[ COMPLETE ] Menurut teori dramaturgi, kehidupan manusia tak ubahnya seperti panggung sandiwara. Mereka punya peran masing-masing untuk ditampilkan ke khalayak.
Tak terkecuali dengan Kenzie.
Dalam panggung sandiwaranya ia harus kembali berperan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
Kalau dibilang Honey paham rasa kehilangan yang Rere alami, memang benar. Bagaimanapun gadis itu juga mengalami hal yang sama dengan Rere. Kehilangan orang yang paling mereka sayang dan menyisakan sebuah penyesalan mendalam.
Tapi Honey sudah tidak dalam tahap menyesal lagi. Ia sudah lama merelakan maminya dan memaafkan dirinya. Berdamai dengan takdir juga berteman dengan kenyataan. Berbeda dengan Rere.
Rere masih terjebak di sana. Meski belakangan ini kondisi batinnya mulai membaik, Rere masih di sana. Kesedihannya masih menyisa di hati.
Hal itu diketahui Honey tepat saat jemari Rere meraih tangannya, menyatukan mereka sebelum menggenggamnya erat. Sangat erat seolah ia sedang berusaha menyatukan dirinya kembali dan bertemu Yesha dalam keadaan lebih layak.
Di depan pintu masuk TPU Kampung Kandang, giliran Honey yang lebih dulu melepaskan tautan tangan mereka untuk melingkarkan tangannya pada leher Rere. Ia menarik kepala cowok itu dengan lembut, membawanya bersandar pada pundak Honey.
"It's okay to be sad, Kak Ken," bisiknya seraya membelai rambut Rere. "You love her, it's totally understanable for you to cry."
"Do you even like me, Ney?" Gumaman itu membuat Honey sedikit terkejut. Ia tak menyangka ditanya hal demikian tepat di depan gerbang pemakaman. "Kenapa lo gampang banget bilang gue masih sayang Yesha? Do you even like me?"
Rere membalas pelukan Honey, merapatkan tubuhnya. Banyak orang di sekitarnya, tapi ia tidak peduli. Bukannya hal biasa ada yang menangis di pemakaman?
Bukannya biasa pedagang pinggiran itu melihat Rere menangis di sana? Bedanya hanya sekarang Rere tidak menangis sendiri.
"For all the things that I've done to you, you should be hurt to know that I still love her."
"Kak Ken... buat gue rasa sayang itu gak akan bisa hilang. Dia akan terus menetap di hati kita, rumah mereka memang udah di sana. Kak Ken gak bisa usir dia, gue gak bisa usir dia."