Malam ini, kediaman Qian dihuni oleh 4 orang remaja lelaki dengan jalan pemikirannya masing-masing. Para maid yang bekerja sudah pulang meninggalkan mansion dan tentu saja, kedatangan Lee berasaudara membuat Qian Reyjune selaku anak sulung pemilik mansion lumayan pusing menghadapinya. Tidak, bukan karena Jinan yang tiba-tiba meminta tolong agar Qian bersaudara bersedia menampungnya semalam. Namun—hey! Sejak kapan Lee Jinan mempunyai seorang kakak?
Setelah mencari-cari lemari selimut—karena tentu saja Reyjune tidak tahu ranah pekerjaan para maid—remaja tersebut lantas menemukan banyak selebaran selimut di sebuah lemari khusus tak jauh dari kamarnya. Reyjune berdecak kesal karena dirinya sudah mengitari mansion, dan tujuannya malah tak jauh dari kamarnya. Dipilihnya dua lembar selimut tebal untuk diberikan pada Jinan dan kakaknya.
"Lo tenang aja, Ji." Reyjune mendengar adiknya menenangkan Jinan begitu ia memasuki kamar tidur. "Tidur aja dulu. Maaf ya, kita gak bisa di kamar tamu soalnya gue sama Kak Rey gak begitu tahu kunci-kunci dan blabla-nya itu gimana. Ribet."
Reyjune memutar bola matanya jengah, merasa si bungsu tak becus dalam menjelaskan. Reyjune lalu menyodorkan selimut yang dibawanya kepada Jinan dan Keenan yang berada di atas sebuah kasur, diletakkan tepat di tengah-tengah ruang yang memisahkan ranjang Reyjune dan Richene. Setelah itu, Reyjune duduk di tepi ranjangnya dan secara gamblang bertanya, "jadi—kita boleh kenalan dulu gak, kakaknya Jinan?"
Lumrah saja jika Reyjune seperti itu karena sedari tadi, lelaki tersebut hanya diam, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Keenan ragu harus menjawab 'Oh Kevin' atau 'Lee Keenan'. Ia tidak boleh ceroboh karena namanya saja belum pasti.
"Namanya Lee Keenan. Kak, ini Richene. Dan ini Kak Reyjune." Ujar Jinan mantap membuat Keenan sedikit termangu. Tidak menunggu waktu lama, Keenan pun mengulurkan tangannya dan berkata, "Keenan."
"Reyjune."
"Richene."
Ah, setidaknya Keenan bisa bernafas lega karena ada Jinan, adiknya yang bahkan menunjukkan penolakan sedikit pun akan kehadirannya.
• • •
8:15 am, Mansion Moon
Pagi ini, setelah sarapan bersama ayahnya, Yaheskiel hanya bisa merebahkan diri di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Rasanya Yaheskiel sekadar ingin melakukan kemalasan untuk seharian karena kesepian setelah ayahnya berangkat kerja. Namun tak lama kemudian, remaja Moon itu bangkit dari ranjang lalu berjalan menuju jendela. Meski matahari masih senang bersinar dengan terik di tengah langit, entah kenapa si tunggal yang satu ini tetap bersikukuh berdiri di balkon.
Brum brum!
Suara mobil menyita pendengaran Yaheskiel yang membuatnya sontak mencari sumber suara tersebut. Begitu menoleh dan memincingkan matanya, Yaheskiel melihat keluarga Seo yang sudah keluar dari kawasan tempat tinggal mereka, meninggalkan Superior Mansion untuk bertolak ke suatu tempat. Ah, mereka pasti akan pergi ke Chicago, tempat orang tua Seo Johnny atau kakek dan nenek Seo bersaudara tinggal.
Saat Yaheskiel melangkahkan kakinya lagi untuk masuk ke dalam kamar, ponselnya berdering. Yaheskiel mengeluarkan ponsel dari saki celana, menunjukkan nama Qian Richene, si laki-laki yang tak pernah absen untuk membuang pulsa dengan menelepon para anak-anak lain yang tinggal di kawasan yang sama tiap harinya.
"Halo, Rich. Kenapa?"
"Sini main ke mansion gue. Ada Jinan sama kakaknya. Bibi juga baru masak pasta."
"Oh, iya iya." Dan 3 detik kemudian mata Yaheskiel membulat. "Kakaknya Jinan?! Sejak kapan dia punya kakak?!"
"Pokoknya ini seru." Bisik Richene seolah sengaja membuat Yaheskiel tergoda untuk segera datang di kediamannya. "Cepet, terus kenalan sama Kak Keenan."
"Keenan? Keenan siap—ha-halo?! Ish, dimatiin!" Yaheskiel menatap layar ponselnya dan mendengkus kesal. Ia lalu melangkahkan kaki keluar dari mansion sembari menyerukan, "bibi! Kiel ke rumah Om Kun dulu, ya!"
Setelah keluar dari kediamannya, Yaheskiel buru-buru melangkah menuju Mansion Qian. Saat menghabiskan setengah perjalanan, tiba-tiba ada Tyrese yang menghampirinya bak mencari sesuatu yang hilang.
"Om Tyrese." Sapa Yaheskiel.
"Kiel, kamu lihat Jinan?"
"Bukannya Jinan ada di mansion Om Kun? Ini Kiel mau ikutan main kesana." Jelas Yaheskiel. "Yaheskiel juga mau kenalan sama kakaknya Jinan, om."
"Ka-kakaknya Jinan?"
• • •
California
"Dad?" Panggil seorang Jung Jonathan mencari-cari keberadaan sang ayah di seluruh penjuru kamar hotel tempatnya menginap. Meski Jonathan berusaha memanggil sebaik mungkin tapi hasilnya nihil, tak ada balasan sama sekali dari Jeffrey.
"Itu ponsel dad yang bunyi bukan sih?!" Seru Jonathan sekali lagi, tetapi tetap, sama saja. Dia hanya bermonolog. Begitu melirik ke arah nakas, Jonathan menemukan ponsel Jeffrey berdering di dalam sebuah tas kulit berwarna hitam yang terbuka. Baru saja Jonathan akan meraih ponsel Jeffrey, panggilannya terhenti membuat remaja itu mengendikkan bahunya tidak peduli dan kali ini berganti mencari ponsel miliknya.
Saat mendapati ponselnya, ternyata beberapa menit lalu Jonathan menerima sebuah pesan dari Jeffrey.
Daddy mau mengurus sesuatu. Kamu breakfast sendiri.
"Apaan sih? Kasih pesan tapi ponselnya sendiri ditinggal." Eluh Jonathan. Dan lagi-lagi ponsel Jeffrey kembali berderit, memancing amarah Jonathan yang telah mendengar sua itu berkali-kali.
"Oh my god, who the hell is that?" Kesalnya lalu mengambil ponsel Jeffrey dan mengangkat panggilannya secara paksa.
"Halo." Sala orang di seberang sana.
"Ini siapa, ya? Maaf. Daddy saya lagi keluar dan ponselnya gak dibawa. Kalau ada perlu, silahkan tinggalkan pesan. Kalau gak mau, silahkan lacak aja Pak Jung Jeffrey ada dimana." Jawab Jonathan jenuh yang sangat menggebu-gebu.
"Nathan?"
Perkataan orang itu membuat Jonathan mengerutkan keningnya dan terdiam. Secara bersamaan, ponselnya yang ada di atas ranjang ikut menyala, menghadirkan nama Nakamoto Dylan pada layarnya. Reflek Jonathan memutuskan sambungan sepihak akibat merasa risih
"Sok kenal."
Begitu dirinya hendak menjawab panggilan Dylan, tiba-tiba Jonathan dibuat berpikir, siapa orang asing atau rekan Jeffrey yang tahu dengan suara dan dirinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fanfiction[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
