Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mbak Dyra? Ngapain disini?"
Gantian, kini Mark yang memandangku dan Chenle, kaget.
"Aku mau ketemu kokoh kamu, ada?"
Alis bocah itu menyirit namun tetap mengangguk. "Ada. Mau ngapain? Kok... sama Kak Mark? Mbak Dyra kenal Kak Mark?" Tanyanya. Wajahnya nampak bingung dengan keadaan.
"Kenal, dong. Aku kan teman sekelasnya Mark."
Mata sipitnya membesar walau hanya beberapa milisenti. "Loh? Kokoh juga satu sekolah sama Kak Mark. Berarti Mbak Dyra juga, dong?"
Aku tersenyum dan mengangguk walau dalam hati sedikit merutuk.
Yaiyalah, Le. Pakai ditanya segala:)
Melirik Mark, ia masih tercenung seraya memerhatikan kami berbincang.
"Yaudah, Kak, Mbak. Kokohnya ada di kamar, tuh. Lele mau main PS lagi, ya." Dan pemuda bersurai agak kekuningan itu kembali duduk di sofa dan melanjutkan permainannya yang tertunda.
Memasuki ruangan tersebut, ternyata ini adalah ruang duduk-duduk dan santai yang dilengkapi sofa, televisi, dan sound system. Di dalam ruangan ini terdapat dua ruangan lagi yang kuyakini salah satunya merupakan kamar Kak Sicheng.
Sembari melangkah, Mark tidak henti-hentinya bertanya perihal aku yang mengenal Chenle.
"Katanya kamu nggak kenal Ahcong? Kok bisa kenal Chenle? Bahkan dia udah manggil kamu Mbak Dyra, loh," heboh bule tersebut.
Memang, sih. Hanya orang-orang terdekat yang memanggilku dengan sebutan 'Mbak Dyra'.
"Kamu bohong, ya? Pura-pura nggak kenal Ahcong supaya bisa minta kenalin sama aku? Licik kamu, Dyr." Jeda sejenak sebelum lelaki itu kembali mengoceh. "Oh, atau jangan-jangan...."
Menoleh pada Mark, aku mendapatinya tengah menampilkan ekspresi terkejut dengan tangan yang menutupi mulut. Melihat itu, aku refleks menghela nafas, jengah.
"Chenle teman Icung, Mark. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh, deh."
Dan setelahnya, kekasih Mina itu hanya ber'oh' ria dan mengangguk paham.
Langkahku dan Mark terhenti pada sebuah pintu putih tulang dengan stiker bertuliskan 'knock pelase' yang kuyakini sebagai kamar dari orang yang ingin ku jenguk.
"Kamu tunggu di sini dulu ya, Dyr."
"Loh, kenapa?" tanyaku.
Aku jauh-jauh ke sini dan hanya disuruh menunggu di depan pintu? Kurang ajar sekali ya bule ini.
"Sebentar aja. Aku mau kasih surprise ke Ahcong."
"Hah? Maksudnya?"
Mark menaruh telunjuk di depan bibir. "Ssst. Udah, kamu berdiri di sini sebentar."