Mansion Nakamoto
"Papa." Panggil Nakamoto Dyrin dengan wajahnya yang tampak sedikit membengkak karena baru saja bangun tidur. Di tangannya hadir sebuah boneka unicorn yang selalu menjadi objek pelukannya saat malam.
Yuta yang merasa terpanggil lalu menoleh, sedikit terkejut karena mendapati Dyrin yang sudah bangun tanpa sepengetahuannya.
"Anak papa udah bangun, ya? Sini sayang, minum air putih dulu." Balas Yuta sembari mengangkat Dyrin.
Namun gadis kecil itu tiba-tiba berkata, "pa, Kak Dylan sakit."
Reflek Yuta mengerutkan keningnya. Kenapa Dylan bisa mendadak sakit? Yuta rasa tidak ada dampak berat dari kegiatan-kegiatan Dylan yang bisa membuat lelaki itu jatuh sakit. Semuanya biasa saja dan itu membuatnya bingung. Yuta segera memberi Dyrin setengah gelas air putih sesaat sebelum beranjak menuju kamar Dylan.
Setibanya disana, masih dengan Dyrin yang berada dalam gendongannya, Yuta menyibakkan selimut putih Dylan dan menemukan si sulung dibanjiri peluh keringat serta wajahnya yang semakin pucat.
"Lan, kamu kenapa?" Tanya Yuta sambil mengecek suhu badan Dylan dari dahinya. Ah, Dylan sedang demam. "Kamu gak usah sekolah dulu. Nanti papa telepon wali kelas kamu."
Dylan terlihat sadar, namun sepertinya ia tak begitu kuat menjawab perkataan sang papa. Dyrin sampai ikut mengoceh, bertanya ada apa yang terjadi padanya namun Dylan hanya bisa tersenyum tipis tanpa mengubah posisinya sedari tadi.
Tak menemukan jawaban yang pasti, Yuta menurunkan Dyrin dan berjalan menuju lemari Dylan untuk mengambil selembar kaus rumah yang lain karena baju Dylan sudah tidak layak pakai saat ini. Yuta berusaha ada saat ini, membantu Dylan melakukan semuanya disaat Dylan benar-benar tak bisa melakukan apapun karena sakit.
Yuta pun mengabarkan pada sekretarisnya bahwa dirinya tidak bisa masuk kantor dalam beberapa hari. Tak lupa ia juga mengabarkan pihak sekolah perihal Dylan yang sedang sakit.
"Lan, mau papa panggilin dokter, nak?" Tanya Yuta bernada lembut namun lumayan resah yang hanya dijawab seadanya oleh Dylan.
"Gak usah, pa."
"Ya udah kalau gitu kamu tidur lagi. Rin, temenin kakak kamu, ya? Papa mau masak bubur buat kakak sama sarapan buat kamu."
Dyrin mengangguk mendengar penuturan ayahnya dan merangkak naik ke atas ranjang Dylan untuk menemani lelaki itu. Sesaat setelah Yuta pergi, Dylan berusaha mengeluarkan suaranya. "Rin, kalau kamu mau main, main aja. Kakak bisa bobo sendiri kok."
"Enggak. Rin mau nemenin kakak. Kan, nanti Rin bakalan belajar dan main kalau Kak Jeanne udah datang."
"Jeanne mau datang kesini?"
"Iya. Kak Jeanne yang waktu itu ketemu sama kita di kafe."
"Oh, gitu." Balas Dylan singkat dan tidak lama kemudian, Ia kembali memejamkan matanya. Melihat sang kakak yang terlihat lengah, Dyrin pun mengelus kepala Dylan dengan kedua tangan kecilnya agar Dylan bisa merasa nyaman.
• • •
"Moon Yaheskiel?" Terlihat seorang guru yang berdiri di ambang pintu kelas, memanggil nama si ranking 1 di kelas 2-1. "Kamu ikut ibu, ya."
Saat Yaheskiel bangkit, Marcel segera menghampirinya. "Kok lo bisa dipanggil sama guru BK? Ada masalah apa?"
Yaheskiel tersenyum tipis, "mungkin beberapa nilai gue menurun semester ini. Lagipula ayah gue udah minta tolong ke pihak sekolah biar nilai gue dipantau."
Marcel mengangguk paham dan menepuk pundak Yaheskiel untuk mengemangati.
"Lo gak ketemu Lillian?" Tanya Yaheskiel.
"Dia gak balas pesan gue, mungkin punya urusan lain yang lebih penting."
"Got it, gue pergi dulu."
Yaheskiel pun mulai berjalan ke arah ruang BK sekolahnya. Setibanya ditujuan, Yaheskiel mendapati Min Seunghee—guru yang tadi memanggilnya—duduk pada sebuah kursi berwarna putih sambil seraya menyambutnya dengan senyuman tipis.
"Moon Yaheskiel, silahkan duduk." Pinta Seunghee yang membuat Yaheskiel mengangguk.
Baru saja Yaheskeil tersebut mendaratkan bokongnya di atas kursi yang telah disediakan, Seunghee langsung saja menimpali, "apa yang mengganggu pikiran kamu akhir-akhir ini, Kiel?"
Yaheskiel menunduk resah.
"Pihak sekolah sudah mempercayakan ibu biar kamu bisa berkonsultasi kapan saja dan membantu memantau kamu sesuai dengan permintaan papa kamu. Jadi tolong, kalau kamu punya masalah langsung ceritakan ke ibu, ya?"
Mendengar penuturan Seunghee, Yaheskiel memilih untuk menghela nafas pelan sambil menelan beban pikirannya. Tak menunggu waktu lama, Yaheskiel mulai bersua. "Bu Seunghee, ibu punya anak, gak?"
Reflek Seunghee mengerutkan dahinya. "Tumben kamu tanya seperti itu, ada apa?"
Awalnya Yaheskiel juga terkejut dengan perkataannya yang meluncur diluar kendalinya. Usai menetralkan pikirannya Yaheskiel segera melanjutkan, "gak—gak ada apa-apa, bu. Maaf saya ngelantur."
"Kayaknya ibu harus bicara sama ayah kamu." Seunghee membuka selebaran berisikan informasi pribadi Moon Yaheskiel, meminta izin untuk mengakses kontak ayahnya. Sebelum menghubungi ayah Yaheskiel, Seunghee sekali lagi ingin memastikan sesuatu. "Kira-kira ayah kamu sibuk gak sekarang?"
"Kayaknya iya, bu."
Seunghee menggigiti bibir bawahnya akibat ragu, lalu memutuskan untuk menyimpan kontak ayah Yaheskiel saja terlebih dahulu. Setelah itu, ia membaca nama yang tertera.
"Moon Tae—Il? Itu nama papa kamu?"
Yaheskiel mengangguk. "Iya, kenapa bu?"
"Gak ada apa-apa. Ibu cuma memastikan. Ya sudah, kamu bisa balik ke kelas. Nanti siang baru ibu akan hubungi ayah kamu."
Lagi-lagi Yaheskiel hanya bisa mengangguk pasrah, kemudian bangkit dari kursinya sebelum berpamitan kembali ke kelas. Sebenarnya, Yaheskiel sangat-sangat ingin jujur di hadapan Seunghee tentang pikiran yang sedang mengganggunya selama beberapa hari terakhir.
Apalagi jika bukan tentang ibu. Hal tersebut timbul karena ucapan Jinan beberapa waktu lalu, ucapan yang mengutarakan rasa kebingungannya untuk membuat sebuah puisi sastra mengenai sosok seorang ibu.
"Ah, ibu minta tolong, Kiel." Cegat Seunghee sebelum Yaheskiel kembali ke kelasnya.
"Apa itu?"
"Tolong panggilkan Qian Richene, dari kelas 1-2, ya."
Yaheskiel menurut pada permintaan tolong Seunghee. Langkahnya berpacu menuju ruangan yang tidak jauh dari kelasnya. Begitu Yaheskiel berjalan melewati beberapa kelas, Yaheskiel tak sengaja melihat Dean yang sedang berbincang dengan seorang gadis. Baru saja Yaheskiel akan menyerukan nama Dean, ia melihat wajah gadis yang nampaknya tak asing itu.
"Lillian? Bukannya kata Marcel—" perkataan Yaheskiel terjeda karena berusaha memastikan bahwa penglihatannya yang sedang bermasalah. Namun, itu benar-benar Kwon Lillian, yang menurut Marcel tadi mungkin saja ia sedang ada urusan penting lain sampai tidak menjawab pesannya.
Jika memang Marcel dan Lillian sedang bermasalah, kenapa Lillian harus bersama Dean saat ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fanfiction[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
