1. pembagian nilai

51.6K 6.4K 1.8K
                                        

Halo, sebelum memulai tolong untuk menjadi pembaca yang bijak ya. Berikan vote dan komentar sebagai bentuk feedback positif terhadap penulis, terimakasih.
















Pagi hari,
di Mansion Moon

"Ayah? Ayah!" Panggil Yaheskiel mencari ayahnya sambil membawa-bawa sebuah kertas. "Ayah mana sih?!"

"Kenapa, nak?" Jawab Taeil yang nampak melangkah dari dalam sebuah ruangan. Tidak lama kemudian pria itu menemukan anaknya mendekat dengan raut bahagia bersama kertas putih yang bisa Taeil prediksi, kalau itu adalah nilai hasil ujian Yaheskiel yang diadakan beberapa waktu yang lalu.

"Ada kabar gembira nih, hehehe."

Taeil membenarkan dasi kerjanya. "Apa itu? Ayah mau tahu dong."

"Yaheskiel ranking 1 di kelas, ayah. Hehehe, bagus kan?"

"Hah? Yang bener?" Taeil meraih kertas tersebut dan melihat hasil kerja Yaheskiel yang memenuhi harapannya. Tidak sia-sia Taeil menyewakan guru privat untuk anak sematawayangnya.

"Wah, bagus dong! Pertahankan ya, kalau bisa tingkatkan jadi ranking 1 di sekolah. Ayah bangga sama kamu."

Yaheskiel menunjukkan deretan giginya yang persis dengan senyuman milik Taeil. "Aku udah bisa minta hadiahnya kan?"

"Iya, iya. Bilang aja kamu mau apa, ayah belikan sebentar."

"Itu yah—Yaheskiel lagi pengen banget motor sport keluaran terbaru. Masih satu merek kok sama motorku yang kedua itu. Tapi—"

Alis Taeil mengerut, "tapi kenapa?"

"Agak mahal."

"Namanya juga teknologi. Makin berkembang ya harganya juga makin mengembang. Kamu pesen aja, nanti siang ayah transfer uangnya. Asal kamu jangan membangkang."

"Serius yah?"

Taeil mengangguk, "iyalah. Buat anak ayah yang pinter ini apa yang enggak?"

Yaheskiel tersenyum senang dan langsung memeluk sang ayah.

• • •

Mansion Seo

"Lo duluan."

"Lo yang duluan, orang lo tua 5 menit."

"Lo aja dulu, kan nilai lo lagi jelek."

"Lo aja."

Kedua pemuda itu—sebut saja Marcel dan Dean—masih saling mendorong satu sama lain sejak 5 menit yang lalu untuk masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Mereka cukup takut karena nilai salah satu di antara mereka menurun semester ini.

"Lo aja dulu. Membangkang banget sama kakak sendiri." Marcel mendorong Dean.

"Ck, durhaka ya lo sama adek sendiri. Cepet sana, gue nyusul."

Tiba-tiba pintu di hadapan mereka terbuka, memunculkan diri Seo Johnny dengan setelan rapihnya yang bersiap menuju kantor.

"Kalian kenapa?"

Marcel berbisik, "nah kan keburu keluar dia."

"Anu dad, kita cuma mau—" Dean menggantungkan kalimatnya sejenak agar mampun menemukan alasan. "Mau memastikan daddy udah makan atau belum, hehehe."

Alis Johnny mengerut, "kan kita sarapan bareng tiap hari."

"Oh iya ya. Yaudah, dad, Cel, kita ke meja makan aja." Kata Dean sambil menyembunyikan kertasnya.

"Yaudah ayo."

"Ohiya, bukannya kalian udah pembagian nilai?"

Jeduar!

"Itu kertasnya? Sini daddy lihat." Pinta Johnny sambil berjalan ke meja makan dan menggeser kursi.

"Bukan, dad." Jawab Marcel berbohong, "ini kertas tagihan listrik."

Otomatis raut wajah Johnny menjadi datar dan langsung meraih kertas nilai kedua anak laki-lakinya. Reflek Dean mematung, takut akan respon membunuh dari sang ayah nanti.

"Seo Marcel—ranking kamu tetap sama? It's okay. Tapi lain kali kamu harus naik dari ranking kamu ini, make a move." Pinta Johnny dan kini mengecek kertas Dean yang menunjukkan rata-rata B bahkan terdapat nilai C.

"Seo Dean."

"Iya bos?"

"Jelasin kenapa bahasa Inggris, Matematika, dan Sejarah kamu bisa turun."

Dean berdehim dan memantapkan jawaban, "Marcel pelit banget sih dad."

"Loh kok? Gue pelit apanya? Kita aja gak sekelas."

"Kan lo bisa bagi-bagi materi."

"Lo gak minta."

"Lo-nya aja yang pelit."

Johnny menghela napas kesal dan membuka kacamatanya. "Sudah! Berantem kok di depan makanan?"

"Yaudah sini kita berantem di depan rumah."

"Dean!" Emosi Johnny tersulut karena Dean tak berhenti berceloteh. "Pokoknya kamu gak boleh ikut ke Chicago 3 bulan lagi kalau gak ada peningkatan nilai sama sekali. Malu-maluin daddy aja kamu di depan Oma nanti."

"Tau nih. Masa bapaknya orang Chicago tapi lo-nya sendiri bodoh bahasa Inggris?" Ucap Marcel.

Dean menatap Marcel sinis, "kompor!"

• • •

Sementara itu,
Mansion Lee

"Jinan." Panggil Lee Tyrese seraya membuka pintu kamar kecokelatan yang cukup besar untuk seukuran kamar pemuda. "Papa udah ambil hasil nilai semester kamu, nak."

"Makasih, pa." Balas Jinan lesu sedang terbaring di atas ranjang akibat kondisinya yang kurang sehat.

"Walaupun kamu les menari tapi nilai kamu tetep seimbang." Tyrese mengusap kepala Jinan, "papa bangga."

"Kan Jinan terlahir di dunia ini biar orang-orang bangga." Candanya.

Tyrese tertawa kecil melihat Jinan yang masih bisa bercanda di kala dirinya sakit. Pria itu menyimpan kertas nilai Jinan di atas meja belajar, beralih mengganti handuk penurun panas yang bertengger di kepala Jinan.

"Pas papa ambil itu, ada anak cewek yang nanyain kabar kamu. Rambutnya panjang, matanya cokelat terang. Kamu udah berani genit ya ke perempuan?"

Jinan menggeleng, "enggak tuh. Jinan ogah main-main sama cewek."

"Terus dia siapa dong kalau bukan temen kamu? Teman kan biasanya rutin cari kabar temannya yang lain."

"Setan kali, pa. Soalnya Jinan suka denger cerita kalau di sekolah banyak mahluk halus gitu." Jelas Jinan sambil bergedik ngeri. "Sekolahku katanya bekas rumah sakit dan kuburan."

Tyrese hanya bisa menatap anaknya dengan wajah datar kemudian berkata, "kamu kurang-kurangin nonton channel-nya Ewing HD sama Nessie Judge ya nak."

Superior MansionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang