25. Sad

521 42 0
                                        

"Siapa dia?"

Jawaban itu tidak terjawab, Ji Hwon terlalu fokus dengan stirnya. Ia sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan itu, pria itu juga tidak melirik Yun Seo sedikit pun.

"JI HWON! AKU BERTANYA PADAMU!"

"APA KAU BISA DIAM?"

Yun Seo tak kalah terkejutnya, melihat kekasihnya yang biasanya ramah dan perhatian padanya, tapi kali ini malah berbanding terbalik. Yun Seo segera memalingkan pandangannya keluar jendela, dan hanya bisa menangis tersedu-sedu.

Mobil itu berhenti.

"Yun Seo, aku minta maaf padamu. Aku tidak bermaksud membentakmu seperti ini," ucap pria itu, sembari menyentuh punggung tangan gadis itu.

Yun Seo melempar tatapan tajam kepadanya. "Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Siapa wanita itu?"

Pria itu menghela napasnya. "Dia adikku."

"Apa?"

"Yun Seo dia adikku, aku tidak menyukainya, aku selalu menghindar jika dia mencoba mendekatiku lagi," katanya mencoba menjelaskan masalah yang ada saat ini.

"Kenapa jau menghindarinya?"

"Aku selalu dibeda-bedakan dengannya, aku tahu dia itu hebat dalam segala hal. Dan saat ini aku menunjukkan, jika aku pun bisa lebih dari dirinya."

"Apa kau berucap dengan serius?"

"Aku serius." Pria itu langsung menarik tubuh gadis itu dalam pelukkannya, dan ditambah dengan kecupan yang sangat manis untuk malam yang cerah ini. Rasanya begitu bahagia.

"Seharusnya kau menjawab pertanyaanku, maka kejadian ini tidak terjadi lagi," ucapnya sambil cemberut masam.

Saat gadis itu berlari dan tanpa aba-aba langsung memeluk kekasihnya, Ji Hwon. Yun Seo memang pantas untuk curiga, gadis itu terus bertanya-tanya sambil tersenyum pada Ji Hwon, namun Ji Hwon berusaha menghindar dari gadis itu.

Melihat berprilaku berlebihan, Yun Seo melihat ada sesuatu yang aneh.

"Bisakah kau pergi saja?" ucap Yun Seo sembari menjauhkan gadis itu dari tubuh Ji Hwon.

"Ada apa denganmu?"

"Jangan menganggu kami!"

"Kenapa kau malah melarangku?"

"Ji Hwon, siapa wanita ini?"

Pria itu tidak menjawab sepatah kata pun dari pertanyaan gadis itu dan Yun Seo.

"Ji Hwon, kau membuatku kecewa." Dan saat itu Yun Seo memilih untuk pergi, dan memasuki mobil itu.

Pada saat itu, Yun Seo tidak bisa menahan rasa, marah, kesal, cemburu, dan sedihnya. Semuanya tercampur aduk saat itu, ia kehilangan kendali dan hampir menonjok wajah gadis itu.

"Ji Hwon?"

"Hm?" Pria itu masih memeluk Yun Seo dengan erat, tanpa sadar matanya terpejam mencium aroma gadis itu.

"Aku berharap aku satu-satunya wanita yang kau punya."

Pria itu membuka matanya, antara terkejut dan heran.

"Apa maksudmu Yun Seo?"

"Aku berharap, kau tidak mengecewakanku dengan hal-hal yang tidak aku sukai," ucapnya sembari menatap sendu terhadap kekasihnya.

"Apa yang kau bicarakan? Aku ini kekasihmu, mana mungkin aku akan mengecewakanmu, apalagi membuatmu marah." Pria itu mencoba untuk memberi keyakinan pada dirinya, bahwa dialah pria yang Yun Seo cari-cari selama ini. Dan sekarang pria itu menjadi miliknya.

Walaupun Yun Seo sudah mengetahui fakta tentang gadis itu adik kekasihnya, tetap saja ada sesuatu didalam hati Yun Seo. Pertanyaan-pertanyaan mulai memenuhi pikirannya, dari kecurigaannya, dan bagaimana peia itu bisa bertahan dalam hal seperti ini?

Yun Seo segera menepis pikiran itu jauh-jauh dari dalam otaknya, ia hanya ingin memikirkan bagaimana ia akan mencintai pria itu hingga masa yang akan datang.

Asal kau tahu, ada yang diam-diam menaruh harap. Dirinya rajin memintamu dalam do'anya walaupun ia tahu keterkabulkan do'anya sepertinya jauh dari kata mungkin. Batin Yun Seo.

Aku menaruh harap padamu, aku percaya padamu bisa membuatku bahagia. Aku berharap itu benar-benar ada pada dirimu, bukan hanya ekspektasi belaka.
.
.
.

Yun Seo merasakan ada sesuatu dalam dirinya, dan ada yang salah saat ia menjalankan sesuatu. Sepertinya dia butuh untuk menyendiri, dan untuk memahami dirinya saat ini. Entah kenapa lirik-lirik lagu yang ia putar begitu masuk kedalam hatinya. Ia tersentuh, gadis itu butuh untuk menangis. Bagaimana pun ia menyembunyikan kesedihannya itu, rasanya malah semakin perih jika tidak di lampiaskan.

Air matanya mengalir begitu saja dari wajah mulusnya.

Drrtt... Drrtt...

Seseorang menelponnya, Ji Hwon.

Bukannya untuk mengangkat, ia malah mematikan, dirinya tidak berharap jika pria itulah yang menelpon dirinya, melainkan orang yang kini terus menghantui pikirannya. Yun Seo merasa harus, harus, dan harus bertemu dengan pria itu, karena gengsi yang begitu kuat malah justru menghalang dirinya untuk mencari ketenangan dalam hidupnya. Hanya Min Yoongi yang ia butuhkan, hanya Min Yoongi yang dapat membuatnya lebih nyaman. Saat-saat seperti ini, biasanya Min Yoongi yang semangat memberinya arahan, tapi untuk kali ini tidak lagi, tidak seperti dulu. Dan ini malah berbanding terbalik, dimana pria itu hanya membiarkan Yun Seo berada didalam kesedihan yang begitu mendalam dan begitu perih, hingga tak sanggup untuk bebicara.

Bagaimana pun juga, ia harus membuat dirinya nyaman jika berada didekat kekasihnya, Ji Hwon. Walaupun terasa beda saat bersama Min Yoongi, ia memaksakan dirinya untuk merasakan hal yang saat berada didekat pria yang ia inginkan. Pria yang saat ini terus menghindarinya, pria yang kini menjadi sosok pria yang dingin dan jutek.

Walaupun dengan sikapnya seperti ini, Yun Seo mendapatkan ketenangan dan kenyamanan saat bersamanya.

Dia tidak dapat membohongi dirinya sendiri, dia harus melawan kegengsiannya. Ini adalah kebutuhan dari sosok Yun Seo. Gadis itu harus berbicara pada Min Yoongi, walaupun pria itu hanya mengucapkan satu atau dua kata saja nantinya, itu pun cukup untuk dirinya merasa bahagia, karena mendapatkan ketenangan dan kenyamana yang ia inginkan.

Gadia itu meraih ponsel yang ada di sampingnya. Mencari nama kontak 'Min Yoongi' lalu mencoba menekan ponsel itu untuk memanggil walaupun terasa ragu dan tidak yakin. Yun Seo menempelkan benda pipih itu ditelinga sebelah kirinya, dengan tangan kanan yang meremas-remas ujung piamanya.

Jantungnya berdebar tidak karuan, bagaimana reaksinya saat mendengar suara pria itu nanti?

Jangankan mendengar suara, menerima panggilan itu saja Min Yoongi tidak melakukannya. Dengan semangat yang tinggi, Yun Seo kembali menekan nama pria itu, dan mendekatkan benda pipihnya ditelinga. Dan sekali lagi, pria itu benar-benar tidak sudi lagi untuk berkomunikasi dengan Yun Seo.

"Sepertinya dia sangat marah," ucapnya pada dirinya sendiri, wajahnya menjadi cemberut, ekspresi sendu muncul begitu saja dari wajah cantiknya.

"Apakah pria itu benar-benar akan menjauhiku?" Gadis itu mencoba menguatkan diri. "Disaat aku membutuhkanmu, kau malah pergi, aku begitu heran."

Sepertinya gadis itu benar-benar dikecewakan oleh pria yang diharapkan datang kepadanya. Gadis itu menangis untuk kesekian kalinya, menimbulkan sakit di kepalanya.

Sedih.

Itulah yang di rasakannya.

-Bersambung-

SeesawTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang