Hari ini mansion Qian terlihat lumayan ramai seperti biasanya, meski sehari lagi anak-anak akan kembali masuk sekolah. Mansion tersebut dihuni oleh dua putra Qian Kun bersama dua orang remaja lainnya. Mereka si remaja Lee yang tak lain dan tidak bukan adalah Keenan dan Jinan.
"Lo pasang yang warna merah ini disini. Kenapa malah jadi pelangi sih?" Gerutu Richene melihat Jinan yang tidak begitu peduli dengan sususan warna lego.
"Bagus kalau warna warni."
"Bagus apanya? Ih ribet banget sih!"
"Chene, lo berisik banget tahu gak?" Eluh Reyjune yang fokusnya bermain playstation bersama Keenan terpecah. Meski Keenan masih membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan ledakan tiba-tiba Reyjune, namun Keenan merasa beruntung karena si sulung Qian itu merupakan orang yang mudah bergaul walau dari luarnya tampak begitu dingin.
"Lebih berisik lo, ah." Balas Richene pada teguran kakaknya yang kini hanya dibalas desisan.
Tiba-tiba ponsel Keenan bergetar, membuatnya melepas stick permainan dan bangkit. "Gue angkat telepon dulu, ya." Izinnya.
Reyjune mengangguk menanggapi Keenan sembari menghentikan sesi permainan di layar televisi. Keenan sendiri sedikit menjauh dari ketiganya, menggerakkan jemari untuk menggeser tombol hijau di layar ponsel.
"Halo, pa?"
"Keenan, kamu pulang sama adek kamu. Ini udah sore, bentar lagi ada pertemuan di hotel. Papa udah kasih tahu, kan?"
Keenan menepuk dahinya lantaran lupa dengan janji yang semalam dihimbau Tyrese akibat keasikan bermain bersama Reyjune.
"Kamu ada dimana emang?"
"Mmm—ini di rumah Reyjune, pa."
"Ya udah kamu langsung pulang. Baju baru kamu ada di kamar Jinan, soalnya kamar kamu baru bisa dipake besok."
"Iya, pa. Makasih."
"Pulang."
"Iya iya."
Keenan memutuskan sambungan lalu menaruh ponselnya pada saku celana. Ia berbalik dan segera dihujam pertanyaan oleh si adik. "Siapa, kak?"
"Papa. Dia nyuruh kita pulang sekarang."
"Yah—gak seru." Eluh Richene menjatuhkan bahu. "Cepet banget pulangnya."
Reyjune yang baru saja mematikan playstation segera menyergah, "mereka udah dari siang disini."
"Hm, ya udah sana. Hush!"
"Besok kan bisa lagi, Rich. Masih banyak waktu kok. Gue pulang dulu, ya." Pamit Jinan. "Bye."
Keenan ikut melakukan hal yang sama, berpamitan sebelum keluar dari mansion Qian. Seperginya Lee bersaudara, Richene bangkit dan berjalan menuju sofa untuk merebahkan dirinya di atas sana.
"Bibi! Beresin lego Richene, ya!" Perintahnya.
Mendengar itu Reyjune hanya bisa menggelengkan kepala lantaran telah lelah menegur si bungsu. Reyjune akhirnya memilih beranjak menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua, namun langkahnya terhenti begitu pintu utama mansion terbuka tanpa seizin siapapun.
Reyjune menoleh sepenuhnya untuk menunggu siapa orang itu, dan ketika menemukan kehadiran orang yang ditunggu, Reyjune membulatkan mata. "Baba!"
Reflek Richene bangkit, berlari ke arah Kun mendahului kakaknya yang berjalan secepat mungkin. "Baba pulang gak bilang-bilang!"
Kun tersenyum dan segera memeluk anak-anaknya. Ia sangat bahagia karena akhirnya sudah bisa kembali memeluk para Qian-nya di rumah. "Lihat, siapa yang ikut sama baba."
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fanfiction[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
