3. kebiasaan mereka

27.9K 5K 627
                                        

Pada pukul delapan malam, beberapa pria yang baru saja menyelesaikan pekerjaan kantorannya tengah mengobrol ringan dalam sebuah kafe yang terletak di tengah kota. Mereka berjumlah enam orang, terlihat begitu menikmati waktu senggang melepaskan penat setelah seharian berpikir dan bekerja.

"Wah, pasti lo bangga banget kan Yaheskiel ranking satu lagi di sekolahnya?" Tanya Johnny sebelum menyesap kopi favoritnya.

"Pastinya. Apalagi di pertengahan semester kemarin dia sempat stres karena tugasnya menumpuk. Tapi syukur sih sekarang dia bisa ranking lagi."

"Apa daya gue yang anaknya amburadul banget. Kalau di bilangin, palingan cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Kebanyakan janji, aduh." Kata Yuta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan kini menyikut bahu Jeffrey, "Jonathan gimana, Jeff?"

"Jangan tanya. Dia gak ada bedanya sama Dylan. Rencana buat nyewa guru privat, gue setujuin deh. Dia tipikal anak yang bosan kalau belajar sendiri."

"Pake jasa guru privat yang gue usulin aja."

Yuta dan Jeffrey mengangguk setuju secara bersamaan.

"Seenggaknya gue mau anak gue kayak Jinan. Gimana, Ty?" Tanya Yuta pada Tyrese yang baru saja menyimpan ponselnya, "nilai Jinan baik-baik aja kan?"

"Absolutely yes, nilai anak gue sebanding sama apa yang gue harapkan. Soalnya dulu-dulu gue sering bilang, kalau mau les dance jangan lupa sama pelajaran di sekolah."

"Jangan terlalu di bawa pikiran, Yut." Timpal Kun, "bisa-bisa lo gila sendiri. Namanya juga anak muda, mungkin Dylan nikmatin masa remajanya dengan cara yang lain. Dia juga sering bareng Jonathan kan?"

"Gini aja, Kun." Yuta mengambil jeda sejenak untuk meletakkan rokok elektriknya pada permukaan meja. "Kita tukar salah satu anak lo sama Dylan, lo mau gak?"

"Sinting, lo kira mereka username?" Canda Jeffrey mengundang gelak tawa kawanannya.

"Sorry, bukannya bermaksud negatif atau jelek nih. Tapi kesayangan gue di dunia ini cuma Reyjune sama Richene, gak ada tambahan."

"Haduh, pusing gue sama anak sendiri."

Taeil, Johnny, Tyrese dan Kun menggeleng seraya tertawa ringan melihat Yuta yang kewalahan. Jeffrey merasakan hal yang sama, pusing menghadapi kenakalan anak mereka yang cukup rebel di antara anak-anak Superior Mansion yang lain.

"Oh iya, anak-anak ada di mansion Yuta katanya." Ujar Taeil yang baru saja mendapat pesan singkat dari Yaheskiel.

Johnny mengerutkan kening, "tumben mereka gak nongkrong di luar mansion?"

"Gue larang Dylan keluar rumah."

"Jonathan juga gue larang pergi-pergi. Gak apa-apa kalau emang masih di dalam area mansion, dia harus dikasih lebih disiplin sekarang."

"Ngomong-ngomong—" Tyrese berdehem sebentar membuat yang lainnya berhenti penasaran. "Ini cuma perasaan gue, atau emang anak-anak gadis yang pake seragam sekolah itu pada ngeliatin kita?"

Reflek kelima pria lainnya mengarahkan pandangan ke tempat yang Tyrese maksud. Benar saja, para gadis-gadis itu memperhatikan para orangtua ini sambil mengekspresikan diri mereka bak seorang fangirl.

"Coba masing-masing cek kancing baju." Ucap Taeil yang membuat teman-temannya melakukan hal itu. Tetapi, tidak ada yang salah. Dari sekian kancing yang berjejer, hanya kancing teratas yang mereka tanggalkan. Jadi, apa salahnya?

Seo Johnny tiba-tiba memegangi hidungnya. "Eh, hidung gue bengkok ya?"

"Astaga, John. Mana bisa?"

"Apa kita datangin aja mereka terus tanya ada apa?"

"Eh, jangan." Kun mencegah Tyrese, "nanti orang-orang kira kita om-om pedofil lagi. Jangan deh jangan, kasian anak gue belajar di rumah terus bapaknya malah di cap aneh-aneh."

• • •

Sementara itu,
Mansion Nakamoto

"Sumpah demi apapun itu, gue udah capek belajar." Eluh Richene setelah merebahkan dirinya di atas sofa lebar berwarna hitam milik Nakamoto. Lain lagi dengan Yaheskiel, yang masih betah berkutat dengan buku catatannya di atas meja.

Dean mendecih menatap Yaheskiel. "Heh, gak usah sok rajin ya. Gue tau lo ada maksud munafik. Udah stop aja, gue yang pusing lihat lo belajar terus."

"Siapa yang belajar? Orang gue lagi nyatat username cewek-cewek dari klub cheerleader."

"Wah, gila lo. Bener-bener gila." Dylan melempar ponselnya ke meja, "lo bersiap-siap modus sementara duda-duda itu ngebandingin lo sama kita terus?"

"Ingin ku tarik pankreasmu, duhai Moon Yaheskiel." Marcel kemudian memutar bola matanya jengah.

Jonathan menambahkan, "mending lo pindah ke pemukiman lain deh, Kiel. Gue capek denger nama lo terus kalau lagi pembagian nilai. Muak tau gak?"

"Lo semua kok nyalahin gue? Emang lo kira gue mau terlahir kayak gini?"

"Ya pasti maulah!" Seru Jinan yang sedang mensejajarkan beberapa gundam yang Richene bawa dari rumahnya.

"Sini deh, otak lo dituker sama kita-kita. Mau gak?" Reyjune yang sedaritadi membaca novel akhirnya angkat bicara. Dan perkataan Reyjune barusan hanya dibalas cengiran oleh Yaheskiel, sementara temannya yang lain mengangguk setuju.

"Kak Rey, baba kemana sih?" Tanya Richene.

Sebelum Reyjune menjawab, Dylan sudah lebih dulu menimpali, "palingan baba lo nongkrong sama bapak-bapak yang lain. Dan yang menyebalkannya si raja Nakamoto itu ngelarang gue buat nongkrong di luar mansion."

"Hahaha," Jonathan tertawa. "Itu papa lo ya, dasar anak laknat."

"Duh, padahal cita-cita gue jadi anak laknat."

Mendengar perkataan Dean, Marcel langsung melempar sebuah majalah ke arah kepala adiknya. "Gue lapor ke daddy lo! Beneran gak ikut ke Chicago nanti."

"Tukang lapor."

Dahi Yaheskiel mengerut, "emang lo mau pergi ke Chicago kapan?"

"Tiga bulan lagi, ke rumah Oma."

"Gue juga bakal ke Osaka bulan depan." Imbuh Dylan.

Reyjune menambahkan, "kalau gue sama Richene cuma di bawain oleh-oleh dari Beijing soalnya kita gak ikut."

"Gue juga bakalan liburan ke California." Sahut Jonathan, "lo mau kemana, Jinan?"

"Papa gue katanya mau bawa gue buat urusan bisnis ke Thailand. Sekalian ngunjungin Om Ten."

"Lo ke sana dibawa buat urusan bisnis jual ginjal." Dylan tertawa setelah mengucapkan candaannya. "Yaheskiel, lo sendiri?"

Yaheskiel menjadi cemberut karena menjadi satu-satu remaja yang berbeda, alias tidak memiliki kampung halaman yang dapat dikunjungi.

"Aduh, kasian sih. Orang otaknya encer tapi bapaknya gak punya kampung halaman. Huuu." Ejek Dean yang membuat teman-temannya ikut meledek kehidupan Yaheskiel.

Superior MansionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang