. Berbeda dengan yang ia rasakan dulu ketika melihat Zohal dan Angga.
Jadi ini urusan mendadak yang lo bilang ke Bulan ya, ga. Gue gak nyangka lo gak berubah, sekalinya brengsek tetep brengsek.
"Ri, langkah lo selanjutnya apa? ". Tanya Zohar.
"Gue pengen lo sembunyiin tentang ini dari Bulan. Gue gak mau dia ngerasain yang dirasain Ari dulu".
Zohar mengangguk. Ia paham akan yang diperintahkan Ari. Untuk sekarang, menyembunyikan hal ini dari Bulan adalah jalan terbaik yang dapat dilakukan oleh Ari dan Zohar.
Ari mencoba merasakan rasa sakit yang dulu ia rasakan tapi tetap saja hasilnya sama. Ia tak merasakan apa-apa kecuali kemarahan pada Angga karena sudah mengkhianati Bulan.
Kok gue gak ngerasain apa-apa ya. Yang gue rasain malah rasa sakit gara-gara Angga yang ngekhianatin Bulan. Aneh..
#bacotnyaauthor
Budayakan follow dulu ya sebelum baca.
Gimana story nya?
Readers terhibur gak?, semoga suka ya. Aku bingung mau ngomong apa lagi. Jadi, segini dulu deh.
Don't forget follow, comment, and vote ya😍😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Sun And Moon(COMPLETED)
Jugendliteratur|BUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA YA| Dear, Saat aku yakin bahwa kamulah orang yang paling aku percaya. Namun, ternyata aku salah kamu malah membuatku kecewa dan sakit hati. Sebuah cerita yang mengisahkan seorang gadis yang terus menerus berh...
