Mansion Jung
"Nathan?!" Jung Jeffrey terus menyerukan nama putranya dari lantai satu seraya terus membenarkan kaki dari t-shirt putih yang ia kenakan. "Kamu udah selesai, belum? Ngalahin cewek lagi dandan aja kamu ini."
"Iya, iya." Balas Jonathan pelan dengan matanya yang masih terpusat pada layar ponsel.
"Koper kamu mana?" Tanya Jeffrey lagi saat melihat Jonathan tak kunjung berbenah dengan cepat di atas sana.
"Udah dibawain sama bibi ke mobil."
"Jung Jonathan! Kan daddy udah bilang berkali-kali, kamu itu udah mulai dewasa! Koper sebesar itu kamu tega kasih ke bibi?!" Emosi Jeffrey memuncak tatkala Jonathan tidak kunjung memperdulikannya. "Simpan ponsel kamu atau daddy minta ke pihak PUBG buat memblokir akun kamu."
Barulah Jonathan buru-buru melangkah dengan gesit, menaruh ponselnya di dalam saku jeans lalu turun ke lantai bawah. Remaja Jung itu melalui ayahnya yang masih kesal, segera berjalan menuju ke mobil. Saat berada di pintu mansion Jonathan bertemu dengan maid. "Maaf ya, Bi. Nathan udah ngerepotin karena koper."
"Gak apa-apa. Kan ini udah tugasnya bibi." Balas maid membuat Jonathan tersenyum, kembali menyambung langkahnya menuju mobil. Tak butuh waktu lama untuk Jeffrey turut menyusul sang anak setelah berpamitan pada semua maid yang bekerja di Mansion Jung.
Di hari keberangkatan Keluarga Jung menuju California, Jonathan harus tahan mental mendengar pidato ayahnya akibat kelakuannya yang terulang seperti dulu. Seharian berada di dalam rumah dan hanya bermain game tanpa memperdulikan kondisi sekitar. Bahkan ketika mobil sudah melaju keluar melalui cluster-nya, Jeffrey tak kunjung berhenti mengomeli Jonathan, meminta agar Jonathan bisa memperbaiki sikap dan kelakuannya agar tidak membuat Jeffrey malu dihadapan keluarga besar Jung di California nanti.
"Dad, udah deh. Nathan ngerti kok." Jonathan melirik sinis Jeffrey. "Aku gak akan rese disana. Tenang aja, aku udah tahu itu. Disini aku males keluar kamar soalnya gak ada Dylan yang nemenin aku main."
"Apa? Kamu gak ada teman balapan, gitu? Daddy udah capek ya tegur kamu berulang kali kalau—"
"Daddy kenapa, sih? Nathan itu udah gede, dad. Daddy aja pasti punya kebohongan, kan? Tapi Nathan pura-pura gak tahu aja, Nathan gak mau memperpanjang masalah."
Tuturan kata yang meluncur dari bibir Jonathan membuat Jeffrey tiba-tiba terdiam tak mampu berkutik. Jeffrey menatap si tunggal dengan sorot mata yang tak mengerti, marah karena ucapan itu benar-benar tidak sopan baginya.
Baru saja Jeffrey ingin kembali bertindak untuk memberi peringatan, mata Jonathan tiba-tiba memincing pada Mansion Lee. Tentu saja Jeffrey ikut menoleh, menemukan Jinan yang seharusnya masih memiliki banyak waktu liburan di Bangkok. Tak lama setelah itu, Tyrese juga muncul dari dalam mobil dengan melangkahkan kakinya begitu cepat menyusul Jinan.
Dahi Jeffrey dan Jonathan mengerut serempak. Apa ada masalah yang telah terjadi di Bangkok?
• • •
Jerman
"Kiel." Panggil Moon Taeil dengan nada lembut seraya menghampiri Moon Yaheskiel. "Kamu mau makan, nak? Mau ayah belikan cokelat?"
Yaheskiel yang tadinya sibuk membalas pesan teman-temannya lalu menyimpan ponsel, duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Saat Taeil sudah berada di tepi ranjang seberang, Yaheskiel pun tersenyum manis. "Kan Kiel baru aja makan, yah." Jawabnya.
"Ayah masih khawatir sama kondisi kamu." Tidak heran jika pria Moon ini khawatir. Seharusnya Yaheskiel masih berada di rumah sakit, namun ia bersikeras kembali ke hotel dengan alasan kebosanan karena terus dibuat menunggu dalam ruang putih rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fanfiction[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
