Beberapa hari kemudian
Tepat pada pukul tujuh pagi, seorang remaja lelaki terlihat lihai memainkan skateboardnya di depan sebuah mansion. Sesekali ia menambahkan atraksi dalam aksinya, membuat si adik yang sedang duduk di tepi jalan dengan beralaskan skateboard lainnya bertepuk tangan, merasa itu sangat berkesan.
"Lagi lagi!" Pinta Lee Jinan setelah melihat Lee Keena kembali ke hadapannya. "Keren banget, ih. Ajarin dong!"
"Kan udah diajarin tadi. Makanya harus diamati sampai detail-detail gitu, biar gampang pas nanti dipraktekin."
"Kakak kan emang udah lama belajar main skate, kalau aku baru mau main."
Keenan meletakkan papannya di samping Jinan, kemudian duduk di atasnya. "Nanti lagi deh, ya. Gue capek soalnya."
Jinan mengembungkan pipinya karena kesal, sejak dirinya tak kunjung bisa bermain skateboard dengan baik, apalagi lihai seperti Keenan. Lee bersaudara itu lantas mengobrol ringan, menunggu Keenan beristirahat sejenak sebelum mengajar Jinan lagi.
Selang beberapa menit, Keenan dan Jinan mendengar suara Moon Yaheskiel yang tak lain dan tak bukan berasal dari Mansion Moon. "Kiel pergi dulu, ya!" Teriak Yaheskiel dan muncul dengan membawa kotak makanan susun yang sepertinya terbuat dari kayu mahal.
Saat Yaheskiel nyaris memasuki Mansion Qian, Keenan segera berteriak memanggil namanya. "Kiel! Mau ngapain?"
Langkahnya berhenti sebelum menoleh. "Ini—mau bawain Om Kun kue sama makanan berat. Ayah gue minta tolong!"
"Bilang aja kangen sama Rey Rich." Desis Jinan. "Ikut, yuk." Ajaknya setelah berdesis seraya bangkit dan meraih skateboard. "Mau jenguk Kak Rey sama Rich juga."
Keenan menghela nafas karena masih terengah, kemudian berdiri untuk mengikuti pergerakan Jinan. "Sejak mama mereka meninggal, rasanya—Rey sama Rich jadi beda ya?"
Jinan mengangguk setuju. Selagi mengobrol mereka berdua buru-buru menyusul Yaheskiel yang masih diam di tempatnya bersama kotak makan.
"Masuk bareng, yuk." Kata Jinan.
"Oke."
Ketiga remaja tersebut lalu melangkah serentak memasuki kediaman Qian. Keenan menekan bel mansion, menunggu bersama Jinan juga Yaheskiel hingga pintu terbuka. Ketika pintu itu terbuka, terlihat Qian Kun menyanbut mereka ramah dengan setelan baju rumahnya yang sederhana.
"Eh, kalian. Sini masuk."
"Ini om—ada titipan makanan dari ayah." Ujar Yaheskiel menyodorkan susunan kotak makan yang dibawanya pada Kun sebelum masuk.
"Aduh, kenapa repot-repot dibawakan?" Kun segera meraih pemberian Yaheskiel agar si remaja tak merasa lelah karena telah menentengnya dari tadi. "Makasih banyak, Kiel. Ayo sini, kalian masuk. Rey sama Rich juga lagi main di ruang tengah."
Mereka bertiga mengangguk senang dan mengikuti langkahan kaki si pemilik mansion. Sebelum mereka tiba di ruang tengah, mereka dapat menemukan beberapa perbedaan pada jejeran foto yang ada di meja sudut ruang tamu yang dilalui. Telah terpampang foto mendiang Huanran, yang dulunya mereka kenal sebagai ibu guru Min Seunghee. Terdapat juga foto Keluarga Qian saat Reyjune dan Richene masih kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fiksi Penggemar[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
