Osaka
Seorang pria terlihat menatap pantulan dirinya melalui sebuah cermin, seraya menata dasi hitam miliknya yang tampak mewah. Sebentar lagi ia akan menghadiri pernikahan mantan istrinya bersama kedua anaknya. Namun,
"Lan, kamu gak mau cepat-cepat atau papa gak akan bawa kamu pulang ke Korea nanti?" Tegas Yuta kepada Dylan yang masih bermain game di atas ranjang. "Kamu dengar papa gak, Nakamoto Dylan?"
"Tahu, ah."
Yuta menutup matanya sebentar, menghela nafas berat atas kerasnya sikap Dylan. Dilihatnya anak itu masih menggunakan kaus putih dengan bawahan celana hitam kasual, seperti tak berniat berbenah dari tempatnya. Sebenarnya Yuta sudah lelah untuk membujuk, memberi tahu, bahkan memaksa anak pertamanya agar bersedia pergi ke acara sakral Aoki Danela.
Dengan keputusasaannya, Yuta meraih selembar jas hitam di atas kursi. "Terserah kamu ya kalau gitu. Kalau kamu gak mau ikut papa, kamu bisa pake taksi. Kalau kamu tetap gak mau pergi dan buat mamamu kecewa, terserah kamu."
Pria itu benar-benar pergi dari kamar hotel, meninggalkan Dylan yang sebenarnya dihantui rasa dilema. Merasa papanya sudah beranjak dari ruangan yang sama, Dylan bangkit dan mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa mama mesti nikah lagi, sih? Bikin jengkel aja. Dia gak pikir perasaan papa apa? Dasar."
Tiba-tiba saja Dylan mendengar suara celotehan Dyrin dari luar kamarnya. Ia segera bangkit untuk melangkah membuka pintu, lantas menemukan Dyrin yang mengenakan gaun lucunya ditemani Jeanne. Gadis sepantaran Dylan itu sendiri menggunakan gaun selutut berwarna putih yang nampak sederhana namun,
"Jean?"
Jeanne menoleh. "Ya?" Baru kali ini nama yang Dylan ucapkan pertama kalo bukan Dyrin, namun Jean."
Dylan termangu sebentar, namun buru-buru menyadarkan dirinya dengan menggelengkan kepala. Ia berdehim selagi menghampiri keduanya. "Itu—hm—" Gugup Dylan.
"Kakak kenapa, sih? Telinganya kok merah? Sakit, ya?" Ujar Dyrin spontan membuat Jeanne terkekeh.
"Idih, apaan? Sembarangan kamu, masih kecil juga udah sok tahu."
"Lo beneran gak pergi?" Tanya Jeanne.
"Kata siapa?"
"Papa lo udah ke lobby, kan? Lo sendiri rambutnya masih berantak, belom pake tuxedo, apalagi?"
"Tadi tuh gue telat bangun, jadi baru siap-siap. Bilang ke papa gue untuk nungguin gue."
Jeanne mengangguk paham. "Ya udah, kalau gitu gue sama Dyrin ke lobby duluan."
Setelah Dylan mengangguk, Jeanne berjalan sambil memegang tangan kecil Dyrin untuk menyusul Yuta. Namun tidak sampai melakukan beberapa langkah, Dylan kembali memanggil, "Jean."
"Ih kakak! Kakak kenapa, sih?" Celoteh Dyrin kepada Dylan karena kesal melihat kakaknya terus menahan Jeanne.
"Kakak gak manggil kamu, ya."
"Kenapa, Lan?" Balas Jeanne.
"Bisa bantuin gue nata rambut, gak?"
• • •
Mansion Lee
Tyrese membuka pintu kamarnya setelah siang ini telah beristirahat total. Saat pria itu sedang merenggangkan otot lengannya, ia melihat seorang maid berjalan dengan wajah yang masam dari arah kamar Lee Jinan.
"Bi, Jinan udah makan?" Tanya Tyrese sebelum menemukan nampan yang berada genggaman maid tersebut layaknya tidak tersentuh sama sekali. Tyrese rasa, makanan-makanan yang masih utuh itu bisa menjawab pertanyaannya. "Sini, biar saya yang bicara sama dia."
Maid mengangguk, menyerahkan nampan makanan pada Tyrese. Wanita parah baya itu lalu pergi membuat Tyrese melangkahkan kaki menuju kamar si tunggal. Tyrese membuka pintu kamar dan mendapati Jinan sedang termenung di tepi ranjang.
"Ji." Panggilnya dengan suara lembut seraya menghampiri Jinan. "Makan dulu, nak."
Jinan tidak memperdulikan apapun, tetap berada di posisinya yang membisu. Saat Tyrese meletakkan makanan di atas nakas, Tyrese tidak sengaja melihat ponsel Jinan yang berderit menunjukkan nama Kevin yang sedang memanggil.
"Makan dulu, nak. Nanti kamu sakit." Sambung Tyrese berpura-pura tak tahu mengenai panggilan itu.
Jinan bereaksi dengan menoleh ke samping, tak begitu ingin melihat wajah ayahnya.
"Kamu gak bisa seperti ini terus, Ji. Bukan cuma kamu yang kaget, tapi papa juga. Papa benar-benar—"
"Tapi kenapa harus Om Ten, pa? Dan Kevin itu sebenarnya siapa? Saudara aku gitu? Kenapa keluarga papa sampai gak tahu sama mamaku yang sekarang ini jadi tunangan Om Ten?" Jelas Jinan dengan suaranya dalam, alhasil membuat Tyrese terdiam seribu bahasa akibat pertanyaannya.
"Maafin papa, Lee Jinan."
"Kenapa harus papa yang mintamaaf?"
Tyrese menarik nafas sembari melihat langit-langit kamar Jinan. Jika saja dulu Tyrese tidak brengsek pada keluarganya, sudah pasti ini semua tidak akan terjadi. Anak kesayangannya sudah pasti tidak akan merasakan semua kesialan ini.
"Sejujurnya, keluarga besar Lee gak tahu siapa mama kamu. Karena papa gak pernah memperkenalkan dia, membawa dia pada keluarga Lee bahkan Om Ten sekalipun. Begitu juga mama kamu, papa gak mau dia tahu siapa keluarga papa."
Jinan mengerutkan keningnya, bingung dengan jalan pemikiran Tyrese seorang. Jinan bahkan tidak bisa membayangkan sebagaimana badungnya Tyrese dulu.
"Papa juga gak mengerti dengan diri papa di masa lalu. Papa menikah dengan mama kamu bukan disini atau di Thailand, tapi di Indonesia. Itu karena—karena dia hamil di luar nikah, dan kita mau jauh dari orang yang kenal dengan kita. Semuanya terjadi atas kesalahan papa sendiri."
"Dan anak yang dikandung mama kamu saat itu adalah Kevin, yang dulu papa beri nama Keenan. Dia anak yang papa lihat terakhir kali itu beberapa tahun silam, saat dia juga masih kecil. Jadi papa gak menyadari dia yang sebenarnya."
Tyrese menjelaskan semuanya dengan sorot mata sendu pada Jinan. "Papa memang benar-benar pendosa di masa lalu, Nan. Papa terlalu memaksakan untuk mengubur ini semua. Maafkan papa."
"Jadi ini sebabnya papa terlalu mengekang Jinan?" Tanya Jinan dengan nada yang mendingin.
"Papa gak mau kamu seperti papa."
Jinan menghela nafas berat, beralih menutupi badannya menggunakan selimut untuk menghindari tatapan Tyrese.
Tyrese terdiam sejenak setelah akhirnya mendengar Jinan berkata, "aku mau sendiri dulu. Tolong papa keluar dari kamar Jinan."
Tyrese tidak bisa berbuat banyak, dan pada akhirnya memutuskan untuk bangkit meninggalkan kamar Jinan dengan langkah yang tidak mudah. Tyrese rasa, ia tidak bisa memaksakan kehendak pada anaknya agar dapat memahami dan menerima masalah ini secara langsung. Selama ini Jinan selalu menjadi anak penurut dan itu membuat Tyrese senang. Tapi sayangnya, remaja itu harus melewati hari-harinya dengan kekangan karena masa lalu Tyrese.
"Tuan Lee, ada tamu di luar." Ujar seorang maid begitu Tyrese menutup pintu kamar Jinan.
"Siapa?"
Maid tersebut menggeleng, "saya belum pernah lihat, tuan."
"Ya sudah, kamu balik kerja." Balas Tyrese kembali melangkah menuju ke ruang tamu.
Ya Tuhan—ah, tidak untuk sekarang Tyrese harus melihat Kevin. Oh demi apapun itu, apa Tyrese harus memanggilnya Kevin atau—Keenan mulai sekarang?
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fanfiction[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
