Jam makan siang telah tiba, seorang Qian Kun nampak merenggangkan dasinya setelah beberapa jam berkutat dengan dokumen-dokumen pekerjaan. Pria itu kemudian bangkit, berniat menelepon asistennya untuk dibawakan makanan siang. Tetapi ponselnya lebib dulu berdering dengan menunjukkan nama Reymoominie sebagai si pemanggil.
Kun terkekeh, mengingat Reyjune akan merasa risih dengan nama kontak yang dibuat olehnya. Seperti anak kecil, katanya. Namun mau sampai kapanpun, Kun akan tetap menganggap semua anaknya sebagai malaikat kecil.
"Halo, Rey?" Sapa Kun setelah menggeser tombol hijau pada layar ponsel. "Kenapa?"
"Ba, Richene lagi jalan ke kantor baba. Dia sakit, dan mau ke baba aja katanya."
Alis Kun mengerut, nampak cemas dengan kondisi si bungsu. "Kok bisa?"
"Rey juga gak tahu, ba. Maaf Rey gak bisa ikut pulang lebih awal, soalnya Rey ada keperluan organisasi. Oh iya, Chene ditemenin sama bu guru, kok. Tenang aja."
"Kamu sendiri udah makan siang? Jangan sampai kamu juga sakit. Nanti baba minta tolong sama Om Sicheng, biar dia yang jemput kamu, dan kita makan malam di luar hari ini."
"Oke, ba. Zài jiàn (see you)."
"Bǎo zhòng (take care)."
Reyjune mengakhiri sambungan teleponnya, menyebabkan Kun menghela nafas dan tidak berhenti memikirkan Richene. Saat Kun baru saja hendak menelepon si bungsu, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, menghadirkan Richene dengan wajah lesunya di ambang pintu.
"Ba." Panggilnya.
Reflek Kun bangkit dan menghampiri Richene, memeluknya singkat sebelum menyentuh keningnya. Kun ingin memastikan jika suhu badan Richene tinggi, tidak seperti biasanya.
"Mau ke dokter sekarang?"
Richene menggeleng. "Aku mau disini aja, ba."
"Kamu udah makan belum?"
"Belum."
"Ya udah, kalau gitu kamu duduk disana dulu. Baba pesankan makanan dan obat." Pinta Kun memegangi pundak Richene. "Ah, bu guru kamu mana?"
"Tadi mau telepon dulu katanya, mungkin sebentar mau pamit."
Kun mengangguk paham. Setelah itu ia berbalik, berniat mencari asistennya yang tak kunjung datang. Richene sendiri berjalan ke arah sofa, mendudukkan diri nyaris terbaring.
Lambat laun Richene menjadi bingung, melihat ayahnya yang mematung menatap pintu ruangan yang terbuka.
"Ba, kenapa?
Kun menjadi gugup, melihat wanita yang baru saja memenuhi pandangannya.
"Huan—Ran."
"Kun."
Richene semakin bingung, karena dua orang itu tampaknya saling mengenal satu sama lain. Meski begitu Richene terus mendesak dan menambahkan, "Huanran siapa, ba? Itu bu guruku, namanya Bu Seunghee."
Berbeda dengan temannya yang tengah menerima kedatangan Richene juga Seunghee—atau yang Kun kenal sebagai Huanran—Seo Johnny sendiri kini terlihat mendatangi sekolah kedua putranya dengan raut wajah muram setelah memperoleh kabar jika selama ini Marcel telah dijebak.
Sebagian besar warga sekolah yang tahu Seo Johnny dibuat heran, karena biasanya Johnny tidak pernah terlihat marah seperti itu. Bahkan langkahan kaki jenjangnya terus menapak dengan cepat menuju ruangan komite sekolah. Selepas membuka pintu ruangan, Johnny menghampiri Marcel dan Dean seraya merenggangkan ikatan dasinya.
"Mana orang yang menjebak kamu? Mana? Sini bawa ke saya." Pinta Johnny acuh tak acuh pada kehadiran para guru dan beberapa staf lainnya.
Marcel berdiri, berusaha menenangkan Johnny. "Jangan terlalu emosi dulu, dad. Duduk dulu."
"Kamu mau baik sama orang jahat? Mana dia?" Mata Johnny mengedar, melihat beberapa orang yang terdiam di dalam ruangan. Hingga sorot ekor matanya berhenti, menemukan seorang remaja lelaki dengan seragam sekolah berbeda duduk di sebelah gadis berpapan nama Kwon Lillian.
"Oh, jadi kamu Lillian? Jadi kamu yang menjebak Marcel bareng sepupu kamu itu? Itu sepupu kamu? Kwon Han?" Johnny mendadak berjalan ke arah Lillian dan Han namun beruntungnya segera dicegat oleh si kembar.
"Dad, jangan kayak begini. Ini sekolah, dad." Bisik Dean berusaha menyadarkan ayahnya.
"Jaga perlakuan kamu, ya." Tegas Johnny menunjuk Han. "Kamu sudah buat anak saya tercoreng namanya!"
Dengan sikap arogannya Han berdiri, dengan santai ia seolah tak melakukan kesalahan. "Anak bapak yang gak tahu malu, menyebarkan ke seluruh penjuru sekolah tentang kasus paman dan ayah saya."
Marcel mengerutkan kening, namun ia segera membantah perkataan Han. "Sejak kapan gue yang menyebarkan? Gue gak kayak lo yang seenaknya bertindak sendiri."
"Memang bukan lo, tapi adek lo."
"Hah? Gue?" Dean melongo. "Heh bedebah, potong lidah gue kalau memang gue cerita sana-sini tentang paman dan ayah lo. No offense, tapi gue anaknya sibuk urus diri sendiri daripada urus masalah orang lain kayak lo."
Lillian menjadi kebingungan karena kondisi yang semakin kacau, Lillian pun bertanya pada Han. "Lo bener-bener menjebak Marcel karena orang-orang tahu masalah ini? Han, gue juga gak tahu kenapa ini bisa tersebar."
"Lil, lo gak merasa curiga sama mereka? Lo gak merasa terancam, gitu?"
"Please, Han. Please. Minta maaf ke mereka karena lo udah berbuat hal yang seperti ini. Mereka gak salah."
"Pasti mereka yang nyebarin, Lil!"
"Belum tentu mereka karena gue lebih tahu mereka dibanding lo, Han!"
Para guru dan petugas lain berusaha mengembalikan situasi agar kondusif, melerai argumen yang terjadi di antara Kwon. Marcel dan Dean yang tengah berusaha mendinginkan amarah Johnny pun berusaha untuk tidak memaki-maki pendapat Han, sebenarnya.
Tak pelak, Johnny memutuskan untuk keluar ruangan bersama kedua putranya. Sebelum itu Johnny berkata kepada salah satu pengajar yang ada disana. "Saya gak mau tahu, kalau bukan keluar dari sekolahnya, beri hukuman jera untuk anak itu." Tunjuknya pada Han.
"Tapi Pak Seo, dia bukan siswa sekolah ini."
"Saya gak peduli, atau saya akan besarkan kasus ini sampai media tahu kalau anak saya psikisnya nyaris tertekan karena difitnah. Saya gak main-main. Tanya dia, apa dia tahu sedang berurusan dengan siapa sekarang? Dia berurusan dengan saya, Seo Johnny."
Pengajar yang menghadapi pria Seo itu menjadi kaku akibat tak dapat menjawab apapun untuk mengelak kepada pria yang juga merupakan salah satu donatur terpandang SMA Internasional Origin. Pengajar melihat keluarga Seo pergi, meninggalkan ruangan komite tanpa tambahan lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Superior Mansion
Fanfiction[✓.] Superior Mansion, tempat di mana para pria-single-parent mapan dan berkelas tinggal bersama para buah hati yang beranjak dewasa. © HATESTRAWBERRY
