2. masih pembagian nilai

30.5K 5.9K 1.8K
                                        

Mansion Nakamoto

"Kamu itu—jadi anak! Kalau gak main motor, main game terus. Malas belajar! Lihat nilai kamu gak pernah beres!"

Dylan mendesis, "yeee—daripada papa."

"Kenapa sama papa?"

"Waktu sekolah suka mainin cewek."

Yuta reflek memukul anaknya dengan kertas nilai yang telah digulung. Entah kenapa Dylan tak kunjung menerapkan nasihat orang tuanya sendiri, dari usianya beranjak remaja sampai saat ini. Begitu keras kepala dan cuek.

"Aduh, pa! Sakit tau." Dylan meringis sambil memegangi kepalanya.

"Gini aja kamu bilang sakit? Belum aja papa ambilin ikat pinggang." Yuta bangkit dari duduknya namun segera dicegat oleh remaja lelaki itu.

"Iya, pa iya. Ampun deh aku. Gak diulang lagi, sumpah."

"Kemarin kamu malu-maluin papa karena berantem di sekolah, dan sekarang kamu mau buat papa makin malu sama nilai kamu?!"

"Enggak, pa. Dylan janji bakal belajar."

Yuta menatap Dylan yang merengek-rengek sambil memegangi tangannya. Begitu Yuta sudah muak, Ia akhirnya melepas tangan Dylan dan berkata, "pokoknya papa kali ini gak sita ponsel kamu. Tapi motor kamu yang ada di garasi. Semua."

"Yah, pah—"

"Dengerin kata papa ya Nakamoto Dylan! Membangkang terus. Lihat Yaheskiel, anaknya diam kalau dikasih nasihat sama ayahnya. Gak bawel kayak kamu, bicara terus kayak burung gagak." Kali ini Yuta berdiri tegap sambil memperbaiki kerah kemejanya, "mau jadi apa kamu nanti?"

Dylan membatin dalam hati, "ini bapak-bapak gak tau aja Yaheskiel tukang modus."

"Kamu ditanya malah diem aja?!"

"Kan tadi papa bilang mesti kaya Yaheskiel diem aja. Sekarang giliran diem malah disuruh jawab, ah."

Sorot mata Yuta menjadi sinis. "Kalau aja papa gak ada urusan di kantor, udah papa kasih pelajaran kamu sampai siang. Sana masuk kamar, belajar. Awas kalau sampai papa tahu kamu keluar dari mansion ini."

"Iya, iya."

Akhirnya pria itu berjalan keluar, meninggalkan kediaman dan anaknya yang terus mendesis kesal. Untuk hari ini Dylan tak punya pilihan selain menongkrong di dalam kamar dan memaksa otaknya untuk belajar.

• • •

Mansion Qian

"Richene, Reyjune. Bangun dulu anak-anak gantengnya baba."

Pria berkulit putih dengan pipinya yang sedikit tembam sedang membangunkan kedua remaja yang juga memiliki warna tone kulit sama dengannya. Sebut saja Kun, pria berwajah damai dan rupawan.

"Ba, 5 menit lagi tolong." Sahut Reyjune dengan suara paraunya.

"Rich, Rey." Panggil Kun sekali lagi, "papa gak bawakan oleh-oleh dari Beijing ya nanti."

Reyjune dan Richene sontak terbangun sambil mengusap wajahnya. Kun tersenyum tipis, menggeser salah satu kursi belajar milik putranya. Namun sebelum itu, mata kecokelatannya menangkap dua lembar kertas yang berada di atas meja Reyjune.

Disana tertera hasil ulangan mereka berdua dengan nilai yang memuaskan. Syukurlah. Meskipun Kun tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk belajar, tetapi mereka berdua bisa menyenangkan hati baba-nya dengan mengasah kemampuan akademik.

"Baguskan, ba." Pamer Richene dengan suara serak khas bangun tidur, "aku minta hadiah."

"Hadiah apalagi?"

Mata Reyjune sedikit membulat melihat Kun, "katanya kalau nilai kita bagus bisa dapat hadiah kayak Yaheskiel?"

"Baba kan nanya ke Richene. Bukan ke kamu, Rey." Kun kembali menoleh pada Richene yang raut wajahnya terlalu kebingungan.

"Maksud baba aku gak dapet hadiah? Kan nilai Rich sama Kak Rey gak beda jauh tuh, ba."

"Baba mau tanya. Kok ada tagihan di rekening ketiga baba dari penjual gundam yang harganya udah kayak ponsel baba?"

Richene tampak berpikir, dan beberapa detik berlalu ia menyeringai jahil.

"Jadi adil kan, kalau Reyjune doang yang dapat hadiah dari baba?"

Hati Richene menjadi kecil, mengutuk tindakannya yang membuat dia menyesal sekarang.

• • •

Mansion Jung

"Berantem bareng Dylan, nilai terjun bareng Dylan. Kamu anak Jung Jeffrey apa Nakamoto Dylan, Jonathan?" Tanya Jeffrey dengan nada bicaranya yang mendingin.

Jonathan hanya bisa menguyah dengan lembut roti yang telah berada di dalam mulutnya, tak berani menjawab sarkasme sang daddy. Pria itu memang tak pernah marah dengan berteriak menggerutu, namun jika sudah berbicara dengan nada tak suka maka segalanya akan menusuk batin Jonathan dalam-dalam.

"Tentang berantem itu, siapa yang kamu—"

Jonathan memotong pembicaraan Jeffrey dengan pelan, "aku gak berantem dad. Aku cuma memisahkan mereka tapi aku gak sengaja dorong—"

"Daddy belom selesai bicara, ya."

"Maaf, dad."

"Mulai minggu depan kamu akan les bareng Yaheskiel. Daddy udah bicara sama ayahnya. Papanya Dylan juga dengan keputusan yang sama. Jadi—" Jeffrey menggantungkan kalimat untuk meneguk segelas air putih sejenak. "Mobil sama motor kamu daddy sita. Gak ada penolakan."

"Oh, iya. Katanya kamu udah punya pacar? Siapa dia?" Tanya Jeffrey sekali lagi.

Dahi Jonathan mengerut, "gak ada dad."

"Gak ada apanya?"

"Jonathan gak punya pacar."

"Bohong."

"Sumpah dad. Cek lagi CCTV sekolahku kalau gak percaya, kayak dulu pas daddy kira aku sering bolos dan ngerokok, langsung minta Pak Byun buat cek CCTV sekolah."

Jeffrey diam, lalu mengangguk ringan dan kembali memperhatikan Jonathan yang seperti menggumam.

"Kamu ngomong apa? Ngeledek daddy kamu?"

Jonathan reflek menggeleng. "Astaga Ya Tuhan, enggak."

"Terus?"

"Aku cuma mau bilang, gimana caranya aku mau punya pacar di sekolah kalau semua cewek-cewek pada nanyain daddy terus, bukan aku."

Resiko ayah dan anak yang punya gen unggul ya seperti ini, apapun bisa terjadi.

"Tenang aja, soalnya wajah kamu masih belum matang, belum seperti daddy." Jeffrey bangkit dan meraih tas kerjanya, "makanya itu otak juga diencerin kayak saya."

Superior MansionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang