9. Club

621 103 20
                                    

.
..
...
..
.

Jam istirahat telah berdentang beberapa saat yang lalu. Kini, Hinata tengah berjalan dibelakang sensei unik yang gemar memakai masker dan terkenal dengan alasan 'menolong nenek-nenek menyeberang jalan' saat terlambat, Kakashi-sensei namanya.

Sensei yang baru saja memberinya ilmu itu segera menyuruh Hinata untuk mengikutinya ke ruangan kepala sekolah. Hanya itu, katanya ada sesuatu yang harus kepala sekolahnya bicarakan dengan Hinata.

Tok... Tok... Tok...

Sahutan lantang dari dalam membuat Kakashi membuka pintu bercat coklat itu dengan leluasa.

"Saya bawakan pesanan anda, sekarang saya undur diri dulu, Hashirama-sama."

Pesanan? Hinata merasa disamakan dengan makanan delivery order.

"Ya, terimakasih Kakashi-sensei!"

Laki-laki bersurai perak itu mengangguk sekilas sebelum pergi meninggalkan Hinata seorang diri bersama dengan Hashirama.

"Duduklah, Hinata-chan! Jangan tegang begitu, aku tidak akan menghukummu kok."

Ujar Hashirama santai.

"Lalu kenapa sensei memanggilku kemari?"

Hinata bertanya setelah memposisikan badannya untuk duduk didepan Hashirama.

"Langsung ke intinya saja. Disini, semua siswa wajib mengikuti kegiatan club. Tak terkecuali kau, Hinata-chan."

Anggukan Hinata berikan sebagai respon. Gadis itu tak terkejut sama sekali, disetiap sekolahan pasti kegiatan club itu wajib. Selain melatih otot dan kreativitas, juga melatih kerjasama antar murid. Apalagi desas-desus yang Hinata dengar mengenai sekolahan yang didirikan pamannya ini.

"Ada banyak club yang dimiliki sekolahan ini. Karena kau satu-satunya siswi disini, maka aku akan memberikanmu kesempatan istimewa untuk memilih club yang kau sukai."

Hashirama menyeringai.

"Kesempatan istimewa?"

"Ya, benar sekali. Kau wajib memilih tiga club disini. Tidak boleh kurang, jika lebih malah baik."

"A-apa? Tiga club? A-apa sensei bercanda?"

"Tidak Hinata-chan. Sensei sekaligus pamanmu ini tidak pernah bercanda. Jadi, ayo tentukan club yang akan kau masuki!"

"Heee... Sekarang, sensei?"

"Emm... Tidak. Tidak sekarang, Hinata-chan."

"Ta-tapi, siswa yang lainnya belum___"

"Mereka sudah mendapat selebaran club saat ini. Jangan khawatir, mereka juga memiliki waktu terbatas untuk memilih club mana yang akan mereka masuki, sama sepertimu."

"Benarkah?"

"Yups, mungkin hanya beda beberapa hari saja denganmu. Hehehe..."

Speechless. Itulah yang dirasakan Hinata saat ini. Gadis itu merasa memiliki kepala sekolah yang unik hingga membuat Hinata ingin berteriak keras.

Hashirama berpikir sejenak, dia merasa seperti tengah melupakan sesuatu. Mengabaikan raut sebal Hinata yang terlihat jelas.

"Ah! Sekarang ayo ikut aku, Hinata-chan!"

That GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang