veinticuatro

5.3K 1K 28
                                        

Itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Itu... Dia.








Jemariku kontan menutup mulut tak percaya. Air mataku kembali menguap ke permukaan dan rebas. Kakiku bergetar hingga kurasa bukit ini gempa. Detak jantung tak karuan. Entah mau memacu lebih cepat atau berhenti berdetak karena ketiba-tibaan.

Laki-laki yang tak kutemui 3 hari belakangan ternyata ada di hadapan. Dengan jaket coklat susu dan celana SMA yang masih melekat. Terduduk di atas batu besar sembari melamun dan bersenandung parau.

"I want to hold your hand....  I want to hold—"

Grep.

Kupeluk dirinya erat-erat hingga sesak. Tak peduli jikalau yang kurengkuh ini dedemit seperti yang kutemui di dalam sana tadi atau beneran Kak Sicheng.

Rasa rindu ini sudah tak terbendung lagi.

"Kak... Hiks."

"Kak Sicheng...."

"Kak... Hiks."

Tak kurasakan sedikitpun pergerakan dari laki-laki yang tengah berada dalam dekapanku ini. Ia tak membalas pelukan. Mungkin shock mengapa aku bisa di sini, menemukan sesosok laki-laki rapuh yang tak tahu destinasi hidupnya.

Tak perlu beribu kata terlontar.

Aku tahu.

Kak Sicheng memang sehampa itu.

"Ka—"

"Indyra...," panggilnya pada akhirnya. Suaranya kelewat parau. Serak. Seperti orang yang puasa 24 jam nggak buka-buka.

Seketika aku teringat kembali apa yang nenek dedemit tadi ucapkan.

"Iya, kemarin dia naik ke puncak sambil ngelamun."

Hal itu membuatku semakin erat memeluknya. Kalau tubuhku bisa melebur mungkin sudah pecah berserakan kemana-mana saking eratnya pelukan ini.

Tak ingin kehilangan lagi. Sudah. Sudah cukup ditinggal 3 hari. Sudah cukup menangis meraung-raung sebelum tidur. Cukup.

Perlahan kurasakan tangannya mulai merambat pada punggungku. Menjalarkan rasa hangat di sana padahal aku sudah memakai jaket tebal Nana.

Dibalik tangisan, aku menarik kedua sudut bibir melawan gravitasi.

Senang. Senang masih bisa dipertemukan dengannya.

Kak Sicheng menarik tubuhku untuk memberi jarak antara kami tapi masih dalam radius dekat. Detail wajahnya pun masih terlihat. Walau samar-samar di antara redupnya cahaya sang rembulan.

Ia memandangku lamat, seakan mencari sesuatu di sana. Perlahan jemarinya berpindah naik pada pipiku yang sudah basah. Ibu jarinya mengusap lembut, menghapus jejak air mata yang belum kering dari lekuk wajah.

clumsy | winwin ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang