bonchap : titik awal

9.1K 973 81
                                        

Gemerisik air hujan menyapa tanah menjadi backsound merdu pada sore hari itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gemerisik air hujan menyapa tanah menjadi backsound merdu pada sore hari itu. Menemani dengan setia dan konsisten sedaritadi.

Membuat tubuh pemuda berbalut kemeja putih bergetar menggigil. Dipeluknya tubuh sendiri-mencoba mencari sedikit kehangatan-seraya merunduk menatap ujung sepatu yang mulai basah terkena cipratan rintikan hujan.

"Astaga. Kenapa bisa nggak bawa jaket, sih?" gerutunya kesal yang tentu hanya menjadi angin lalu.

Dug dug dug.

Pupil kontan melirik melalui ujung bulu mata saat mendengar langkah kaki mendekat. Mendapati sesosok perempuan kuncir kuda berjaket merah marun yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.

Sicheng sempat melotot kaget sebelum beringsut ke samping, memberi jarak tak kasat mata.

Namun nampaknya perempuan itu tidak menyadari eksistensi Sicheng di sana. Mungkin ia asal berdiri saja-

"Kok ngejauh?"

"Eh?"

Netra itu masih mengerjap cepat, memproses apa yang dilontarkan lawan bicara tatkala perempuan itu kembali menghapus jarak di antara mereka.

"Dingin, tau. Makanya harus dekat, biar hangat."

Sejurus, garis imajiner tercetak jelas di dahi Sicheng.

Ngomong apa, sih?

Nggak jelas.

Lalu ujung jari telunjuk panjang itu mendorong pelan bahu gadis di sampingnya. Pelan, namun sukses membuat korban sedikit terhoyong ke samping.

"Nggak mau."

"Kenapa?"

Bukannya menjawab, dirinya malah berjalan mundur menuju sudut lobi sekolah. Tak lupa sebelumnya mendengus keras. Sengaja, biar perempuan itu tau kalau Sicheng terganggu akan kehadirannya.

Menyebalkan sekali.

Kalau kata teman-teman sini, sih. SKSD.

Sok Kenal Sok Dekat.

Surai hitam itu kembali menunduk, tak lupa juga lengan kembali memeluk tubuh sendiri. Dirasakannya perlahan barisan giginya bergerak sendiri, bergemelatuk pelan.

Beberapa detik hidup Sicheng rasanya kembali damai sentosa hingga dilihatnya dua buah bungkusan tersodor di hadapan.

"Apa-"

"Koyo." Sahut suara di depannya.

Masih suara perempuan tadi, ternyata.

"Keliatannya kamu kedinginan banget? Nih tempelin koyo aja biar hangat. Aku nggak bisa minjemin jaket, sorry. Aku juga kedinginan soalnya. Nggak punya barang lain juga buat kasih kehangatan. Nggak mungkin aku peluk, kan? Nanti aku dikira cewek mesum ujug-ujug meluk cowok nggak dikenal."

clumsy | winwin ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang