1 tahun kemudian....
Tangis haru mendera di ruangan yang serba putih dengan bau khas obat-obatan itu. Teriakan histeris semua orang membuat kepalanya berdenging hebat. Sebenarnya ada apa ini?
Thea bangun dari ranjangnya, ia meregangkan tubuh yang entah mengapa terasa begitu ringan. Saat membuka mata, pemandangan pertama yang ia lihat adalah orang-orang yang sedang menangis.
"Loh mereka pada kenapa kok nangis semua sih?" tanyanya dengan kebingungan.
Thea semakin mengernyitkan dahi saat tak satupun dari mereka yang menjawab pertanyaannya, "Mom, Dad, Alan, Nabil, Om, Tante, ada apa?"
"Gak mungkin Dok, anak saya belum meninggal!"
"Maaf Bu, saya sudah bertindak sebisa mungkin untuk menyelamatkan nyawa anak anda, namun takdir berkata lain." ucap dokter dengan suara parau.
"Dokter bilang anak saya akan baik-baik saja setelah sadar dari koma, tapi apa buktinya hah? Kenapa anak saya meninggal? Dokter emang bener-bener gak becus nanganin pasien!" teriakan Lisa semakin menjadi-jadi dengan histeris.
"Ma, udah ikhlasin Thea, dia udah bahagia di sana." Farhan masih berusaha untuk menenangkan istrinya yang semakin tak dapat dikendalikan.
Dokter itu menghela napas panjang, "Maaf Pak, Bu, saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mungkin karena Tuhan sayang kepada Thea, ia mengambil nyawanya agar Thea terbebas dari rasa sakit yang selama satu tahun ini ia derita. Mungkin Thea sudah tak kuat lagi, ikhlaskanlah agar ia tak berat meninggalkan kalian."
"Kalau begitu saya permisi dulu. Sus tolong urus jenazah pasien." lanjutnya dan segera melangkahkan kaki keluar.
Lisa berlari sambil memeluk Thea sebelum suster mengambil jenazahnya, "Tidak! Jangan! Kamu jangan coba-coba ambil anakku! Dia masih hidup!"
"Sayang, kamu gak mungkin ninggalin mom kan? Kamu masih hidup kan? Mom yakin kamu bisa denger suara mom. Ayo bangun sayang, kamu pasti kuat."
Merasa tak tega suster pun meminta ijin untuk membawa Thea dengan ragu, "Maaf Bu, saya harus segera membawanya ke ruang jenazah."
Semua orang semakin menangis melihat kejadian itu. Farhan mencoba menenangkan Lisa yang histeris, tak lama kemudian Lisa pun jatuh pingsan. Sedangkan Nabil, ia memeluk Alan sangat erat.
Thea menegang, ia mencoba meraih badan orang tuanya, namun tak bisa. Bahkan ia juga menembus Alan dan Nabil. Oh tidak, ia tidak mungkin meninggal. Ia masih hidup.
"Mom, Dad, Thea ada di sini, di dekat kalian. Alan, Nabil, apa kalian juga gak lihat gue?"
Air mata Thea mengalir dengan sangat deras. Badannya ambruk ke bawah, Tuhan ia belum mau meninggal, masih banyak impian yang belum dicapai. Ia masih belum bisa membahagiakan orang tua dan orang-orang yang disayanginya.
"Jangan menangis, aku dan yang lainnya akan menjadi temanmu." Seorang anak laki-laki sekitar 9 tahun menepuk pundak Thea. Tapi, sepertinya ada yang salah dengan anak ini. Oh ya benar, anak ia berwajah sangat pucat dan tangannya hanya sebelah.
Tunggu, ternyata penampilan itu hanya bertahan sebentar, kini wajah yang tadi tersenyum berubah menjadi datar, perlahan kedua matanya menonjol keluar, badannya dipenuhi oleh darah, dan kepalanya terlepas begitu saja ke lantai. Oh tidak! Dia bukan manusia! Thea menjerit dengan sangat keras.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" teriakan itu membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main. Kain putih yang dipegang suster untuk menutupi wajahnya kini melayang entah ke mana. Thea bangkit dengan wajah bercucuran keringat. Yaa, Thea masih hidup.
-o0o-
KAMU SEDANG MEMBACA
BUKAN MAUKU! [HIATUS]
FantasyWalau mereka menjauhiku, setidaknya masih ada kamu yang selalu di sampingku. Walau mereka selalu mengkhianatiku, setidaknya masih ada kamu yang setia di dekatku. Tolong jangan seperti mereka yang pergi di saat tahu bahwa aku mempunyai kekurangan, ak...
![BUKAN MAUKU! [HIATUS]](https://img.wattpad.com/cover/180920849-64-k471613.jpg)