18-MENCOBA MELUPAKAN

151 7 0
                                        

Jangan berpura-pura bahagia dikala kamu sedih. Jangan berpura-pura kuat disaat kamu terluka. Hanya karena orang yang tak pernah menganggapmu ada

Bulan memicingkan matanya, ia meneliti satu per satu bangunan yang baru saja ia lewati dari kaca jendela mobil.

Hatinya selalu saja tak siap jika, harus datang ke tempat itu. Ia melirik Ari yang fokus menyetir mobil. Sebenernya apa yang dipikirkan oleh Ari?.

Daripada memusingkan hal itu, ia lebih memilih memasang earphone pada kedua telinganya. Mendengarkan lagu yang mungkin dapat membuat Mood nya membaik.

Lagu Menyimpan rasa ciptaan Devano Danendra mengalun lembut. Ini merupakan lagu Favoritnya dulu jika, tengah memikirkan Angga.

Kau.. diam-diam aku jatuh cinta..

Kepadamu..
Ku.. Bosan sudah ku menyimpan rasa.. Kepadamu..
Tapi tak mampu ku berkata didepanmu..

Aku tak mudah mencintai tak mudah bilang cinta..
Tapi, mengapa kini denganmu aku jatuh cinta..

Tuhan tolong dengarkan ku, beri aku dia
Tapi jika.. Belum jodoh..
Aku bisa apa..

Tak bisa kupaksan dirimu.. Tuk jadi kekasihku bila..
Tak jodohku..

Setetes air matanya jatuh mengenai rok selutut yang dikenakannya. Bulan terkejut, ia buru-buru menghapus bekas air matanya dan melepas earphone nya.

Ternyata, musik pun menjadi menjengkelkan baginya jika, ia sedang mencoba melupakan seseorang. Karena dulu, ia memang selalu mengaitkan apapun pada Angga. Cinta pertamanya dan cinta itu langsung hancur begitu saja saat dirinya baru saja mengecap kebahagiaan.

Ari menepikan mobilnya didepan sebuah toko bunga. Bulan mengekorinya. Ia mengamati setiap yang Ari lakukan. Mulai dari caranya bicara pada pelayan toko, membeli sebuket bunga lili, hingga membayar bunga itu pada kasir.

"Ngapain lo liatin gue?, ganteng ya? ".

Bulan mengalihkan pandangannya. Dirinya baru saja tertangkap basah memandangi Ari. "E-enggak. Gue lagi liatin bunganya".

Ari tersenyum. Ia mengambil lengan kanan gadis itu dengan lengan kirinya dan menggandengnya. "Ayo! ".

Bulan menatap sesaat tangan mereka yang saling bertautan. Mereka menyebrang jalan raya dan memasuki sebuah tempat pemakaman.

Mereka berdua menelusuri datu per satu makam. Ari memberikan buket bunga lili pada Bulan. "Sono gih, lo pasti gak mau diganggu. Gue akan sabar nunggu lo disini".

Bulan tersenyum dan mengangguk. Ari selalu tau apa yang dibutuhkannya walau, ia tak pernah bilang. Dia baik, cover nya aja yang begitu. Bulan menahan senyumnya.

Ia berhenti didepan dua buah makam yang terawat dengan baik. Ia tersenyum kecut lalu berjongkok di depan kedua pusara orang tuanya. Gadis itu meletakkan buket bunga lilinya di depan nisan kedua orang tuanya.

"pah, mah. Gimana kabar kalian?,pasti papa sama mama seneng ya tinggal disana. Bareng sama tuhan". Bulan menghela napas panjang. Ia menatap langit cerah yang sekarang berwarna biru.

"Inget gak pah, mah. Dulu papa dan mama pernah cerita ke Bulan tentang dongeng Matahari dan Bulan dan aku gak pernah suka dongeng itu karena berakhir tragis".

Air matanya mulai jatuh satu per satu. "Dan.. Sekarang aku bernasib sama dengan kisah dongeng yang papa dan mama ceritain. Aku gak bahagia dengan kisahku".

Suara tangis mulai keluar dari bibir Bulan. "Aku gak tau apa aku bisa percaya lagi sama orang.. Selain bang Arkan".

Gadis itu terisak. Membuat siapapun yang mendengar merasa kasihan. "Kalo aku bisa aku ingin bareng kalian, berada di sisi tuhan. Gak perlu mengalami drama semacam ini. Pah, mah. Rembulan kangen kalian".

Gadis itu menangis tersedu-sedu. Ia sudah berusaha untuk tampil kuat didepan senua orang tapi, didepan orang tuanya ia selalu menjadi gadis rapuh, lemah, manja, dan cengeng.

Ari memejamkan matanya kala telinganya mendengar tangis Bulan yang memilukan. Ia bersender di sebuah pohon besar yang berada di tengah-tengah pemakaman.

Setelah berdo'a untuk orang tuanya, Bulan menghapus bekas air matanya. Matanya yang sipit akan membengkak bila habis menangis dan ia benci akan hal itu.

Bulan berjalan menuju Ari yang bersender di pohon besar. Ari yang melihat Bulan lantaa menegakkan tubuhnya.

"1 jam 45 menit".

"Apa? ".

"Lo ada disana selana 1 jam 45 menit. Ngapain aja sih lo?, menurut gue, kalo ke makam ya cuma baca do'a abis itu pergi. Sementar lo, lama banget".

Ari nanya kayak gitu berarti dia gak tau gue nangis. Bagus deh.

Gue mending pura-pura gak tau dia nangis. Demi, keselamatan jiwa dan raga gue, batin Ari.

Bukannya marah kembali kepada Ari yang sudah mengomelinya. Justru, Bulan malah tertawa. "Aduh.. Gue laper. Traktir dong, ri. Kayaknya disekitar sini ada restoran seafood deh".

"Ogah!, porsi makan lo tuh ngalahin rekor dunia tau gak?, traktir lo sih namanya membuang dompet gue ke sumur yang tanpa dasar".

Ari berjalan meninggalkan Bulan. Bulan tersenyum lalu mengejar Ari. "Jahat banget lo ngomongnya. Yaudah deh, temenin gue makan aja".

"Tapi, traktir gue ya".

"Mau lo! ". Bulan menabok bahu kanan Ari dengan keras hingga membuat cowok itu terhuyung ke depan.

Anjir.. Tenaga badak!

"Kalo gak pake nabok berapa? ".

"Yaelah, alay lo. Badan doang gede, ditabok dikit langsubg lembek". Ejek Bulan.

Ari tersenyum. "Bagus deh, kalo lo gak sedih lagi".

"Kalo gue sedih, emang kenapa? ". Bulan membalik tubuhnya, ia berjalan mundur dengan tubuh menghadap Ari.

"Lo Horor kalo lagi nangis mirip sama boneka annabelle".

Bugghh..

"Sakit.. Dasar, tenaga badak! ".

"Lo ngomong kayak gitu sekali lagi, gue tonjok sampe muka lo kagak bisa di obatin lagi". Bulan bersidekap lalu berjalan mendahului Ari yang masin memegangi pipinya yang ditonjok oleh Bulan.

Kejam.. Pantes aja mirip annabelle.

🌞🌞🌞

Angga sedari tadi hanya memutar-mutar Handphonenya bingung walau ia sudah setengah jam berada di restoran seafood itu. Ia tak tahu apa yang akan ia lakukan pada hubungannya dengan Bulan.

Ia tak ingin kehilangan gadis itu. Gadis yang selaullu tersenyum manis padanya, gadis yang selalu ada untuknya. Ia tak ingin kehilangan gadis itu.

"Tuh kan lo mesen makan kayak gak pernah dikasih makan sama bang Arkan". Suara familiar itu mampu membuat Angga menoleh pada meja yang berada di depannya.

"Ih, rese lo!, gue kan laper. Kalo gue mati kelaparan, lo adalah orang pertama yang akan gue gentayangin".

"So?, gue takut? ".

"Ih.. Mau gue tonjok?! ".

"Eh, iya deh. Kita damai aja".

Angga menatap Ari dan Bulan tanpa berkedip. Ia memperhatikan Bulan. Matanya memang agak sedikit membengkak tapi, untuk yang lain sepertinya ia baik-baik saja. Dan Angga dapat menghembuskan napas lega karenanya.

#bacotnyaauthor
Nah seperti yang aku omong kemarin. Mungkin untuk kedepannya aku akan update cerita Sun and Moon setiap hari atau 2 hari sekali. Dan buat kalian yang udah baca dan vote cerita ini. Thanks ya kalian udah ngehargain aku dan ceritaku. And sorry, kalo ada typo nya.

Don't forget follow, comment, and vote😍😘






Sun And Moon(COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang