39. gelisah yang tak berujung

7.3K 1.5K 77
                                        

Pagi hari untuk kesekian ribu kali kembali tiba. Sinar mentari membuat seorang pria berdarah Jepang terbangun lebih awal guna berkemas. Setelah itu ia berjalan masuk ke dalam sebuah kamar yang luas. Kaki jenjangnya menghampiri jendela besar milik sang putra, menggeser kain gorden tebal untuk membiarkan cahaya-cahaya masuk menggantikan lampu tidur yang telah diredupkan.

"Lan, kamu gak sekolah?" Tanya Nakamoto Yuta saat mendengar si sulungnya melenguh. "Kamu sekolah, gak? Ini hari senin."

"Enggak, besok aja." Dylan menurunkan selimutnya sebatas pinggang, menoleh pada Dyrin yang juga ikut membuka mata di sampingnya. "Pagi, cantik." Sambut Dylan memeluk adiknya dan kembali memejamkan mata bersama.

Yuta tidak marah saat Dylan menolak untuk tidak sekolah hari ini. Yuta paham, Dylan sebagai seorang kakak bisa saja trauma atau masih khawatir sejak insiden penculikan Dyrin kemarin. Pria itu hanya mengangguk setuju, kemudian menghampiri Dyrin untuk dikecup keningnya.

"Ayo sayang, bangun." Ajak Yuta. "Kita sarapan Sushi kesukaan kamu. Kamu juga cepetan bangun, Lan."

"Sushi sepagi ini apa gak—"

"Sushi kan buat Dyrin bukan buat kamu."

"Iya, yaudah." Pasrah Dylan menatap kepergian Yuta dari dalam kamarnya.

"Papa tunggu, gak pake lama." Ujar Yuta sesaat setelah kembali menutup pintu kamar.

"Kakak." Panggil Dyrin dengan volume kecil. "Kak Jean mana? Kenapa dari kemarin dia gak ada?"

Sontak Dylan membuka mata dengan lebar. Dylan menoleh, menemukan wajah Dyrin yang sedih di sampingnya.

"Kak Jean kok gak datang? Dyrin juga rindu sama dia. Apa Kak Jean gak sedih Dyrin pergi?"

Tangan Dylan mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Nanti kakak telpon, ya. Dia bakalan datang, kok."

"Janji?"

"Iya, kakak janji." Dylan akhirnya bangkit untuk menyibakkan selimut. "Ayo, cuci muka dulu. Nanti papa marah lagi kalau nunggu lama."

"Janji Kak Jean bakalan datang hari ini."

Dylan menghelan nafas berat. "Iya, Rin. Iya, dia bakalan datang, kok. Tenang aja. Ayo sini."

Lelaki Nakamoto itu merentangkan tangannya agar Dyrin bisa masuk pada pelukannya. Setelah Dyrin mengikuti isyarat sang kakak, Dylan kemudian turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar kecil untuk membasuh wajahnya serta wajah Dyrin.

Selepas itu, Dylan dan Dyrin menuju ke ruang makan, menemukan Yuta yang masih menunggu seraya mengutak-atik layar ponselnya.

"Papa." Panggil Dyrin sambil mengucek mata kanannya dan menghampiri Yuta.

"Kenapa, sayang? Hati-hati nanti kepala kamu kena ujung meja." Yuta segera meraih Dyrin untuk didudukkan di atas pangkuannya.

Dylan tak langsung mendaratkan diri di atas kursi, namun ia terlihat sedikit menjauh dan mencari-cari sesuatu pada ponselnya.

"Lan, kamu belum minum air langsung main ponsel lagi."

"Bentar, pa. Aku mau nelpon Jean dulu, daritadi Dyrin nyari dia soalnya." Balas Dylan berusaha menghubungi ponsel Jeanne. Sayang, sepertinya ponsel Jeanne sulit dihubungi. Terlihat dari gerik Dylan yang masih bolak-balik melihat ponsel, menempelkannya ke telinga, dan kembali melihat layarnya. Itu semua terus terulang sekama beberapa kali.

"Kok gak diangkat, sih?" Eluhnya. Hingga menghabiskan waktu beberapa menit pun, Jeanne tak kunjung menjawab panggilannya.

"Gak usah dipaksa, Lan. Mana tahu dia lagi gak pegang ponsel." Tegur Yuta agar Dylan menghentikan kegiatannya.

Superior MansionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang