22. good job, tyrese

9.7K 2.1K 196
                                        

Malam hari setelah menghadiri pertemuan keluarga, Jeffrey kembali dibuat risau karena sikap anaknya semakin berbeda. Entahlah, menurutnya Jeffrey, kian hari Jonathan berubah menjadi dingin, kian pendiam, tidak seperti dulu yang akan selalu mengawali paginya menyambut sang ayah dengan senyuman. Dulu Jonathan dikenal cerewet jika bertemu dengan sanak keluarga. Namun siang tadi, ia hanya menghabiskan waktu dengan sedikit tersenyum, diam, atau sekadar berkata ya dan tidak.

Ini bukanlah karena kendala bahasa mereka yang berbeda. Namun memang Jonathan tampaknya membangun dinding pembatas yang kokoh terhadap semua orang. Meski Jeffrey adalah ayah yang tegas, tapi tetap saja ia khawatir dengan perubahan ini.

"Nathan."

Panggilan Jeffrey tak begitu cukup membuat Jonathan menoleh.

"Apa kamu punya masalah?" Tanya Jeffrey sambil menatap lamat jalanan raya yang dilalui.

"Yeah, maybe."

Jeffrey menoleh pada Jonathan. "What is that, son?"

"Masalahku itu adalah kamu, dad."

Jeffrey tentu saja terkejut.

"Nathan udah tahu, Nathan tahu kalau daddy sebenarnya bohong perihal mommy." Jonathan tersenyum remeh, "my mom is still alive, right?"

"What are you talking about?"

"Nathan pernah dengar daddy ngomong sama dia lewat telepon dan—daddy tega biarin aku berpikiran kalau selama ini dia sudah meninggal?" Tubi Jonathan merenggangkan dasinya untuk menjeda sejenak perkataannya. "Sekarang, biarin Nathan tahun masalah daddy."

Jeffrey mengalihkan pandangannya keluar jendela lagi. "Gak untuk sekarang, Jung Jonathan."

"Melihat tatapan aneh keluarga yang seolah meremahkan daddy—itu membuat Nathan gak tahan, dad. Daddy seolah rendah di mata mereka apalagi kalau mereka mengungkit tentang mommy. Banyak yang membuat Nathan semakin gak bisa mengontrol emosi sendiri. And you just asked why?"

"Ayolah dad, setidaknya jujur kalau dad juga mau aku seperti itu."

Penjelasan dan bujukan Jonathan tidak mendapat jawaban apa-apa dari Jeffrey. Secara bersamaan mobil yang membawa mereka sudah tiba di hotel. Kesal dengan diamnya Jeffrey, Jonathan memutuskan turun lebih dulu, meninggalkan Jeffrey yang merasakan pita suaranya tertahan untuk mengucapkan semua kejujurannya.

Meski itu telah lama berlalu, namun Jung Jeffrey masih sangat kaku menghadapi desakan si tunggal yang seperti itu.

• • •

Mansion Lee

Keenan menatap dirinya melalui dipantulan cermin cukup besar yang berada di kamar adiknya. Ini sudah sehari berlalu, semenjak ia dibiarkan menetap di kediaman Lee. Meski begitu, Keena belum pernah bertemu dengan Tyrese sekalipun. Keenan dibuat berpikir jika ia hanyalah beban dalam keluarga ini. Kedatangannya secara tiba-tiba, dirinya sebagai anak yang mungkin tidak diharapkan, statusnya yang bahkan sangat tidak jelas dibanding Jinan.

"Kak." Panggil si bungsu membuyarkan lamunan Keenan.

Lelaki itu tersenyum tipis menanggapi adiknya. "Kenapa, Ji?"

"Kakak lagi ngapain?" Tanya Jinan sambil mendaratkan diri di tepi ranjang.

"Cuma mikirin sesuatu. Ngomong-ngomong—" kalimat Keenan yang menggantung membuat Jinan menoleh sepenuhnya. "Kayaknya kakak mau balik ke Thailand aja. Mungkin tempat kakak bukan disini."

Reflek Jinan bangkit. "Kenapa, kak? Kakak disini aja tinggal sama Jinan."

"Lo bakal kehilangan sosok papa yang dulu kalau gue disini."

"Papa gue ya papa kakak juga. Positive thinking, kak. Mungkin papa lagi sibuk ngurusin sesuatu di kantor. Lagian kan, papa juga jarang di mansion. Kalau ada urusan mendadak dia juga jarang kasih tahu Jinan."

Keenan menghela nafas berat. Apa dengan kembali ke Thailand dan bertemu ibunya, adalah suatu hal yang bagus untuk mengakhiri ini semua? Apa Tyrese akan bahagia jika Keenan berhenti memperjuangkan keinginannya? Bagaimana dengan keluarga Lee yang ada disana? Bagaimana dengan pernikahan ibunya bersama Ten?

Saat Keenan sibuk memikirkan itu semua, tiba-tiba darang seorang maid yang mengetuk pintu kamar Lee Jinan. Si pemilik kamar menyahut, "masuk."

"Maaf, tuan Tyrese memanggil untuk makan malam, tuan Jinan."

"Sana, Ji." Ucapa Keenan.

"Tuan Keenan—juga."

Keenan sontak membulatkan matanya seolah tak percaya, yang benar saja? Batinnya. Jinan yang juga mendengarnya itu sempat mematung sesaat. Tak ingin papa menunggu, Jinan segera menarik tangan Keenan. "Ayo kak, kita makan malam." Ajaknya.

Keenan terdiam sesaat, mencerna dan menetralkan pikirannya. Selang beberapa detik, ia akhirnya mengangguk dan ikut bangkit, berjalan di belakang Jinan menuju ruang makan dengan interior klasik nan megah milik Lee Tyrese.

Tentunya sudah ada si pemilik yang duduk di tahtanya sendiri, seolah menunggu kehadiran anak-anak yang mulai hadir. Saat Jinan dan Keenan sudah benar-benar menampakkan dirinya, Tyrese berdehem. "Duduk, mulai sekarang kalian harus makan malam tepat waktu."

Jinan mengembangkan senyumnya walau Tyrese terlihat enggan menatap kedua anak itu untuk sekarang. Tyrese duduk di tengah-tengah kedua remaja Lee tersebut, memulai makan malamnya dengan senyap. Sepertinya agak canggung, karena tidak ada pembicaraan serius maupun ringan yang terdengar setelahnya. Beberapa maid yang datang untuk membawa hidangan penutup pun merasa sedikit hawa di ruang makan terasa dingin dari ruangan lain.

Tyrese sendiri benar-benar diam dalam lahapnya. Sesekali Keenan mendongak, agak ragu untuk mengunyah makanannya. Bahkan ia hanya makan sedikit karena takut dengan diamnya sang ayah. Jinan terlihat santai, seolah tidak ada masalah yang sedang terjadi. Entahlah, mungkin hanya Keenan yang terlalu terbebani akan semuanya.

Saat Keenan masih saja menatap makanannya, mendadak sodoran beberapa lembar sayur muncul dipandangannya. Ia melihat siapa yang berbaik hati mengingatkannya untuk mengkonsumsi makanan hijau tersebut. Dan itu adalah Lee Tyrese, masih dengan wajah datarnya. "Kalau kamu gak mau bodoh, jangan lupa makan sayur."

Keenan mampu merasa semua organ dalam tubuhnya seolah terjatuh, saking senangnya dengan hal kecil yang telah dilakukan oleh Tyrese sebagai sosok ayah yang selama ini ia cari, bukannya Ten.

"Kamu baru liburan kan, Keenan?" Tanya Tyrese membuat Keenan terkejut lagi. Sementara Jinan mengulum senyumya, merasa saaangat senang melihat keluarganya.

"Iya—papa."

Tyrese mengangguk paham. "Papa akan mengurus kepindahan kamu kesini secepatnya. Papa masih dalam pembicaraan sama keluarga, termasuk Om Ten dan mama kamu." Jelasnya. "Kamu sendiri sudah yakin mau tinggal sama papa dan Jinan?"

Tentu saja Keenan mengangguk semangat, terlebih dengan adiknya yang sudah sangat bangga bersama mata yang berbinar. Meskipun Tyrese masih terlihat dingin, namun senyuman tipisnya mampu membuat dirinya terlihat begitu hangat untuk berada di tengah-tengah kedua anak laki-lakinya.

Oh Tuan Lee Tyrese, kau telah melakukan yang terbaik untuk dirimu, juga kedua malaikat tampanmu.

Superior MansionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang