"Daddy pulang." Seru Seo Johnny seraya mengelus tengkuknya dan berjalan dari pintu utama mansion menuju ruang makan. Nampak jas hitam kantoran yang menggantung di bahunya. Hari ini, Johnny sengaja meminta maid untuk menyiapkan makan malam karena sudah tiga hari belakangan ia tidak makan malam bersama kedua putranya.
"Bi, Marcel sama Dean mana?" Tanya Johnny saat mendapati ruang makan hanya terisi oleh perabotan dan makanan. "Mereka ada di mansion, kan?"
Seorang maid paruh baya mengangguk. "Mereka ada di kamar, tuan."
Baru saja Johnny akan meminta kepada maid untuk memanggil keduanya, tiba-tiba Dean muncul dan menyapa. "Hi, dad."
"Where is your brother?"
"Ada di kamarnya kali." Balas Dean seperlunya.
Johnny pun kembali melangkah menuju ruang tamu dan meneriakkan nama si sulung. "Seo Marcel!"
Butuh beberapa detik untuk Johnny mendengar derit sebuah pintu kamar bersuara. Tak menunggu waktu lama, Marcel muncul seraya membenarkan rambut cokelatnya yang berantakan.
"Sorry, dad. Marcel ketiduran."
Johnny yang tengah berkacak pinggang dengan raut wajah yang sedikit kesal memilih memaklumi kondisi Marcel yang juga terlihat tidak seperti biasanya, tidak begitu fit. "You okay?" Tanya Johnny menyebabkan Marcel heran.
"Yeah—I'm okay."
"Okay, then. Kalau gitu kita ke ruang makan, kita dinner bareng."
Marcel mengangguk, mengikuti langkah ayahnya menuju ke ruang makan. Setibanya disana, Johnny tak sengaja melihat Dean yang melirik Marcel sejenak dengan tatapan dinginnya. Johnny berprasangka, menerka jika si kembar Seo hanya berselisih paham sebagai saudara. Lagipula, mungkin mereka berdua belum terlalu mood setelah beristirahat di kamar masing-masing sejak pulang les.
Seperti kebiasaan mereka, Johnny duduk di tengah-tengah Marcel dan Dean yang berseberangan. Namun yang membuat pria Seo itu merasa ganjak, makan malam kali ini terasa begitu aneh dan senyap. Tak ada celotahan maupun sahutan dari si kembar. Sepertinya memang ada masalah serius yang terjadi di antara keduanya.
"You—both." Awal Johnny tanpa melihat siapa pun. "Apa ada masalah?"
Otomatis Marcel dan Dean saling memandang satu sama lain. Sudah tidak mungkin ayah mereka tahu tentang masalah bodoh ini. Seo Marcel berdehim sebelum menjawab dengan rileks. "Gak ada kok, dad."
Johnny mengunyah irisan steak-nya seraya menaikkan satu alis karena curiga. Beberapa detik ia habiskan untuk menelan kunyahannya. "Jadi siapa itu Kwon Lillian?"
Baik Marcel maupun Dean dibuat terdiam di tempat mereka akibat lontaran Johnny.
"Siapa di antara kalian yang berani melanggar janji untuk gak punya pacar sampai kalian menyelesaikan pendidikan?" Karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya, Johnny pun menyambungkan, "daddy trust you Marcel, Dean. Daddy gak sebodoh yang kalian kira, kok. Kalian tahu itu, kan?"
Pria itu mengiris steak-nya di tengah-tengah kesunyian karena Marcel dan Dean tak kunjung berbicara. Johnny pun memberi final untuk dialog permasalahan mereka. "Dua hari lagi kita berangkat ke Chicago. Mulai besok kalian packing pakaian dan barang. Satu lagi, daddy gak mau melihat ada hal-hal seperti ini lagi di rumah nenek kalian."
• • •
"Iya, iya. Saya sudah ada di Korea sekarang." Suara Moon Taeil menginstrupsi pendengaran Moon Yaheskiel yang sedang serius memperhatikan jalanan masuk tempat mereka tinggal. "Ya sudah, kalau begitu kita adakan meeting-nya besok pagi saja. Karena saya masih harus menemani anak saya."
"Ayah, Kiel gak apa-apa—" Yaheskiel terhenti tatkala ayahnya mengisyaratkan agar dirinya tidak berbicara.
"Baik, baik. Terima kasih banyak sebelumnya." Taeil pun menutup telepon dan menoleh kepada Yaheskiel. "Maaf ya nak. Gara-gara ayah, liburan kamu malah begini."
"Gak apa-apa, yah. Serius, Kiel malah seneng kok bisa cepet pulang."
Taeil berusaha tersenyum lalu melihat mansion Moon sudah muncul di depan mata. Ia merenggangkan ototnya sejenak usai melakukan perjalan panjang. "Ayo kita masuk. Kamu mau makan malam atau langsung istirahat?"
"Istirahat aja, Yaheskiel capek banget soalnya."
"Ya sudah, kamu langsung masuk ke kamar aja, ya? Barangnya nanti dibawa sama ayah dan om supir. Kamu belum bisa angkat yang berat-berat."
Yaheskiel mengangguk paham dan segera turun dari mobil untuk melakukan permintaan ayahnya. Sesaat setelah menutup pintu mobil, remaja itu terdiam di tempatnya dan mengamati satu persatu mansion yang berada di sekitaranya. Kata Richene, malam ini ia akan mengantar baba-nya ke airport bersama Reyjune. Jonathan dan daddy-nya sudah berangkat ke California, begitu juga Dylan yang belum pulang dari Osaka dengan keluarganya. Saat melihat mansion Lee, dahi Yaheskiel mengerut.
Apa Om Tyrese dan Jinan sudah— "Loh? Bukannya itu Jinan?" Gumam Yaheskiel melihat si tunggal Lee menunduk seorang diri dengan memeluk kedua kakinya di balkon kamar. Baru saja Yaheskiel berniat menyerukan nam Jinan, tiba-tiba sumber keributan muncul dari salah satu mansion.
Bugh!
"Brengsek lo!" Seru Marcel setelah memberi Dean sebuah kepalan tangan di wajahnya. "Apalagi yang mau lo ambil dari gue, hah?!"
Yaheskiel terkejut melihat Dean berdiri tegap dan mendadak membalas pukulan Marcel. Tak menunggu waktu lama, Taeil muncul setelah sebelumnya berniat memanggil Yaheskiel masuk. Pria itu sontak berlari guna melerai perkelahian Marcel dan Dean yang selama ini dikenal sebagai sepasang saudara tak bermasalah. Melihat ayahnya yang berusaha menahan Marcel, Yaheskiel ikut menarik Dean agar menjauh.
"Maju lo! Pukul gue lagi, pukul!" Teriak Dean.
"Seo Marcel! Seo Dean!" Kini terdengar suara Johnny bersama amarahnya. Wajahnya memerah, keluar dari dalam mansion menghampiri Marcel terlebih dulu. "Masuk ke dalam."
"Marcel gak bisa kalau—"
"Saya bilang kamu masuk ke dalam!"
Semua orang yang mendengar Johnny tersentak, ini merupakan pertama kalinya pria Seo itu menggertak salah satu anaknya di depan mansion. Taeil berusaha melepaskan tangan Johnny dari Marcel, berusaha menenangkannya dengan berbisik agar Marcel menuruti perkataan ayahnya. Si sulung lantas mendengkus kesal, berjalan masuk ke dalam kediamannya dengan langkah terpaksa.
Begitu Marcel sudah berada di dalam mansion, Johnny melirik sinis pada Dean yang berjarak beberapa meter di hadapannya. Remaja itu masih dicegat oleh temannya, Yaheskiel.
Tak lama berselang Johnny berkata, "saya tahu kalau kamu masih mau menjadi anak saya, Seo Dean." Ujarnya singkat, padat, dan jelas, namun sukses menerjang rasa tegang pada atmosfer sekitarnya. Dean masuk usai menelan salivanya secara paksa, ikut menuruti maksud dari ucapan Johnny untuk masuk ke dalam mansion.
"Maaf untuk masalah ini, Moon." Kata Johnny pelan pada Taeil setelah Dean menghilang dari pandangan mereka. "Lo baru aja pulang tapi mereka—"
"It's okay, John. Selesaikan dengan baik-baik, ya. Gue tahu lo adalah orangtua yang berusaha bijak untuk si kembar." Balas Taeil menepuk pundak Johnny. Ia lalu berpamitan, memanggil Yaheskiel untuk masuk ke dalam mansion.
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fiksyen Peminat[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
