1 tahun kemudian
Berlin, Jerman
Seorang pemuda bertopi baret terlihat melangkah pelan setelah keluar dari stasiun kereta. Kedua tangannya memeluk sebuah buket bunga besar berwarna putih. Di belakang punggungnya terlihat tas ransel hitam yang sengaja sedikit disampirkan.
Baru saja ia akan memasuki sebuah pemakaman kota, ponselnya yang berada pada saku coat berdering. Langkahnya terhenti, lantas meraih ponsel canggih tersebut dan menempelkannya pada telinga kanan.
"Halo, ayah?" Sapanya.
"Udah dimana kamu, nak? Ayah udah ada—"
"Ayah coba balik badan."
Pemuda itu adalah Yaheskiel, lantas mengukir lengkungan tipis pada bibirnya saat menemukan keberadaan sang ayah, Taeil, yang juga telah menemukan dirinya yang kembali berjalan memasuki area pemakaman. Taeil mengukir lengkungan serupa, menunjukkan kemiripannya bersama Yaheskiel sebagai sepasang ayah dan anak.
"Gimana sama kelasnya, nak?"
Seraya memasukkan ponsel ke dalam kantung coat, Yaheskiel menjawab. "Bagus, ayah. Apalagi bahasa Jermanku jadi lancar banget, hehehe. Terus aku diundang untuk ikut perform ke Halle minggu depan!"
"Wah, bagus banget dong! Syukurlah. Ayah senang sama satu bulan kamu disini, sepertinya bakal lancar terus."
"Amin. Semoga, yah."
Yaheskiel kini sedang menikmati libur panjangnya di Jerman. Liburannya kali ini adalah mengikuti kelas-kelas musik klasik dan bahasa Jerman. Bukan tanpa alasan, setahun lalu seseorang tiba-tiba menghubungi Taeil oleh seorang wanita paruh baya. Wanita tersebut ternyata merupakan orang yang diselamatkan oleh mendiang Aileen Eri seminggu setelah Yaheskiel dilahirkan. Wanita itu adalah pemilik sekolah musik ternama di Berlin.
Usai mencari tahu tentang penyelamatnya, beliau memperoleh informasi bahwa semasa hidup, mendiang Aileen merupakan pecinta musik klasik dan memiliki seorang bayi lelaki menjelang kepergiannya. Maka dari itu, si wanita yang meminta dipanggil nenek saja berpesan pada Yaheskiel untuk berlibur kembali ke Jerman, memberinya kesempatan diajarkan musik klasik terbaik disana.
"Anyway, aku mau ngomong sama bunda, ayah." Pinta Yaheskiel agar diberi ruang oleh Taeil yang disetujui pria tersebut. Yaheskiel menekuk satu lututnya dihadapan gundukan tanah dan rerumputan hijau yang nyaris terpangkas, meletakkan bunga anyelir segar di atas nisannya.
"Halo bunda, apa kabar? Bunda baik-baik aja, kan?" Ujarnya mengawali obrolan fana hari ini. "Yangyang udah janji akan rajin datang selama sebulan berlibur di Jerman. Bunda dulu sering manggil aku Yangyang, kan? Walau itu cuma seminggu, tapi gak apa-apa. Seenggaknya kenangan aku sama bunda gak kosong."
Hati Taeil yang mendengarnya menjadi cukup perih. Namun ia tetap diam dan berusaha tegar agar putranya tak khawatir.
"Tahu gak bun, nenek yang bunda selamatkan dulu, mengajak Yangyang untuk belajar musik klasik secara khusus disini. Musik klasik loh ini, kesukaan bunda." Jelasnya seolah benar-benar berbicara dengan Aileen lengkap dengan pandangannya yang berbinar. "Bunda pergi untuk menyelamatkan nyawa nenek itu, tapi bunda juga membawa banyak pelajaran baru termasuk kesukaan bunda. Ya, walaupun itu harus tanpa kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fanfiction[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
