Pernahkan kau lupa sesuatu?
Mungkin Ucapan,
Mungki Kejadian,
Mungkin Waktu.
Kenapa kau melupakan semua itu?
Apa karena,
Semua itu tak berguna untukmu?
Semua itu tak penting bagimu?
Kau mungkin kaget untuk tahu,
Bagi orang lain
Semua itu adalah hal penting untuknya.
-
-Rabu, 28 November
“Hi Oh Sehun.” Sehun memutar bola matanya malas dengan kehadiran mahluk satu ini. Dia hanya ingin istirahat dengan tenang di sofa yang biasa dipakai untuk diskusi para polisi.
“Kau belum juga pergi Park Chanyeol?” Chanyeol hanya tersenyum mendengar itu dan duduk berhadapan dengan Sehun. Beberapa minggu berada kantor polisi dia sudah sangat terbiasa dengan sikap Sehun.
“Apa maksudmu dengan pergi, kasus kalian kan belum beres.” Menerima fakta bahwa Chanyeol benar, Sehun akhirnya terdiam tapi ekspressi ‘pergilah kau’ tak hilang sedikitpun dari wajahnya.
“Aku bertanya-tanya apa yang membuat kalian tak pernah akur?” Baekhyun datang dan ikut duduk di samping Sehun.
“Dia selalu berada di bawahku saat kita sekolah kepolisian, mungkin dia dendam karena itu.” Ucap Chanyeol yang membuat wajah Sehun semakin kusut.
“Kau serius berpikir itu alasannya?” Jika diingat lagi Chanyeol tak pernah bertanya tentang ini.
“Lalu menurutmu apa alasannya?” Tanya Baekhyun.
“Kita sangat dekat saat berada di sekolah kepolisian, dia memang selalu berada di atasku, aku tak masalah. Kita berjanji akan bekerja di kepolisian yang sama dan melindungi satu sama lain.” Sehun menghentikan ucapannya untuk melihat reaksi Chanyeol, mungkin saja dia teringat dan merasa bersalah, tapi tidak sama sekali.
“Itu terdengar tidak buruk.”
“Aku adalah orang baik.” Chanyeol melebarkan senyumnya.
“Iya, sampai kau sadar kalau saat ini dia bukanlah polisi. Dia detektif swasta, dia mengkhianatiku dan menjadi orang paling memuakkan.” Baru lah saat ini raut wajah Chanyeol berubah.
“Hei, aku mengajakmu waktu itu, dan kau menolak.” Sehun terkekeh.
“Dan itu membuat semua lebih buruk,” Chanyeol terdiam menunggu lanjutan ucapan Sehun.
“Kau satu-satunya orang yang tahu alasanku masuk kepolisian karena apa, kau bertingkah seolah lupa itu dan mengajakku begitu saja.” Waktu itu tak banyak orang yang mengetahui tentang ayah Sehun, dan Chanyeol satu-satunya orang yang Sehun percayai untuk menceritakan semuanya. Fakta Chanyeol melupakan hal itu sangat menyakiti Sehun.
“FYI aku mengingatnya, aku mengingat semua. Aku hanya berharap kau berhenti ingin membuktikan sesuatu yang kenyataanya hanya kepercayaanmu semata.” Chanyeol menaikkan suaranya.
Baekhyun hanya terdiam, ini pertama kalinya dia melihat Chanyeol di sisi serius untuk hal seperti ini.
“Apa maksudmu? Aku melakukan semua pembuktian ini sia-sia?” Sehun memicingkan matanya, amarah mulai memenuhinya.
“Kalau Ayahmu gagal dalam misi, lalu? Kalau Ayahmu tak bisa melindungi partnernya, lalu? Memang kenapa jika dia bunuh diri? Kau berusaha membuktikan kalau dia tak salah? Tak ada seorangpun yang berkata dia salah. Hanya kau yang membencinya.”
“Aku membuktikan ke orang lain kalau aku tak sama dengan dia!” Sehun mencengkram kerah baju Chanyeol tapi Chanyeol tetap tersenyum tidak sedikitpun merasa takut.
Baekhyun bangkit dari duduknya menarik Sehun menjauh. Beruntung tempat itu sepi hanya beberapa polisi yang menatap heran.
“Kalau kau sama dengan dia lalu kenapa? Dia polisi hebat kau tak mau mengakui itu?” Sehun terdiam.
“Kau ingat, Jongin bisa pergi karena kau berusaha tak melakukan apa yang Ayahmu lakukan, dan itu salah.” Mendengar nama Jongin, Sehun semakin ingin menghajar Chanyeol. Dia berusaha menyingkirkan Baekhyun yang menghalanginya.
“Panggil Luhan!” Teriak Baekhyun pada salah satu polisi yang berada di sana. Jelas hanya Luhan yang dapat menghentikan Sehun.
“Kau dulu tak mudah percaya pada orang lain, aku selalu memberitahumu untuk hati-hati, kau yang melupakan hal penting dariku Oh Sehun.”
“Kau salah satu orang yang mengkhianatiku, kau pikir kau punya tempat untuk bicara seperti itu?” Sehun mulai bicara dengan tenang dan Baekhyun melepaskan pegangannya.
“Karena itu juga aku bertanya-tanya apa yang sudah Kim Jongin itu lakukan padamu, mungkin dia memang sengaja mendekatimu untuk membuatmu semakin lemah,” Itu menyakiti Sehun, terlalu menyakitinya.
“Jika kau tanya padaku, bagiku kau melakukan kesalahan lebih buruk daripada Ayahmu.”
Luhan dan Baekhyun terlalu terlambat menghentikan pukulan Sehun.
*
*
*
Hi ^^
Thanks for reading ><
Maaf, beribu maaf. Apa masih ada yang nunggu ini ff ???? ㅠㅠㅠㅠㅠ
Harusnya update berminggu-minggu lalu, tapi berhubung laptop dipake ama sekolah dan alasan lainnya jadilah telat SANGAT ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
Selain itu, ternyata draft nya keduluan jadilah sekarang stuck di 4 chapt kedepan, jadi gak bisa rutin up ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
Plus, udah pengen Jongin muncul kan??? Tapi Jongin muncul masih agak jauhan jadi bingung apa harus kekebutan biar Jongin cepat muncul atau tetap di rencana awal ㅠㅠㅠㅠㅠ
Kalau ada yang masih bingung dengan ceritanya, karena aku yakin banyak banget missing point, silahkan tulis di comment, dijawab di chapt depan ^^
Next Chapter: You Kinda Right.
If you like it, tell me please~~
Support kalian berarti banyak buatku ><
C u next time (^^)/
KAMU SEDANG MEMBACA
Smile on my face || KaiHun
Fanfiction[END] [Crime Au | Main: Kaihun, Slight: Lumin] Sehun tahu semua resiko yang dia miliki saat dia memutuskan menjadi polisi, tersakiti, terkhianati, juga mati. Jatuh cinta sangat dalam pada seseorangpun menjadi salah satunya.
