Hari ini keluarga Nakamoto telah kembali ke Korea bersama Kim Jeanne. Ini tentunya menjadi penanda bahwa sebentar lagi liburan si anak sulung dari Nakamoto Yuta akan berakhir. Keempat orang itu berjalan keluar dari pintu kedatangan, segera memasuki sebuah restoran cepat saji karena si nona kecil Dyrin sedari tadi merengek kelaparan. Oh, gadis kecil itu memang kurang suka untuk mengkonsumsi sesuatu di dalam pesawat selagi melakukan perjalanan.
Saat mereka duduk pada sebuah meja berukuran sedang yang berada di sudut restoran, Dyrin berkata, "Kak Jean sakit?"
Yuta dan Dylan sontak menengok pada Jeanne, melihat wajahnya yang sepertinya tidak baik-baik saja. Jeanne menggeleng, "kakak gak kenapa-napa, kok."
"Muka kamu pucat, Jean." Kata Yuta.
"Dia takut ketinggian, mana tadi dia duduk di samping jendela." Celetuk Dylan membuat Yuta kebingungaan.
"Kamu tahu darimana, Lan?"
"Dari orangnya, lah. Mau darimana lagi? Aku dan Jean sekarang teman." Jawab Dylan santai sambil mengelus pipi Dyrin yang duduk di hadapannya. "Ya kan, Rin? Dylan kan udah bilang, kalau aku sebentar lagi pacaran sama Jean, pa."
Dyrin tersenyum senang, sementara Yuta memutar bola mata jenuh. Oh, ayolah. Sampai kapan anaknya akan hidup dalam bualan? Melihat ekpresi papanya jenuh, Dylan kembali menimpali, "papa gak percaya?"
"Dylan, kamu kenapa sih?" Bisik Jeanne membuat Dylan memberi manik mata datar dengan bibir yang dikerucutkan.
"Lan, keluarga mama kamu itu—astaga." Yuta mengusap wajahnya frustasi untuk mengambil jeda sebentar. "Papa gak tahu apa yang mereka pikirin pas mendengar kamu ngomong seperti itu sebelum keluar dari rumah Aoki kemarin. Papa bilang Jean itu hanya pengasuhnya Rin, dan kamu selancang, sebatu itu di depan mereka?"
Penjelasan Yuta membuat Jeanne terkejut dan bingung. Mau bagaimana pun juga dia tak sama dengan keluarga ini. Meski Jeanne tidak melakukan apa-apa, namun posisinya di tengah-tengah keluarga Nakamoto membuatnya merasa tak begitu biasa.
Dylan nampaknya tak terganggu dengan penjelasan Yuta. Anak itu terlalu menerapkan hidup yang selalu dan terlalu santai sejak dini. Meski semuanya menyangkut keluarga inti dan keluarganya di Jepang.
Dylan berdehem. "Papa coba deh untuk gak peduli, orang keluarga mama juga udah gak suka sama papa."
"Lan! Jaga bicara kamu!" Gertak Yuta membuat beberapa orang menatapnya risih.
Jeanne terus tertekan dan membisu di tempatnya, begitu takut dengan situasi menegangkan seperti ini. Begitu juga dengan Dyrin yang sontak memeluk Jeanne karena tersentak melihat suara papanya yang meninggi.
Butuh beberapa detik untuk Yuta dapat meredam dan menyadari tindakannya. Yuta memejamkan mata sesaat, berusaha keluar dari amarahnya karena sikap keras kepala si sulung. Akhirnya ia bangkit, mencoba meraih Dyrin yang beruntungnya tidak memberi penolakan.
"Ayo sayang sama papa, kita keluar sebentar."
Dylan dan Jeanne memandangi keduanya saat memilih untuk beranjak sebentar dari dalam restoran. Begitu Yuta dan Dyrin sudah tak terlihat di dalam pandangannya, Jeanne segera menegur Dylan.
"Lan, lo gak bisa begini terus ke papa dan mama lo. Gue mohon. Mau bagaimana pun juga mereka orangtua lo. Lagipula beliau benar, gue ini hanya sebatas pengasuh Dyrin. Walaupun yang lo katakan waktu itu hanya bercanda tapi—"
"Gue gak bercanda, Jean. Gue serius. Memangnya kenapa sama lo sebagai pengasuh Dyrin?"
"Lan—"
"Gue gak bisa, Jean. Gue belum bisa menerima masa lalu keluarga gue."
Jika sudah menyangkut masalah keluarga, Jeanne rasa dirinya juga tak bisa melampaui batas. Tapi ini tentang dirinya yang ikut masuk ke dalam tindakan Dylan.
"Nakamoto Dylan, please, gue mohon, hanya lo yang bisa mengerti sama apa yang akan lo lakukan ke depannya. Tapi tolong jangan membawa-bawa gue ke dalam keluarga lo."
Penjelasan Jeanne mampu membuat Dylan menatapnya kosong. Cukup lama ia merenung seperti itu, mencerna permintaan Jeanne yang memohon.
Itu memang benar. Dylan menyadari bahwa ia terlalu memanjakan ke-egoisannya hingga berani melibatkan orang lain ke dalam keluarganya. Jeanne memang dekat dengan adiknya karena sudah bertahun-tahun bersama. Ia dan Jeanne sudah mulai berteman dengan. Tetapi, kembali lagi pada satu hal. Di mata keluarganya, gadis itu hanyalah seorang pengasuh Nakamoto Dyrin.
• • •
Pagi hari yang mendung di California menyambut mata seorang Jung Jeffrey yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Pria itu terdiam sesaat guna mengumpulkan raganya yang masih melayang tak menentu. Sempat Jeffrey melirik ranjang milik Jonathan yang berada di seberang sana, dan itu kosong.
Ah, kemana anak itu melarikan diri mencari peralihan dari masalah tentang ibunya, lagi?
"Hm." Dehem Jeffrey dengan suaranya yang parau, kemudian bangkit untuk mendudukkan diri di tepi ranjang. Beberapa menit berselang, Jeffrey meraih ponselnya dan mencari-cari sebuah nomor telepon. Setelah mendapatkannya di daftar panggilan tidak terjawab, Jeffrey memantapkan niatnya untuk menelepon si pemilik nomor.
Nada memanggil menginstrupsi pendengaranya. Kemudian—"halo, Jeff?"
Jeffrey merasa suaranya tercegat begitu saja, entah kenapa. Ini adalah kesekian ratusan kalinya suara itu memasuki di pendengarannya, tapi mengapa Jeffrey masih saja sulit menerimanya?
"Jung Jeffrey? Kamu masih disana?"
"..."
"Jeff, tolong. Aku cuma mau ketemu Nathan. Beberapa hari yang lalu aku dengar suaranya dengan baik. Aku rindu sama dia."
Akhirnya Jeffrey menarik nafas dalam, tidak begitu tega membiarkan seseorang itu merindukan Jonathan terlalu jauh. "Lusa, di restoran Chinese yang ada di pusat Gangnam. Jam 5 sore. Gue gak bisa menunggu lama."
Setelah mengucapkan hal tadi, Jeffrey segera mengakhiri sambungan dan menunduk bersama helaian rambut yang menghalangi pandangannya. Mungkin ini merupakan waktu yang tepat untuk mempertemukan Jung Jonathan dengan Ryu Haneul, ibu kandung Jonathan.
"It's okay, Jeff. It's okay." Kata Jeffrey menenangkan diri sendiri. Setelah itu, ia lalu bangkit dan menyambar selembar handuk putih yang terlipat rapi di atas sebuah meja. Baru saja pria bermarga Jung tersebut melangkahkan kaki menuju dalam kamar kecil, Jeffrey berpikir jika sebaiknya ia menghubungi Jonathan untuk membicarakan hal ini.
Jeffrey kembali meraih ponselnya dan mencari-cari kontak yang diberi nama 'My Forever Little Boy'. Setelah menemukannya, Jeffrey menelepon Jonathan.
Sayang, ponsel Jonathan tidak bisa dihubungi. Tiba-tiba, Jeffrey tak sengaja menemukan hal aneh di dalam kamarnya. Kemana koper biru dongker milik Jonathan? Dan—oh tidak. Kemana dompetnya yang selalu bertengger di atas nakas tepat di samping ranjangnya?
"Jangan seperti itu, Nathan. Don't do that." Gumam Jeffrey mencari-cari petunjuk yang mungkin sengaja ditinggalkan oleh Jonathan sebelum pergi.
Selembar kertas putih dengan tulisan tangan yang terletak di samping lampu tidur muncul dalam pencarian Jeffrey. Pria itu meraih selebaran tersebut dan membacanya.
dad, aku gak tenang disini. maaf bikin dad terus khawatir dan kecewa, tapi aku harus pulang secepatnya. mungkin aku udah ada di airport saat dad baca tulisan ini. –j.nathan
"Goddamn." Umpat Jeffrey reflek merasakan detak jantungnya memacu semakin cepat dari biasanya. Bagaimana bisa anak tunggalnya pulang sendirian tanpa sepengetahuannya? Tanpa ada dirinya yang menemani?
Dengan cepat Jeffrey menghubungi bawahannya lalu memberi perintah, "urus kepulangan saya secepatnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fanfiction[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
