28. fakta yang dirindukan

8.6K 1.9K 181
                                        

Fakta jika ternyata ibundanya yang memutuskan pergi untuk meninggalkannya menyebabkan Jonathan merasakan perih perkepanjangan di dalam dadanya. Fakta jika selama ini ayahnya-lah yang terus berjuang untuk bangkit agar anaknya tak menderita membuat tamparan yang peluh pada Jonathan. Remaja itu merasa tertekan melihat pertengkaran Jeffrey dan Haneul yang datang secara tiba-tiba di hadapannya.

"Di masa lalu gue selalu menyalahkan diri gue sendiri dan berusaha bertanggungjawab. Tapi apa yang gue dapatkan? Gue disia-siain. Itu sakit hati terburuk gue, Ryu Haneul. Itu sakit hati terburuk gue."

"Aku benar-benar mengakui kalau aku memang salah, Jeff. Tapi bukannya itu hanya masa lalu? Tolong, aku cuma mau Jonathan bersama aku."

"Apa? Lo mau Nathan? Gue gak salah denger, kan?" Jeffrey mengusap area mulutnya, menandakan jika ia merasa begitu jenuh sepenuhnya. "Orang-orang gampang meninggalkan dan juga—secara gampang memintamaaf, ya?"

Kondisi kamar Jonathan menjadi sunyi sejenak setelah Jeffrey mengutarakan pendapatnya. Jonathan berusaha menahan diri akibat kegaduhan ini. Tak lama berselang, Jonathan menyibakkan selimutnya. Ia berjalan menghampiri Jeffrey untuk memegang lengan sang ayah.

"Dad, that's enough."

"Nathan, saya sudah gak bisa terus-terusan seperti ini."

"Bagaimana pun juga dia perempuan dad, orang yang melahirkan Nathan. Udah cukup marahnya, Nathan juga lagi sakit."

Mendengar penuturan Jonathan, amarah Jeffrey perlahan surut dibuat luluh. Sesaat kemudian Jeffrey mencoba untuk menghela nafas, memejamkan matanya untuk menghilangkan wajah Haneul dari pandangannya meski itu hanya sesaat.

"Nathan tahu kalau mommy berniat baik datang kesini, Nathan juga tahu kalau mommy masih sayang sama Nathan."

Baik Jeffrey dan Haneul masih menunggu penuturan Jonathan hingga benar-benar lengkap.

"Aku gak berpihak kepada siapapun untuk hal seperti ini. Aku sayang daddy, aku sayang mommy. Bagaimana pun caranya aku akan tetap sayang sama kalian. Ya, aku tahu aku mungkin cuma anak yang gak begitu diharapkan kehadirannya di masa lalu."

Haneul menggeleng. "Jangan bilang seperti itu, Than."

"Mom, aku bisa menerima keadaan kamu yang mendadak seperti ini. Tapi untuk ikut sama mom, aku rasa enggak. Aku gak mau ninggalin ayahku sendiri, dan—bukannya mom udah berkeluarga lagi?" Jonathan terlihat meneteskan air matanya di samping Jeffrey. "Aku bisa ketemu kamu, mommy. Anytime. Tapi aku gak bisa meninggalkan daddy."

"Sebelum kita memulai kehidupan setelah mommy muncul, Nathan bisa minta satu hal, gak?" Penuturan Jonathan membuat kedua orangtuanya menoleh. "Mom bisa tinggalin aku sama dad hari ini? Kita bisa ketemu lagi, kapan-kapan."

"Jung Jonathan—"

"Please, mommy. Please."

Mata Jeffrey yang masih berair tidak hentinya menatap Jonathan lirih. Padahal anak itu sudah sejak beberapa hari terakhir bersikeras untuk menemui ibunya, menganggapnya sebagai pembohong ulung atas kebenaran ibunya. Tetapi, detik ini juga, Jonathan sendiri yang meminta pada Ryu Haneul untuk pergi meninggalkan mereka.

"Anak-anak mom yang lain mungkin udah nungguin kamu, mom."

Sebuah kenyataan yang mudah terucap namun mampu menusuk hati kedua lelaki bermarga Jung itu. Sudah tak ada lagi bantahan yang dapat dilontarkan oleh Haneul, dia tak dapat memaksa keinginan anak yang dulu ia tinggalkan. Setelah menunggu beberapa detik berlalu, Haneul mengangguk setuju dan mengusap air matanya.

"Ya sudah, kalau itu memang keyakinan kamu. Mom/mommy pergi dulu, ya?"

Jonathan sedikit sulit untuk sekadar berkata ya. Dan itu digantikannya dengan anggukan kecil, membuat Haneul terpaksa berbalik untuk berjalan keluar dari kamar Jonathan dan Mansion Jung.

Jeffrey menghela nafas panjang, sekilas mendongak menatap langit-langit kamar anaknya untuk mengusap air mata. Ia enggan memperlihatkan kesedihan mendalamnya pada Jonathan, ia enggan terlihat sebagai orangtua yang lemah.

"You're a great man, dad." Puji Jonathan memeluk Jeffrey dan mengusap punggungnya. "Tapi ternyata kamu yang nurunin sifat cengeng ini ke aku."

Perkataan Jonathan membuat Jeffrey terkekeh. Tangan kekar pria itu pun beralih membalas pelukan anaknya dan tersenyum tipis.

Akhirnya, kebenaran ini dapat terungkap meski harus melewati banyak kesulitan.

• • •

Sebuah mobil Alphard melaju melewati jalanan kota metropolitan. Di dalamnya terdapat keluarga Seo yang baru saja pulang dari SMA Origin akibat kasus yang menyeret nama Marcel akan dilanjutkan lusa.

Mata elang milik Johnny menangkap raut kelelahan si sulung melalui cermin yang terletak di atas dashboard mobil. Hingga saat ini Johnny tidak pernah menyalahkan Marcel karena ia tahu dan percaya, Marcel tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu.

"Apa kalian mau makan malam di luar?" Tanya Johnny memecah kesunyian. Marcel dan Dean sedikit terkejut kemudian menatap satu sama lain.

"Kalau aku terserah dad." Jawab Dean seperlunya. Mendengar jawaban adiknya Marcel mengusulkan, "Japanese food ain't bad?"

"Excellent." Balas Johnny lalu mengarahkan mobil menuju restoran makanan Jepang kegemaran keluarga Seo.

"But dad—"

"Kenapa, Cel?"

"Kita bisa mampir ke mommy, gak?" Pinta Marcel lembut. "Aku mau ketemu dia."

Awalnya Johnny hanya terdiam dan mempertimbangkan permintaan itu seperti mempertimbangkan hal yang lebih berat. Tidak lama berselang Johnny tersenyum tipis dan bertanya pada Dean, "kamu mau ikut, Dean?"

Dean mengangguk. "Iyalah, why not?"

Johnny berdehem semangat seolah memahami kondisi dan keperluan yang diinginkan anaknya. Tempat yang akan disinggahi oleh mereka kebetulan saja terletak searah dengan restoran Jepang yang akan mereka datangi. Setelah beberapa meter melalui jalan besar, mobil pun memasuki sebuah pekarangan sebuah gedung cukup besar.

Johnny, Marcel, dan Dean keluar dari dalam mobil. Kaki mereka melangkah secara sinkron ke dalam gedung dan memasuki tempat keberadaan ibu dari Seo bersaudara. Sebuah ruangan tempat penyimpanan abu.

Marcel tersenyum tipis dan menghampiri guci berisikan abu hasil dari kremasi ibundanya. Ia terlihat seperti anak kecil yang melihat sang ibu datang membawa permen setelah berjam-jam menunggu. Sementara Johnny, ia lebih memilih untuk berhenti beberapa langkah dari posisi kedua anaknya. Johnny hanya bisa melakukan itu agar ia tidak terlihat lemah di depan kedua anaknya.

"Long time no see, my precious woman." Kata Marcel seolah berbicara dengan ibunya. "Hold on."

Marcel menunduk, seperti berdoa dari dalam lubuk hatinya untuk diberi ketenangan. Dean ikut melakukan hal sama, meski Dean kali ini tidak secerewet Marcel. Setelah mereka selesai, mereka kembali mendongak menatap guci serta gambar-gambar kenangan yang terletak di dalam almari.

Anehnya kali ini Marcel tidak berbicara seperti tadi. Ia terdiam, membuat Dean mengerutkan dahi. "Are you okay, Cel?"

Bahu Marcel lantas bergetar, satu tangannya menutup mulut dengan kepalan. "I'm sorry, mom. I screwed up, I'm so sorry. Marcel buat masalah dan bikin keluarga malu."

"Isn't your fault, Cel. Ini bener-bener bukan salah lo." Ucap Dean sembari mengusap punggung kakaknya.

Johnny mematung, memperhatikan kedua darah dagingnya dengan tatapan kosong. Sesaat kemudian, Johnny bergumam. "We miss you, Sarah."

Superior MansionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang