34. menyembunyikan sesuatu

7.9K 1.6K 96
                                        

Saat ini, Qian Reyjune sedang menatap adiknya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. Babanya pergi karena akan mengurusi suatu hal penting, katanya. Sementara Qian Sicheng—pamannya—sudah ke bandara untuk bertolak ke London sore tadi.

Pikiran Reyjune tentang Seunghee yang bernama asli Huanran, terus membayangi detik demi detik yang tengah ia lalui. Selama ini Reyjune telah menempati satu lingkungan yang sama dengan wanita itu, namun—kenapa Reyjune dan yang lainnya malah tidak menyadari hal sepenting ini?

"Kak." Lenguh Richene membuat Reyjune reflek bangkit dan berdiri di samping ranjang adiknya. "Kak, Om Sicheng udah pergi?"

Reyjune menghela nafas lembut. "Iya. Dia gak mau mengganggu lo, jadi dia kirim voice message berpamitan buat lo di roomchat."

"Baba?"

Reyjune mengendikkan bahu, kemudian berdalih membahas hal lain. "Lo mau makan, gak?"

"Iya, gue lapar soalnya."

"Makan disini apa makan di ruang makan?"

"Di ruang makan aja. Gak usah dibantu, gue kuat kok."

Dahi Reyjune mengerut menanggapi perkataan Richene. "Emang siapa juga yang mau bantu lo? Udah gede juga." Katanya lalu melangkah lebih dulu.

Richene berdecak kesal menemukan kedinginan si sulung yang mungkin saja tak akan pernah usai. Namun Richene segera mengabaikan itu dari pikirannua lalu menyusul Reyjune. Alih-alih melihat ruang tamu kosong seperti biasa, mereka berdua menemukan kehadiran Kun, bersama Seunghee, atau Huanran.

Langkah keduanya menjadi tersendat, bahkan Richene mampu menyadari raut tak begitu menyenangkan dari kakaknya. Richene tak begitu paham dengan kondisi hati Reyjune, merasakan situasi pun menjadi sedikit canggung.

Hingga akhirnya Kun memilih untuk bangkit, berjalan menghampiri anak-anaknya bertujuan membuka percakapan. "Rey, Rich, dia—"

"Udah tahu, ba." Kata Reyjune seolah tak mengizinkan Kun menyelesaikan penjelasannya. "Chene mau makan, aku juga. Tunggu sebentar, ya."

Kun kebingungan sekaligus takut, jika saja sikap dingin Reyjune adalah pertanda jika anak itu tak suka dengan kehadiran Huanran. Tetapi di sisi lain Kun berusaha yakin jika itu tak akan mungkin terjadi, mengingat Reyjune merupakan anak yang baik dan penurut meski tampak sinis dari sampulnya.

"Oh, iya. Kalau gitu kalian makan aja dulu. Baba tunggu, ya." Balas Kun lembut membiarkan keduanya melangkah menuju ruang makan.

Saat tiba, Richene segera mencegat tangan Reyjune. "Kak, lo kok kayak gitu? Bukannya selama ini lo juga rindu sama mama?"

Reyjune mendengkus, memperlihatkan jika emosinya sedang tidak stabil. Entah kenapa seperti ada sesuatu mengobrak-abrik batin si sulung ini. Tanpa mengindahkan pertanyaan Richene, Reyjune melepas tangannya, memutuskan melalui Richene untuk menegak segelas air putih. Bukannya duduk dan bersiap untuk makan, Reyjune lantas keluar dari ruang makan dan naik ke lantai atas tanpa memperdulikan panggilan Kun dan Richene yang semakin kebingungan.

Pintu kamar terdengar dikunci, Reyjune lantas meraih sebuah bantal berbentuk kartun Moomin dari bawah ranjangnya. Ia menghela nafas berat, keluar menuju untuk menyendiri.

Kenyataannya, saat ini Reyjune merasa bingung. Kekurangannya selama ini adalah Reyjune tak tahu cara menyambut orang yang baru datang dengan baik, bahkan orang itu adalah ibunya sekalipun. Reyjune hanya mudah berbaur bersama orang-orang di mansion yang selayaknya berada di umur yang sama, dibanding orang lain yang bahkan kehadirannya membingungkan seperti ini. Apalagi, Reyjune memang dikenal lumayan ketus oleh orang yang tidak tahu jati dirinya yang asli.

Nafasnya terdengar dihela lagi, ia lalu memutuskan duduk di samping pintu dan mendongak, menatap awan yang seolah sedang berjalan. Reyjune akan selalu menyalahkan dirinya yang seperti ini, diri yang selalu menjadi tertutup pada orang lain.

Boneka Moomin-lah yang menjadi saksi kegundahannya selama hidup. Boneka yang ada di tangannya bukanlah sekadar boneka biasa. Itu merupakan peninggalan Huanran saat Reyjune masih kecil, saat Richene masih bayi. Peninggalan terakhir sebelum Keluarga Qian dan Huanran harus terpisahkan oleh suatu insiden.

"Jadi itu wajah mama sekarang." Gumamnya seraya berhadapan dengan boneka. Terlihat usang, namun Reyjune betah untuk hidup dengan menyimpannya. Sesaat Reyjune kembali terdiam, sebelum akhirnya mengusap ekor matanya yang terus berair. "Baba, mama, maaf. Reyjune gak tahu harus bersikap seperti apa."

• • •

Keesokan harinya
SMA Internasional Origin

Semua pemuda dari penghuni Superior Mansion sepakat berkumpul di kafetaria sekolah hari ini. Mereka sangat antusias, karena sejak hari pertama masuk sekolah pada semester ini, jumlah mereka selalu kurang lengkap. Dan ya, hari ini mereka sudah full member yang tentunya juga dihadiri dengan Keenan.

Si sulung Lee dan adiknya berjalan beriringan dari luar kafetaria, masuk ke dalam area makan terelit sekolah dan disambut sangat riuh oleh teman-temannya. Murid lain sedikit terkejut dengan keramaian para siswa terkenal itu. Maklum saja, hari ini para murid dan penjaga gerai baru melihat mereka lagi setelah sekian lama.

"Lee Keenan!" Seru Marcel dan bangkit setelah dihampiri oleh Keenan. "Yo—wassup?" Lalu membuat ritual highfive yang mereka ciptakan.

Hal ini membuat Dylan mengerutkan kening. "Eh, kalian mau baku hantam?"

Marcel dan Keenan menunjukkan deretan gigi masing-masing, kemudian duduk di tempat yang telah disediakan. Seharusnya semua meja di kafetaria hanya terisi maksimal 4 orang, namun melihat mereka yang begitu banyak dan selalu bersama, pihak kafetaria setuju pada permintaan orangtua para pemuda tersebut. Mereka akan memiliki tempat tersendiri di sekolahnya.

"Coba tebak gue bawa apa." Kata Jinan mengeluarkan permainan susun balok dari totebag-nya. Semua temannya semakin riuh, bersorak ramai bak menemukan harta karun.

"Mantap, nih!" Senang Jonathan. "Yang kalah gak bakalan ikut ke Seoul Fashion Week!"

Mendadak Yaheskiel menimpali, "ya jangan yang itu, dong! Kalau gue yang kalah, gimana? Masa dioper ke Fashion Kids-nya?"

"Pesimis amat."

"Lo dioper ke Planet Saturnus kalau kalah." Canda Keenan.

"Gak usah banyak bicara ya, bapak-bapak. Kita mulai aja dari saudara Jinan dan nanti akan diakhiri sama—eh Rich, Rey! Nyawa kalian masih disini, gak?"

"Halo." Dylan mengayunkan tangannya di depan wajah Reyjune. "Lo berdua melamun aja daritadi, ada masalah?"

"Kalau yang diam Kak Rey sih, masih oke oke aja. Nah, kalau Rich—kok tumben lo kalem? Masih sakit, ya?" Tanya Yaheskiel.

Richene yang tersadar nampak terdiam sejenak, kemudian dia berusaha terkekeh menjauhkan gundahnya. "Gak, gue cuma kepikiran sesuatu. Ayo main!"

Semuanya mengangguk paham, memulai permainan dengan menyusun balok lebih dulu. Beda lagi dengan Marcel yang sebenarnya masih memperhatikan gelagat Reyjune yang benar-benar berbeda hari ini. Terlalu diam. Marcel lalu berbisik pada Jonathan yang duduk tepat di sebelahnya.

"Jo, Rey beneran gak apa-apa?"

Jonathan tadinya fokus pada Jinan yang berusaha menarik balok, dibuat menoleh pada Reyjune karena bisikan Marcel. Ah, Marcel mungkin benar. Reyjune seperti memiliki tekanan karena suatu hal. Jonathan membalas bisikan Marcel. "Ini cuma dugaan gue doang, tapi—kayaknya dia lagi ada masalah dari kemarin. Richene aja kayak nyembunyiin sesuatu."

Marcel dirundung rasa bingung. Jika seperti ini, sebagai anggota anak mansion yang selalu memimpin, Marcel merasa bersalah jika ia hanya membiarkan temannya larut dalam masalah. Apalagi Reyjune selalu membantunya dalam menasihati teman-teman yang lain jika berada di situasi yang sama.

Sayangnya Reyjune memang jarang bersedia menceritakan hal-hal yang membuatnya kesulitan. Meski selalu hadir untuk teman-temannya, Reyjune sendiri akan berusaha menutup masalah meski itu sangat membutuhkan bantuan orang lain.

Superior MansionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang