Pukul 7 pagi, Lee Tyrese meminta anak tunggalnya untuk segera bersiap-siap karena sebentar lagi mereka akan berangkat ke bandara. Keduanya akan bertolak menuju Thailand, menemui saudara Tyrese yang bernama Lee Ten.
Saat Tyrese masih berada dalam kamar mandi, Jinan terus-menerus mencari ayahnya karena sepertinya sedang membutuhkan sesuatu.
"Papa? Papa!" Jinan meninggikan suaranya dan memilih masuk ke dalam kamar Tyrese yang lowong. Remaja itu mengitari kamar sang ayah untuk mencari-cari benda yang dibutuhkan. "Papa punya sapu tangan lebih, gak? Punya Jinan hilang semua."
Jinan tidak mendengar sahutan apapun dari Tyrese yang sedang sibuk membersihkan badannya di dalam sana. Beberapa detik berselang Jinan tersadar, jika Tyrese tidak akan menjawabnya jika sedang berada di kamar mandi. Tyrese sudah selalu mengingatkan Jinan agar tidak boleh berbicara apapun selagi berada di dalam kamar kecil.
Akhirnya Jinan sendiri yang kembali mencari sapu tangan di lemari Tyrese, membuatnya membuka semua bagian lemari, bahkan pada bagian sudutnya sekali pun. Lemari Tyrese yang tidak kecil membuat Jinan kebingungan. Bukannya menemukan sapu tangan, Jinan malah menemukan sebuah album foto yang tersimpan begitu saja di bawah deretan jas kantor milik Tyrese. Tangan Jinan meraih benda tersebut, membuka lembarannya dan mendapati foto dari keluarga kecil yang sangat Jinan yakini bahwa itu adalah foto keluarganya.
"Mama—" lirih Jinan saat melihat foto Tyrese bersama seorang wanita dan dirinya saat bayi. Jinan tahu bayi itu adalah dirinya, karena Jinan memiliki foto yang diabadikan menggunakan baju rajut yang sama.
Jinan menghampiri ranjan, duduk di tepinya ranjang berusaha mengontrol batin diri yang membuncah usai sekian lama ingin bertemu dengan sosok yang dipanggilnya dengan sebutan 'mama'. Kemanakah ibunya selama ini? Kemana sosok yang dulu telah melahirkannya?
Tiba-tiba foto di tangan Jinan dirampas oleh sang ayah. Jinan mendongak, memandang Tyrese dengan sorot mata pilu. Namun meski Jinan terus berusaha mendesak Tyrese agar mempertemukan dirinya dengan wanita tersebut, Tyrese tidak akan luluh dan bergerak mewujudkan keingingan anaknya ini.
"Pa, Jinan mau ketemu mama, please." Eluh Jinan menatap Tyrese.
"Lee Jinan, dengar papa." Pria itu menghela nafas seraya menggenggam kedua tangan Jinan. Tak lama kemudian ia berjongkok di depan Jinan, dengan sorot matanya yang sendu berusaha meminta pengertian Jinan. "Alasan utama papa melarangkan banyak hal ke kamu itu karena perempuan ini, Nan. Papa gak mau, kalau kamu sudah dewasa, kamu akan bernasib sama kayak papa."
"Apa? Papa kenapa? Papa sukses dan punya kekayaan, nyaris memiliki segalanya. Papa punya Jinan yang mau untuk terus menuruti papa. Apalagi, pa?"
"Kamu ingat cerita papa tentang semasa kamu kecil, papa harus menerima kebangkrutan, kan? Semua—semuanya berawal dari sana, Jinan. Tolong, kamu harus bertahan dengan kata-kata papa, ya? Kalau kita sudah tiba di Thailand, papa janji papa akan menuruti semua kemauan Jinan."
"Jinan cuma mau ketemu mama, pa. Sekali aja, please."
"Lee Jinan, sebentar lagi kita akan berangkat. Kamu mau batalin penerbangan yang dikhususkan buat kita dari Om Ten?"
Jinan menghela nafas pasrah mendengar nama pamannya disebut. Tak lama berselang, Jinan mengangguk setuju. Ya udah, Jinan mau ke kamar dulu."
"Papa tahu, kalau Lee Jinan itu anak baik dan penurut." Balas Tyrese mengusap puncak kepala Jinan. Jinan pun bangkit, dengan langkah gontainya pergi meninggalkan kamar Tyrese.
• • •
"Huuu, curang, curang." Ejek Richene yang sedang berada di depan Mansion Lee. Remaja berkulit putih itu sengaja mengejek Jinan karena kini Jinan tega meninggalkan Richene untuk berlibur ke Thailand.
"Gue cuma 5 hari doang kok. Bilang aja kalau lo dengki karena Om Kun gak izinin lo liburan ke kampung. Kebanyakan beli gundam sih."
Richene memutar bola matanya malas, sedangkan Tyrese yang tak mendengar dengan percakapan kedua remaja itu berkata, "Rich, kok kamu gak ikut babamu ke Beijing?"
"Enggak, om. Kata baba, lain kali." Jawab Richene lesu.
"Kebanyakan beli gundam dia, pa. Kasihan Kak Rey ikutan dihukum gak ikut liburan."
"Aduh, kasihan. Ya udah, biar kamu gak sedih, kamu bilang aja mau om beliin apa di Thailand? Biar nanti kalau om sama Jinan udah pulang, ada oleh-oleh khusus buat Richenr."
"Wah, yang bener, om?!" Pekik Richene.
Begitu Tyrese mengangguki pertanyaannya, Richene lantas menyebut semua keinginan yang dapat Tyrese temukan saat di Thailand nanti. Jinan mendecih kesal karena Richene meminta terlalu banyak barang, tetapi Tyrese sendiri malah tersenyum lebar sambil mengiyakan permintaan anak bungsu Qian Kun.
"Itu sih sedikit. Nanti om bawain pokoknya."
"Astaga." Gumam Jinan menutup mulutnya.
"Hehehe, makasih banyak, om!"
"Sama-sama. Oh iya, baba sama kakak kamu mana?"
"Mereka masih sarapan, om. Aku sengaja cepet-cepet makan biar bisa lihat om sama Jinan berangkat. Oh iya, baba juga titip salam."
Tyrese mengangguk paham, kemudian berpamitan pada Richene sebelum masuk ke dalam van. Keluarga Lee pun beranjak, meninggalkan Richene serta kediaman mansionnya. Richene akhirnya berbalik setelah melihat van keluarga Lee keluar dari area The Superior Mansion, melangkah dengan gontai untuk kembali ke mansion Qian.
Begitu kakinya baru saja menapak beberapa langkah, suara seorang wanita tiba-tiba menginstrupsi pendengarannya.
"Maaf, dik?"
Richene menoleh, mendapati seorang perempuan sebaya babanya menggenggam secarik kertas di tangannya. Remaja Qian itu menjawab, "iya, kenapa ya?"
"Kediaman Jung Jeffrey—dimana, ya?"
Pertanyaan wanita tersebut membuat Richene mengerutkan keningnya. Beruntungnya Richene teringat oleh nasihat sang baban jika ia tidak boleh memberitahukan informasi terkait mansion dan pemilik-pemiliknya disini.
"Aduh, satpam di luar lagi bobo kali, ya?" Tebak Richene bersama dirinya sendiri.
"Maaf, dik." Kata wanita itu lagi menghamburkan lamunan Richene.
"Eh, maaf. Setahu saya, disini gak ada yang namanya Jung Jeffrey. Permisi."
Richene melenggang begitu saja, mempercepat langkahnya agar segera sampai di dalam mansion untuk meninggalkan wanita yang masih saja berusaha mencari tempat tinggal Jung Jeffrey dan Jung Jonathan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fiksi Penggemar[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
