「finale 2」

11.3K 1.5K 145
                                        

Osaka, Jepang

"Jadi ayah kamu adalah Nakamoto Yuta dan ibu kamu—"

"Aoki Danela." Sambung seorang pemuda yang sedang duduk dengan sedikit membungkuk di hadapan seorang staff. Pemuda itu tengah mengurus registrasi berkas di dalam kampus barunya.

Staff yang membantunya dibuat terheran, mungkin saja karena anak dari Aoki Danela yang merupakan wakil rektorat baru universitas tersebut masuk sebagai mahasiswa baru melalui jalur reguler. Ia sama sekali tak menggunakan keistimewaan yang dimiliki pada tempat ibunya menjabat.

"Kamu benar anaknya—"

"Saya gak ada waktu buat merekayasa hidup, pak."

"Dan—wow. Nilai kamu luar biasa. Jauh dari rumor yang bilang kalau kamu itu manja dan pemalas."

"Maaf?"

Staff terdiam dan tersenyum kikuk akibat ucapannya yang tak berdasar. Ia segera membereskan data milik Nakamoto Dylan agar si mahasiswa baru lain tidak mengantre lama.

Sesudah sesi registrasi, Dylan segera keluar dari ruangan dengan langkahnya yang bangga. Tidak sia-sia ia belajar mati-matian dalam kurun 7 bulan serta mengurangi waktunya untuk bermain game dan motor. Terbukti, Dylan berhasil memperoleh nilai di atas rata-rata dan masuk ke universitas ternama di Osaka berkat hasil kerja kerasnya.

Meski kedua orangtuanya tergolong lebih dari mampu untuk menempatkannya berkuliah dimana pun, tapi Dylan rasa sudah cukup ia menjadi anak manja dan mengandalkan pemberian orangtua. Ia bertekad untuk menemukan jalannya sendiri. Selain itu, masih ada alasan lain kenapa Dylan memilih kampus ini.

"Gimana?" Sambut Yuta dengan raut tak tertebaknya saat melihat Dylan keluar dari gedung registrasi.

"Wih, lancar dong."

Yuta menghela nafas lega. Sebelumnya dia tak begitu yakin Dylan mampu melalui semua proses untuk masuk ke perguruan tinggi. Namun nyatanya, detik ini Yuta mengantarkan si sulung untuk melakukan registrasi sebagai mahasiswa baru.

Tiba-tiba Yuta memeluk Dylan, memberi ucapan selamat dan bangganya secara berulang kali. Yuta masih ingat bagaimana Dylan dulunya sangat keras kepala dan enggan belajar, tidak peduli tentang apa yang akan terjadi nantinya, tetapi detik ini Dylan sudah membuang sikap buruknya.

"Maaf pak saya sesak banget nih, hehehe. Seneng boleh, tapi anaknya nanti mati sesak nafas gimana hey gak jadi masuk kuliah." Protes Dylan membuat Yuta semakin mengeratkan pelukannya. "Buset—"

Usai menunggu beberapa detik, Yuta baru melepaskan pelukannya lalu menggenggam bahu Dylan. "Kamu jemput adek kamu disana." Yuta menunjuk area pepohonan yang terletak di seberang gedung registrasi. "Papa mau ambil mobil di parkiran, kalian tunggu disana. Oke?"

"Heh, papa kok berani banget biarin Rin sendirian?!"

"Ya kali papa kayak gitu?"

"Oh, ada mama ya?"

"Udah sana cepetan. Itu kerah kemeja kamu—benerin!"

Dylan menuruti perkataan ayahnya, sesekali mengecek ulang kemeja hijau gelap dan celana kain hitam yang sedang ia gunakan saat ini. "Jangan lama-lama, pa. Gak sabar nih traktiran ramen Jepangnya."

"Iya iya."

Dylan berbalik untuk menjemput adiknya, sementara Yuta berjalan menuju parkiran mobil dengan senyum riang yang masih terukir. Dylan terus mengedarkan pandangan dan tak lama berselang, ia menemukan Dyrin sedang tertawa lepas.

"Dyrin!"

Dyrin reflek berhenti tertawa. "Kakak!" Kemudian dia berlari menuju Dylan. "Kakak!"

"Kamu kenapa? Kok kayaknya bahagia banget?"

Superior MansionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang