Dong Hae mengintip dari celah kecil untuk memeriksa keadaan ruang tengah yang tampak tenang. Televisi tampak menyala dengan suara yang tak keras, sedangkan Eun Hyuk tampak tertidur di sofa. Mengetahui keadaan yang aman membuat Dong Hae menghela napas lega. Kemudian Dong Hae mendorong pintu agak lebar, sehingga muat untuknya keluar lalu menutup pintu kamar sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Sekarang hanya tinggal berjalan mengendap-endap menuju pintu, lalu pergi tanpa pamit.
Dong Hae menyembunyikan masker di saku jaket dan mengenakan kacamata untuk menyembunyikan sembab di area matanya. Tanpa mengikat rambut seperti pada beberapa kesempatan, ia mengambil langkah menuju pintu. Keadaan masih aman, menurutnya. Tapi, Eun Hyuk tampak terduduk di sofa dan menangkap pergerakan lelaki itu.
"Dong Hae-ya?"
Dong Hae tersentak membuatnya tak dapat bergerak jauh, padahal hanya sisa beberapa langkah lagi. Tanpa berbalik melihat Eun Hyuk, ia segera mempercepat langkahnya menuju pintu. Beruntung Eun Hyuk menyusulnya dan menahan pergerakannya, sehingga mereka berada di depan pintu. Dong Hae masih berusaha melepaskan diri, sedangkan Eun Hyuk berusaha menahannya.
"Kau akan pergi ke mana dengan keadaan seperti ini, hm?"
Dong Hae bungkam dan fokus untuk melepaskan diri. Merasa Dong Hae tak akan mendengarnya, Eun Hyuk menghela napas berat dan memanggilnya, "Dong Hae-ya?"
"Umm, aku hanya ingin pulang," jawab Dong Hae membuat Eun Hyuk menaikan sebelah alisnya, terlihat tidak mempercayainya. "Aku mau pulang!" ulang Dong Hae membuat Eun Hyuk melepaskan genggamannya dan menatap lelaki itu penuh selidik.
"Aku tak mempercayainya setelah melihatmu mengendap-endap seperti tadi."
"Itu karena aku tidak ingin membangunkanmu. Kau tampak kelelahan."
Eun Hyuk semakin menatapnya, mencurigai alasan yang terdengar tak masuk akal. Karena tak punya rasa kepercayaan, Eun Hyuk menarik lengan Dong Hae sehingga lelaki itu ikut berjalan di sampingnya, "Eun Hyuk-ah, kenapa kau tak mengizinkanku pulang?"
"Aku tak percaya pada alasanmu itu."
"Hyukkie?"
Eun Hyuk menatap Dong Hae lebih tak percaya lagi dengan panggilannya, "Sekarang apa yang mau coba kau katakan, hm?"
Mereka berdiam di sana, Dong Hae rasa percuma berbohong jika Eun Hyuk mengetahui gelagatnya dan akan sangat sia-sia kalau Dong Hae mulai jujur kalau akhirnya Eun Hyuk tetap tak mengizinkannya. Lihat saja setelah apa yang akan dikatakannya, pasti Eun Hyuk tetap melarangnya.
"Aku punya janji dan harus pergi."
"Oh, baiklah. Kau bisa batalkan janji itu, beri tahu mereka jika kau sedang sakit. Sekarang kembali ke kamar dan istirahat!"
Dong Hae menunjukan raut protes pada tarikan tangan Eun Hyuk yang menggiringnya masuk ke dalam kamar, "Aku sudah lebih baik!" jelasnya berusaha mendapat izin, Eun Hyuk memandangnya dan kemudian memeriksa suhu tubuh itu dengan menggunakan punggung tangannya.
Sebenarnya tanpa harus memeriksa suhu tubuh Dong Hae, Eun Hyuk juga tahu jika suhu tubuh Dong Hae masih hangat. Sudah berapa kali Eun Hyuk memegang lengannya yang terbungkus jaket dan sweater, hangat tubuhnya masih terasa. Dan jangan lupa pada jarak berdiri mereka yang cukup dekat, Eun Hyuk bisa melihat sembab pada mata Dong Hae dan merasa hawa panas keluar dari mulutnya. Lalu apa lagi yang harus Eun Hyuk jadikan bukti kalau Dong Hae masih dalam kondisi yang tidak baik.
"Aku akan mengizinkanmu, jika saja kau tidak demam."
"Tapi, aku merasa baik-baik saja."
Eun Hyuk memandangnya serius. Ia ingat siapa orang yang tiba-tiba berkunjung semalam dan mengeluh tidak enak badan dan membuat Eun Hyuk harus menjaganya. Eun Hyuk bahkan lupa untuk memikirkan dirinya, demi memastikan Dong Hae tidak semakin memburuk kondisinya setelah minum obat atau di dalam tidurnya.
"Aku tidak bisa mengingkari janjiku, Hyukkie."
"Aku tahu."
Dong Hae melotot memandangnya, "Kalau kau tahu, kenapa kau melarangku pergi?"
Eun Hyuk memaksa Dong Hae duduk di tepi tempat tidur, kemudian Eun Hyuk berjongkok di depannya, "Kau masih sakit, aku khawatir, jika kondisimu akan memburuk."
"Ta...."
Perkataan Dong Hae terputus, Eun Hyuk mendekapnya. Terasa hangat, tapi hangat yang tak wajar. Karena Dong Hae sedang sakit dan Eun Hyuk sedih memikirkan itu.
"Kau tidak mengerti jika aku khawatir padamu, hm? Ah, kenapa aku harus bertanya padamu tentang kekhawatiranku sendiri?"
Dong Hae diam-diam tersenyum dibalik dekapan itu, rona merah pada pipinya tak bisa dikontrol untuk tak menghias pipinya. Beruntung Eun Hyuk tak bisa melihatnya, jika tidak Dong Hae akan sangat malu. Sambil membalas dekapan Eun Hyuk, ia membiarkan lelaki pemilik gummy smile itu semakin mengeratkan dekapannya, "Tapi, aku tak bisa mengingkari janjiku pada Ryeo Wook lagi pula ada Teuki hyung juga."
"Aku tahu." Balas Eun Hyuk.
"Lalu kenapa kau masih tidak mengizinkanku padahal kau bisa berpesan pada Teuki hyung untuk menjagaku?"
Eun Hyuk melepas dekapannya dan menangkup kedua pipi Dong Hae, "Aku khawatir."
Dong Hae tahu jika Eun Hyuk mengkhawatirkannya, maka ia memilih pergi tanpa pamit karena tahu Eun Hyuk tak akan mengizinkannya. Tapi, ia lebih daripada tahu jika Eun Hyuk tak main-main saat mengkhawatirkannya dengan pandangan mata yang penuh kasih sayang itu.
Eun Hyuk menghela napas panjang, melepas pegangannya pada kedua pipi Dong Hae dan memeriksa isi saku jaket Dong Hae. Ia menemukan masker dan memasangkan masker itu di wajah Dong Hae, "Kau sudah minum obatmu, hm?"
Dong Hae mengangguk, masih setia memandang Eun Hyuk yang terlihat tak rela. "Aku... hanya pergi sebentar lalu kembali ke sini untuk istirahat."
Eun Hyuk tersenyum kecil, mengacak rambut Dong Hae yang panjang dan kembali mendekapnya. "Ah, aku benar-benar tak bisa mengizinkanmu, tapi aku tak bisa menolakmu. Kenapa sulit sekali jika berhadapan denganmu, hm?"
Dong Hae tertawa di sana, "Karena kau mencintaiku?"
Eun Hyuk melepas dekapannya, wajahnya terlihat lebih cerah dan memandang Dong Hae jahil. "Ah, apa benar aku mencintaimu?"
"Lalu apa lagi?"
Eun Hyuk tersenyum melihat bagaimana mata Dong Hae berbentuk bulan sabit, walau setengah wajahnya tertutup, ia tahu Dong Hae tersenyum di sana. Lagi, Eun Hyuk menangkup wajah Dong Hae, memandangnya penuh kelembutan, "Aku akan mengizinkanmu setelah ini."
Dong Hae tak sempat bertanya ketika lelaki di depannya mempersempit jarak wajahnya. Dan dalam keterkejutan, ada sapuan di atas masker yang menutup sebagian wajah Dong Hae. Itu tepat pada bagian bibirnya yang tertutup, Eun Hyuk hanya mengecup sekilas di sana dan meninggalkan kesan kejut pada Dong Hae.
"Kau boleh pergi." ucap Eun Hyuk menyadarkan Dong Hae dari keterpanaannya dan melihat lelaki pemilik gummy smile itu sudah meninggalkannya di kamar. Bahkan Dong Hae tak mampu bersuara dan masih mencerna kejadian itu dengan kedipan matanya yang berulang-ulang.
Apa dia sudah gila menciumku seperti itu?[]
Hulllaaaaaaa~~ ('∀')
Sebenarnya mau ditahan sampe valentine, tapi Hara yg ga tahan buat engga posting. Ya, baik hati, kan, Hara? ヽ(^。^)丿
Dan sebenarnya lagi... Chapter ini udah lama ditulis, tapi.. Bulan lalu agak mager up, hahahaha (●'∀`●)
Engga mager juga sih.. Sebenarnya nunggu momen aja, biar sekali deh pas valentine terus ganti cover juga~
Eheee~ karena udah ganti cover, Hara juga bakal ganti judul ('∀')
Yah, semoga chapter ini mengobati rasa rindumu pada momen mereka. Karena Hara emang lagi kangen sama mereka karena yg travel di JPN ga balik2 (>y<)
Duh~~
Eh, terima kasih banyak sudah membaca tiap chapter pada cerita ini. Makasih atas vote dan commentnya~ utk chapter kali ini, kalo kalian senang juga... Jangan lupa tinggalin jejak, ya~
Sampai bertemu di chapter lain~ ( ˘ ³˘)❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Catch The Moment
Fanfiction(Tidak) Menjamin tiap baca chapter dalam cerita ini kamu hanya akan menemukan sesuatu yang bikin urat-urat wajahmu rileks-by authornya agak galau. Karena ditulis tanpa embel-embel tangis atau sakit hati dan pikiran tentang kekalutan kenyataan hidup...
