Dunia itu terlalu baik ngebiarin seseorang yang namanya Choi Hyunsuk hidup dan menghirup udara dunia yang sama denganku.
note:
- baku 90%
- harsh words
- silverboys in the house!
310119 - 1st #silverboys
- 8th #hyunsuk
210219 - 1st #m...
Jangan lupa teken bintang dulu sebelum mulai baca! Inget, teken bintang gratis😃!! Gratis!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi hari yang cerah, cocok sekali untuk memulai aktivitas di sekolah. Setelah kemarin aku pulang sekolah belajar bersama dan diantar ke rumah oleh Seunghun, aku merasa hari ini menjadi jauh lebih mendebarkan dibanding ketika aku tahu kalau balas dendam Hyunsuk tengah menungguku. Apakah kalian merasa aneh ketika tahu kalau Seunghun tiba-tiba berusaha mendekati aku? Ada banyak gadis populer lainnya yang bisa ia dekati tapi kenapa harus aku? Ini sama saja seperti telah memenangkan lotre ratusan juta!
Kini pikiranku kembali pada keramaian pagi yang terjadi. Hari ini pelajaran dikosongkan karena kami semua diwajibkan menyiapkan acara untuk besok, jadi pantas saja pagi ini semua murid nampak asyik berkeliaran dan repot dengan tugas masing-masing.
Aku juga repot dengan tugasku sendiri, yaitu membawa beberapa peralatan yang kami perlukan agar kelas nampak jauh dari kata lusuh. Tapi memang dasarnya sekolah ini memang sudah bagus, jadi acara hias menghias hanya sebuah bentuk untuk merepotkan kami saja.
Aku terlalu fokus berjalan menuju kelas sambil memeluk kotak kardus berisi pita, solasi, dan berbagai peralatan lainnya sampai-sampai tidak menyadari sosok seseorang muncul menyapaku.
"Pagi."
Mataku melebar saat Seunghun tersenyum dan mengambil kotak yang kubawa dari tanganku.
"Kayaknya hari ini bakalan repot banget, ya?"
Tanganku pun langsung berusaha merebut kembali kotak peralatan itu, "Eh, biar aku aja---"
Seunghun menatap mataku sambil menggeleng, "Inget kata perawat Park gaboleh bawa bawaan berat."
"Kayak gitu doang ya gak beratlah..."
"Gapapa aku aja yang bawa."
"Wah wah waaaaahhhhh, ada apaan nih jalan berduaan?!" kali ini sosok Suah yang muncul entah dari mana sambil langsung menggaet lengan kananku---
Aksinya pun sontak membuatku otomatis menjerit kesakitan.
"BAHUKU, YA TUHAN."
"Oh, maaf!" dia pun langsung tertawa dan mengusap-usapnya. "Eh Seunghun, mau nanya, soalnya aku heran aja sih... emangnya kau ngerasa bersalah banget apa? Bahu Jian sakit bukan salahmu, kok?"
Saat Suah menanyakan pertanyaan itu, aku mengecek ekspresi wajah Seunghun, dia menatapku sejenak, lalu beralih menatap Suah.
"Dih, mau tau aja."
Mata Suah langsung mendelik, "Dihh, ngeselin bangeeeet ada apaan sih, Jian?"
Aku hanya angkat bahu, "Gak tau, tuh. Tanya aja sama Seunghun."
Setelah tahu kalau kami sudah sampai ke kelas, Seunghun lalu menyerahkan kotak peralatanku pada Suah.
"Dah, aku mau ke kelas dulu, ya. Semangat!" Seunghun melambai padaku lalu mengepalkan tangannya memberi semangat sebelum ia pergi berlalu.