33. bawa santai

8.2K 1.7K 281
                                        

Masih dengan getaran gemerlapnya malam, dua motor sport nampak melesat bersejajar melewati jalanan kota besar. Setelah melewati liburan panjang dan akhirnya kembali memasuki masa sekolah, ayah dari keduanya juga kembali mengizinkan untuk menggunakan motor yang sudah menunggu lama di garasi.

Mereka tak lain dan tak bukan adalah Nakamoto Dylan dan Jung Jonathan. Hal ini cukup tertebak dari kegiatan yang menjadi kegemaran mereka yaitu mengendarai motor mahal dengan kecepatan tinggi, namun enggan dicap sebagai pembalap karena tidak ingin dibatasi keinginannya oleh ayah masing-masing.

Hingga mereka memutuskan berhenti di depan sebuah kafe, memarkir kendaraan mereka disana untuk merilekskan otot-otot.

"Tumben ajak ngopi." Kata Jonathan sembari melepas helm fullface-nya.

"Hah?" Dylan sedikit meninggikan suara karena tidak mendengar suara Jonathan. Barulah, setelah helm mereka sama-sama terbuka, percakapan dapat berjalan lancar.

"Tumben lo ajak gue ngopi."

Dylan mendecih tersenyum miring. "Gue mau modus, coy." Balasnya membuat alis tebal Jonathan nyaris menyatu.

"Modus? Jangan bilang pemilik kafe ini tante-tante dan lo—"

Tangan Dylan menepuk keras bahu Jonathan. "Mulut, mouth! Kalau orang Indonesia bilangnya lambemu mesti dijaga."

Jonathan tertawa karena respon penolakan dari Dylan. Setelah itu mereka masuk ke dalam kafe dan Jonathan segera mengerti, siapa yang sebenarnya ingin ditemui oleh putra dari Nakamoto Yuta ini.

"Selamat datang di—Dylan?" Jeanne terkejut begitu melihat kedatangan Dylan bersama seorang teman.

"Oh, kafe ini udah ganti nama?" Balas Dylan santai.

"Ngapain lo kesini?"

"Ya mau-mau gue, lah." Dylan berdiri dengan menegapkan tubuhnya, sok memilah-milah menu dan mendiskusikannya bersama Jonathan.

"Lan, orang antri." Tegur Jeanne.

"Eh, ya udah kalau gitu. Temen gue mau Machiato, gue mau hati lo aja bisa gak? Ciaaa." Geli Dylan terlihat aneh sambil menepuk-nepuk pundak Jonathan yang ikut tersenyum mendukung. Karena Jeanne hanya merespon dengan menggeleng dan berwajah datar, Dylan segera berhenti dan kali ini serius memesan minuman sebelum orang-orang yang mengantri di belakangnya akan marah.

Dylan dan Jonathan kemudian mencari tempat duduk, dengan Dylan yang memperhatikan Jeanne yang terus bekerja di tempatnya.

"Lo beneran suka sama dia?"

"Ya masa gue main-main, Jo."

"Sejak kapan lo serius sama cewek?"

"Sejak lihat dia."

Jonathan mendecih. "Bukannya dulu lo suka kesel banget sama dia?"

"Kapan?"

Mata Jonathan jenuh karena Dylan yang ogah mengakui masa lalunya. Jonathan tidak akan pernah lupa pada kebiasaan Dylan yang akan membahas seorang gadis pengasuh yang sangat dekat dengan Dyrin dibanding dirinya sendiri. Tapi sekarang, lelaki Nakamoto ini bahkan berusaha mendekati si gadis pengasuh.

Setelah menghabiskan beberapa menit santainya di sudut kafe, sebuah telepon terdengar masuk pada ponsel Jonathan.

"Halo, dad?"

Jonathan menjauhkan ponselnya dari telinga, memperdengarkan omelan Jeffrey akibat keterlambatannya pulang ke rumah.

"Bapak lo nelpon?" Bisik Dylan yang diangguki Jonathan. "Yaelah, cupu amat."

Superior MansionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang