Beberapa hari berselang, beberapa hari terakhir pula Reyjune dan Richene membuat teman-temannya semakin kebingungan. Kedua remaja Qian tersebut seringkali terlihat linglung, fokusnya terpecah bak terganggu sesuatu. Ditambah lagi, beberapa anak-anak mansion lainnya seringkali melihat Kun menghabiskan waktu bersama Huanran, orang yang mereka kenal sebagai guru Min Seunghee.
Malam ini, gerombolan pemuda Superior Mansion menggelar acara kecil-kecilan mereka di Mansion Moon. Mereka berencana menginap bersama, sekaligus meresmikan rooftop yang baru saja direnovasi menjadi taman hijau di atas Mansion Moon.
Yaheskiel selaku 'ketua panitia' sekaligus pemilik tempat untuk acara kali ini menunggu teman-temannya di depan mansion bersama Dylan, Jonathan, Reyjune, dan Richene. Mereka memutuskan untuk menunggu anak Seo dan Lee bersaudara agar mereka bisa masuk bersamaan ke dalam hunian Yaheskiel.
"Yang paling pertama datang siapa?" Tanya Richene berusaha menebak di antara Dylan dan Jonathan.
Yaheskiel lantas menunjuk Dylan. "Dia udah jongkok sejak 30 menit yang yang lalu di sini. Apa Om Yuta gak marah lihat lo datang terlalu cepat?"
"Dia malah nyuruh gue nginap sampai tahun depan kalau bisa."
"Pft." Reyjune berusaha menahan tawa, Jonathan pun tersenyum lebar.
"Eh, Rey." Panggil Yaheskiel. "Itu boneka siapa?"
"Ini?" Reyjune menunjukkan boneka Moomin-nya pada Yaheskiel. "Ini punya gue."
Jonathan pun reflek menimpali, "gue gak mau tahu ya, Rey. Pokoknya lo berhutang cerita ke kita untuk malam ini. Lo juga Rich, awas aja kalau gak cerita." Ancamnya.
Richene mengembungkan sebelah pipinya sambil menatap Reyjune yang juga menatapnya. Secara bersamaan Marcel serta Dean pun datang dengan membawa totebag.
"Lo kalau mau ngebom ya jangan di rumah orang, dong." Canda Dylan.
"Ini soda bos. Buat melengkapi malam kita, donasi dari bapaknya Marcel." Balas Dean yang menyebabkan Marcel mendorongnya. "Bapak gue ya bapak lo juga, sialan."
Tidak lama kemudian datang sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapan mereka. Setelah menunggu sesaat, terlihat Tyrese bersama kedua anaknya membawa beberapa kotak putih bergambar buah-buahan.
"Eh—ada Om Tyrese!" Sapa Yaheskiel dibalas senyuman oleh yang terpanggil.
"Ayah kamu mana, Kiel?" Tanya Tyrese begitu menghampiri para remaja yang sedang menunggu. "Ayah kalian?"
"Daddy lagi sibuk urus berkas yang mau dikirim, om." Jawab Dean mewakili Marcel yang mengangguk.
"Kalau bapak saya lagi sibuk didandanin Dyrin." Imbuhan Dylan sontak membuat semua orang tertawa. "Eh jangan salah ya, adek gue calon MUA terkenal."
Setelah tawa sekitarnya mereda, Jonathan melanjutkan. "Kalau dad juga sama kayak Om Johnny."
"Babaku lagi keluar, om. Ada keperluan." Sambung Richene.
Baru saja Yaheskiel akan melakukan gilirannya, seruan Taeil tiba-tiba terdengar keluar dari dalam mansion. "Anak-anak, kalian nunggu di dalam aja." Pintanya yang keluar menggunakan apron dengan tangan yang beberapa bagiannya tampak terbalur tepung. "Eh, Tyrese."
"Gue bawa salad buah untuk anak-anak, ya. Biar pencernaan mereka lancar."
Taeil mengangguk. "Trims. Lo gak masuk?"
"Enggak, gue langsung pulang aja." Tyrese lantas menoleh menatap kedua anaknya. "Kalian jangan macam-macam di mansion ini, paham?"
Keenan dan Jinan mengangguk, membuat Tyrese lalu mengusap kepala mereka dan berjalan kembali menuju mobil. "Papa balik dulu, ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fanfiction[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
