25. dibalik diri kun

9.2K 1.9K 148
                                        

Superior Mansion
8:00 am

Seorang remaja laki-laki terlihat menunggu di samping sebuah mobil Alphard berwarna putih. Hari ini ia berencana akan piknik bersama teman dan ayahnya. Menggunakan pakaian seperti seorang pelaut, Moon Yaheskiel nampak begitu manis hari ini.

"Kiel, pakai topimu." Pinta Taeil yang berjalan dari dalam mansion menuju anaknya, menyodorkan sebuah topi kapten laut berwarna biru. Satu tangannya lagi menggenggam ponsel yang ditempelkan pada telinga. "Iya, gue ikut nemenin anak-anak, kok."

Terdengar suara Qian Kun dari seberang sana. "Makasih banyak, ya. Coba aja gak banyak urusan disini, udah gue temenin anak-anak buat liburan."

"Gue paham, anak-anak lo juga paham. So, gak ada yang perlu dipermasalahkan."

Yaheskiel yang selesai dengan topinya lalu mengalihkan pandangan dari kaca mobil untuk menoleh pada ayahnya. "Om Kun, ya?"

Taeil mengangguk.

Yaheskiel tiba-tiba meninggikan suaranya. "Om, oleh-oleh, ya!"

"Kiel, kamu kenapa, sih?" Tegur Taeil tetapi Kun segera menimpali, "iya, Kiel. Nanti om bawakan."

Secara bersamaan, terdengar seruan suara Reyjune yang memanggil dari depan mansionnya seraya menenteng beberapa lunch box berukuran cukup besar. "Kiel!"

"Let's 'Kiel' this love!" Sambung Richene dengan menyanyikan satu bait dari lagu milik Blackpink. "Hehehe."

Kedua anak Qian Kun itu mendekat pada keluarga Moon dengan senyum yang merekah. Maklum saja, karena Reyjune dan adiknya baru bisa menikmati liburan seperti ini. Kemarin, jika bukan di mansion, mereka hanya akan mengunjungi mall atau supermarket.

"Coba Jinan sama Kak Keenan bisa ikut." Akal Richene.

Reyjune menghela nafas. "Mereka harus menikmati waktu sama Om Tyrese sebelum masuk sekolah."

Richene pun mengangguk paham dengan penuturan kakaknya.

"Udah siap?" Tanya Taeil sembari memasukkan ponse ke dalam saku celana. Ketiga remaja itu mengangguk semangat dan bersiap naik setelah Taeil berkata, "kalau gitu—ayo masuk ke dalam mobil!"

"Yeay! Piknik!" Teriak Yaheskiel sembari memasuki mobil.

Mereka telah berada di penghujung masa remaja, namun masih saja terlihat seperti anak-anak jika berkelakuan seperti ini.

"Tu-tunggu." Cegah Reyjune membuat Taeil yang baru saja membuka pintu mobilnya berhenti. "Itu bukannya mobil keluarga Seo?"

Semua mata tertuju pada sebuah van yang baru melaju dari gerbang cluster dan melewati kediaman Moon. Sesampainya di tujuan, van tersebut terpakir dengan lihai. Seo Johnny menjadi orang pertama yang turun dengan raut wajah tak bersahabat, disusul si kembar yang mengenakan masker penutup setegah wajah.

"Ih, iya iya! Itu Om Johnny, Kak Marcel sama Kak Dean!" Seru Richene. "Kok mereka gak bilang-bilang sih mau pulang hari ini? Bukannya mereka pulang lusa, ya?"

"Kok muka Om Johnny serem, sih?" Celetuk Yaheskiel menyebabkan ia lagi-lagi mendapat teguran dari sang ayah. "Kiel, ngomongnya."

"Maaf, yah."

Baru saja Reyjune berniat memanggil kedua temannya dari kaca jendela yang diturunkan, Taeil segera mencegah dengan lembut. "Rey, jendelanya ditutup aja. Mungkin mereka mau istirahat."

Reyjune masih menatap keluarga Seo bingung. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, tidak mungkin mereka akan pulang secepat itu. Taeil berusaha mencegah anak-anak agar tidak mengganggu Marcel dan Dean, karena pria Moon itu tahu, Johnny memang sedang menghadapi sebuah masalah yang melibatkan anaknya.

• • •

Beijing, China

Qian Kun meletakkan ponsel di atas meja seraya menghela nafas cukup pelan. Anak-anak yang sedang berada jauh darinya akan melakukan piknik bersama keluarga Moon. Ia bersyukur ada Taeil yang bersedia menjaga Reyjune dan Richene seperti anak sendiri selama dirinya sedang berada di Beijing untuk mengurus pekerjaan.

Kun meraih sebuah bingkai yang menunjukkan foto yang dirinya bersama kedua Qian-nya yang sedang tersenyum bahagia. Rasanya Kun sangat merindukan mereka. Semuanya membuat Kun terus berusaha agar semua pekerjaannya di Beijing dapat segera rampung dan dapat kembali ke mansion.

"Kun." Panggil ibunya dari luar kamarnya. "Hari ini kamu ke kantor?"

"Iya, ma. Tapi nanti siang."

"Mama sama baba mau ke rumah paman kamu dulu, ya."

"Iya, hati-hati."

Perlahan Kun tidak mendengar suara ibunya yang semakin menjauh. Ia lalu beranjak menuju belakang pintu untuk mencari sesuatu, yaitu sebuah dompet. Kun berencana untuk pergi ke kafe terdekat dan memesan se-cup kopi favoritnya yang hanya dapat ia temukan di kota ini.

Bagi orang-orang dan juga anaknya, Qian Kun merupakan seorang single parent yang hebat serta pekerja keras. Kun dikenal lembut, apalagi terhadap anak-anaknya. Meski begitu, jauh di dalam benaknya dan benak kedua orang tuanya, Kun masihlah seorang lelaki yang seharusnya menikmati sedikit masa mudanya yang tersisa. Umumnya, tak sedikit orang terkejut jika mengetahui bahwa Kun sudah memiliki dua orang anak yang bahkan telah remaja.

Jika memikirkan hal ini, Kun pasti akan bertanya pada dirinya sendiri. Apa saja ya yang telah kulakukan sampai detik ini? Dan foto pada ponselnya akan menjawab itu. Kini ia memiliki dua malaikat manis dan tampan. Kun begitu menyayangi Qian Reyjune dan Qian Richene.

Sembari menikmati jalanan yang mengarahkannya menuju kafe, sesekali Kun mengedarkan pandangan dan menganalisis sisi kampung halaman yang berubah banyak. Hal yang selalu membuatnya mendadak sesak adalah, ketika mengingat kenangan bersama ibu dari anak-anaknya.

Langkah Kun berhenti sesaat sebelum menunduk, menghirup nafas dalam untuk menetralkan emosinya yang tiba-tiba berubah menjadi kelabu. Tidak, Qian Kun. Kau harus menjalani hidupmu dengan baik. Kau harusnya benar-benar menikmati hidupmu dan tidak terjebak masa lalu, batinnya.

Pria itu berusaha mendongak dengan mata yang sedikit berair, yang beruntungnya tidak begitu menggenangi pelupuk matanya. Namun, begitu meluruskan pandangan, Kun tak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang berdiri di samping lampu merah pejalan kaki. Saat cahaya hijau mulai menghadirkan diri mengisyaratkan para pejalan kaki yang akan menyeberang, orang yang menarik perhatiannya buru-buru melangkahkan kaki untuk segera sampai ke seberang jalan.

"Itu—itu—" kata Kun terbata-bata ikut menapakkan kakinya perlahan namun semakin cepat. Kun mulai berlari untuk mengejarnya di tengah kerumunan orang-orang. "Ran! Huanran!"

Sayangnya Kun tak sempat menemukan orang tersebut yang seolah hilang dalam keramaian. Kun segera merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, bertujuan menghubungi ibunya.

Begitu tersambung— "Ma? Ma! Aku lihat dia gak jauh dari rumah, ma. Aku yakin dia ada disini, aku yakin dia masih disini."

"Qian Kun, Qian kun—sadar, nak." Jawab sang ibu dengan nada pelan berusaha menjaga perasaan anak sulungnya. "Kamu harus mengerti kalau Huanran sudah pergi selamanya."

Superior MansionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang