Pukul 02:00 dini hari, seorang Nakamoto Dylan nampaknya masih terjaga dari tidur. Ia merasa sulit memejamkan matanya karena efek kopi yang tadi sengaja ia coba. Padahal Yuta sudah memperingati Dylan karena khawatir tidurnya akan terganggu. Dan tentu, hai itu terjadi. Kakak lelaki dari Dyrin ini sampai kesal sendiri.
Dylan melirik Yuta yang kini sudah terlelap. Lalu ide gilanya mendadak muncul. Dylan menyibakkan selimutnya, bangkit dan seraya mengendap-endapkan kaki agar tidak membangunkan si papa. Ia keluar dari kamar inapnya dan memilih untuk berjalan-jalan sejenak agar lelah menghampirinya. Namun, belum sampai Dylan menapak sebanyak tiga kali dari depan pintu kamarnya, telinganya menangkap suara kesibukan dari dalam kamar Dyrin dan Jeanne.
"Kakak Jean, maafin Dyrin." Samar-samar Dylan mendengar suara tangisan kecil adiknya.
"Iya gak apa-apa, Rin. Udah gak usah nangis lagi, ya. Ranjangnya biar kakak yang beresin."
"Kakak Jean—" lirih Dyrin walaupun Jeanne sudah menasehatinya. Ini membuat Dylan penasaran, jemarinya reflek menekan bel kamar itu. Dalam prasangka Dylan, persetan jika ia akan mengganggu Jeanne. Yang penting saat ini Dylan harus memastikan apa yang telah terjadi pada adiknya. Butuh waktu tak sebentar untuk Dylan menemukan pintu dibuka oleh Jeanne.
"Dylan?" Ucap Jeanne dengan menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Kenapa?"
"Adek gue kenapa?"
Jeanne membuka pintu lebar-lebar, "dia ngompol."
Hal pertama yang terbersit di otak Dylan adalah 'harus menahan tawa'. Ya Tuhan—bagaimana bisa Nakamoto Dyrin mengompol disaat-saat seperti ini? Ia lantas melewati Jeanne, menemukan Dyrin sepenuhnya yang berdiri di samping ranjang setelah menggunakan piyama baru. Ranjang milik keduanya juga telah basah karena Dyrin yang mengompol.
"Jadi kalian berdua tidurnya gimana?" Tanya Dylan.
"Gue udah menghubungi petugas hotel. Mungkin sebentar lagi dia datang." Jawab Jeanne yang membuat Dylan berhenti menatapnya dan beralih pada Dyrin.
Dylan mengusap kepala Dyrin."Rin mau bobo sama kakak aja, gak? Ada papa juga, kok."
"Gak mau. Rin mau sama Kak Jean aja."
"Tapi bobo-nya mesti nunggu ranjangnya dibersihin sama spreinya diganti dulu."
Tanpa memperdulikan perkataan kakaknya, Dyrin berjalan melewati Dylan dan menghampiri Jeanne. Gadis kecil itu sedikit merengek agar digendong oleh Jeanne karena merasa kantuknya sudah kembali menyerang. Dengan senang hati Jeanne menenangkan si nona muda sembari menunggu petugas datang. Walaupun remaja perempuan Kim ini terlihat sangat lelah, tetapi ia mungkin lebih tak bisa melihat Dyrin kewalahan.
Ketanggalan Jeanne dalam mengasuh Dyrin membuat hati Dylan sedikit luluh, Jeanne benar-benar memegang tanggungjawab yang tidak mudah.
Akhirnya petugas hotel datang. Dylan berkata, "biar gue yang urus."
Dahi Jeanne dibuat mengerut melihat tingkah Dylan yang baru saja membantunya mengurus hal-hal kecil seperti ini. Hm—tidak seperti biasanya. Dylan segera berbicara pada petugas agar ranjang dibereskan. Saat Dyrin mulai terlelap, Jeanne duduk sebentar dengan mata sayunya sambil menunggu ranjang dibersihkan. Diluar kendalinya, Jeanne pun terlelap saking lelahnya menanggapi pekerjaan malam ini. Bahkan saat petugas sudah merampungkan pekerjaannya dan beranjak dari kamar, Jeanne masih tidur di atas sofa dengan posisi duduk dan memeluk Dyrin.
Langkah seorang Dylan perlahan mendekatinya karena berniat membangunkan gadis itu, namun tiba-tiba Dylan mengurungkan nianya. Entah mahkluk mana yang menghasut Dylan agar dirinya duduk tepat di samping Jeanne. Ia memperhatikan wajah Jeanne sebentar, mendadak mendengkus sendiri.
Sepersekian detik berlalu, Dylan terkekeh, entah karena apa. Melihat Dyrin seperti ini, Dylan merasa Jeanne sudah sangat layak menjadi kakak Dyrin juga. Ya—walaupun Dylan sendiri terkadang masih merasa sebal tanpa sebab padanya.
Dylan mendaratkan kepala di atas bahu Jeanne. Ah, jadi begini rasanya jadi Dyrin. Sebuah rasa itu memeluk jiwa Dylan. Nyaman. Rasa yang Dyrin sendiri sudah sejak lama dialaminya, sejak pertama kali diasuh oleh Kim Jeanne. Sebodoh itu kah Dylan selalu memarahi Jeanne tanpa sebab hingga ini, ia bahkan sadar jika orang seperti Jeanne pun selalu melewati masa sulit juga? Dylan tak tahu kenapa Jeanne memutuskan menjadi pengasuh di masa mudanya, mengambil beberapa pekerjaan lain saat ia sendiri masih sekolah.
Dylan rasa Jeanne tidak begitu cantik. Tapi—ah, perasaan dan pikiran macam apa ini?
• • •
Pagi hari yang cerah di Bangkok menyambut mata kecil Jinan yang kini berada dalam kediaman Keluarga Lee. Remaja berpostur tubuh tinggi itu lalu mengerjapkan matanya, merenggangkan otot seraya menendang selimut putih yang melilit di kakinya. Jinan bangkit dan menuju ke kamar kecil untuk membasuh wajahnya. Setelah itu ia kembali ke tepi ranjang untuk meneguk segelas air putih.
Tiba-tiba Jinan mendengarkan notifikasi dari ponselnya, menunjukkan pesan baru dari Tyrese.
Papa bareng om kamu lagi joging. Kalau mau sarapan, kamu ke ruang makan aja. Siapa tahu nanti ketemu opa dan oma.
Ah—yang benar saja? Ia harus bertemu kakek neneknya for the first time?
Ya. Sejak ia tiba di Thailand, Jinan tak sempat bertemu dengan kedua kakek dan neneknya lantaran urusan bisnis mereka di Belgia, menyebabkan kepulangan mereka ikut tertunda hingga tadi malam. Jinan hanya bisa menghabiskan waktu bersama Kevin tanpa bertemu Opa dan Oma.
Setelah menghabiskan waktunya untuk melamun, Jinan pun berdiri dan beranjak keluar dari dalam kamarnya menuju ruang makan. Belum sempat ia memasuki ruangan tujuan, seorang wanita berjalan melewatinya dengan sangat terburu-buru. Jinan acuh tak acuh, mengendikkan bahunya tak peduli.
Begitu Jinan menoleh ke dalam ruang makan, sudah ada Opa, Oma dan Kevin di meja makan. Oh, ini adalah hari minggu. Jadi Jinan tidak heran kenapa Kevin yang notabene-nya hanya anak dari calon istri Ten sudah berada di meja makan Keluarga Lee untuk sarapan bersama.
"Nan." Panggil Kevin membuat semua orang menoleh pada Jinan.
Oma dan Opa sedikit terkejut melihat kehadiran cucu mereka. Sontak Jinan merasa kikuk, berjalan dengan langkah perlahan kepada Oma dan Opa.
"Lee Jinan." Nyonya Lee berdiri segera memeluk Jinan untuk pertama kalinya. Reaksi yang berada diluar dugaan. Jinan kira kakek neneknya akan menatap sinis dirinya bak di film-film dramatis yang enggan menerima cucu sepertinya. Tidak heran jika Jinan berpikir demikian, toh Jinan juga sudah tahu sebagian cerita kelam dari Lee Tyrese.
Jinan bergeser ke sebelah Kevin, tepat di sebelah kanan Opa yang juga mengukir senyum hangat. Dunia Keluarga Lee ternyata semenyenangkan ini, dude.
"Sayangnya lo gak sempet ketemu mama gue." Kata Kevin. "Dia baru aja keluar, tiba-tiba ada urusan mendadak."
Jinan mengangguk seolah berekspresi, oh—yang tadi lewat. "Lo dititip disini lagi ya, kak?"
"Yes, seperti bisa." Kevin tersenyum tipis.
Detik demi detik berganti, suasana sarapan menjadi menyenangkan karena obrolan-obrolan ringan yang terjadi. Kedua kakek dan nenek Jinan berlomba-lomba memberi sarapan khas Korea ke atas mangkuk nasi milik remaja lelaki itu. Membawa kehangatan dan kebahagiaan bagi Jinan yang akhirnya merasakan kehadiran anggota keluarga lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fanfiction[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
