"Bahkan jika terulang kembali, aku akan tetap memilihmu agar tetap berada disisiku."
-In Silence
📖
Pertemuan pada hari ini akan mengungkapkan semuanya. Semua hal yang selalu membuat Arga bingung dan penasaran setengah mati.
Lupakan. Arga bahkan tidak pernah merasakan mati.
Seperti yang pernah ia harapkan dulu, Arga hanya ingin hal baik terjadi di depannya. Nasib baik akan datang kepada yang baik dan Arga berharap itu.
Untuk waktu yang lama dan selalu ditunggu oleh Arga, ini awal dan akan menjadi akhirnya. Siapapun itu pengirimnya, Arga hanya ingin hal baik terjadi. Jujur saja jika kini ia sedang gelisah, jantungnya bahkan berdetak kencang. Bukan karena cemas, melainkan hati kecilnya bersorak hal lain.
Arga tengah duduk di sebuah taman, dibawah pohon yang rindang. Tidak ada seorangpun di taman itu. Hanya ada Arga.
Setidaknya taman ini sama persis dengan yang ada di foto itu. Kursi taman yang berada di bawah pohon rindang. Cuaca saat ini tidak mendukung karena tengah diselimuti awan yang berwarna kehitaman. Arga bertaruh jika sebentar lagi akan turun hujan. Bagaimana jika hujan turun dan si pengirim box itu batal menemuinya? Padahal Arga telah berharap banyak pada hari ini.
"Lama banget sih!" Arga menggerutu sebal sembari melihat jam tangan hitam yang melingkar di tangan kanannya. Salahkan Arga yang datang satu jam lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Padahal Yunda nya sudah menyuruh Arga untuk tiba lima belas menit lebih awal. Memang dasar Arga saja yang bebal.
Drrt... drrt
Getaran dari saku celananya mengalihkan Arga dari awan mendung di atas sana.
Yunda is calling ...
"Assalamualaikum Adeknya Yunda yang ganteng!"
Arga memutar kedua hola matanya malas. Pastilah Yunda nya ini akan mengejeknya. Pasti itu.
"Waalaikumussalam Yun, kenapa? Kangen sama Arga?"
"Hah? Ya enggak lah! Gimana gimana? Udah ketemu belum sama si pengirim box itu?" Nada mengejek terdengar dari sambungan di seberang sana. Dibilang juga apa, Yunda nya pasti akan mengejeknya. Tersenyum remeh pada Arga.
"Ya belumlah Yunda sayang ... "
"Yunda kan udah bilang Ga, datengnya nanti aja. Kamu malah ngegas dateng satu jam lebih awal. Iya kalo dia datengnya tepat waktu Ga, kalau ternyata ngaret gimana coba?"
"Yunda sayang yang paling cantik secantik Kate Middleton. Perasaan kemaren yang nyuruh aku buat yakin sama si pengirim box itu Yunda deh. Kenapa malah matahin semangatnya Arga sih Yun? Jangan buat Adek Yunda yang paling ganteng tapi sayang nggak pernah pacaran ini jadi down, galau, mellow manjalita gitu dong Yun!" Terdengar suara tawa yang renyah dari sambungan di seberang sana.
"Loh? Kamu juga kemaren pesimis banget jadi cowok."
"Yunda nggak liat apa kalau lagi mendung? Nanti kalau ternyata dia nggak dateng beneran gara-gara hujan gimana?"
"Kalau ternyata turun hujan ya berarti batal ketemuan deh. Emang kamu nya nggak boleh ketemu sama si pengirim box itu. Yang berarti belum rejeki kamu, ahahahaha..."
"Yunda! Arga tutup ya! Assalamualaikum." Arga memutuskan panggilan tanpa menunggu balasan dari Yunda nya itu. Kembali berdecak kesal saat ia melirik jam tangannya lagi. Demi apapun itu, kenapa jarum jam sekarang sangat lambat untuk berputar. Kenapa waktu terasa lebih lambat.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN SILENCE
Fiksi RemajaIni hanya sebuah cerita sederhana yang mengisahkan tentang seorang gadis yang diam-diam mencintai pujaan hatinya tanpa diketahui oleh siapapun kecuali Tuhan dan para sahabatnya. Sebuah kisah tanpa konflik berat yang menguras pikiran dan menyesakkan...
