veintisiete

5.7K 1K 274
                                        

Hilir aroma segar khas pagi hari menusuk indra penciuman

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hilir aroma segar khas pagi hari menusuk indra penciuman. Aroma kesukaanku. Tapi tidak cukup untuk menenangkan pitam yang bergejolak mendidih.

Menelusuri koridor yang sudah lumayan ramai, langkahku terkesan terburu dan menghentak. Sedangkan netra terus memerhatikan sebuah pintu yang sedikit tertutup, tak jauh dari keberadaanku sekarang.

Tak perlu waktu lama tuk ditempuh. Kini aku sudah sampai di depan pintu tersebut. Tanpa pikir panjang, kudorong kencang-kencang. Membuat yang di balik pintu tersentak.

Brak!

"JENO!" Mataku menyalang kesana-kemari, mencari keberadaan laki-laki dengan mata bak bulan sabit.

"Eh Indyra, kenapa teriak-teriak?" tanya Heri dengan wajah bingungnya. Tak lupa juga tangannya yang menggenggam sesendok bubur.

"MANA JENO?!" rudungku langsung kala tak membuahkan hasil.

Heri sempat memerhatikan sekitar sebelum akhirnya mengangkat bahu. "Belum datang, tuh. Kenapa memangnya?"

Mengabaikan pertanyaan Heri, aku berbalik badan, hendak beranjak dari ambang pintu kelas Heri dan Jeno. Tapi alangkah beruntungnya aku berpapasan dengan Jeno yang baru saja datang dengan jaket bomber army-nya.

Laki-laki itu tersenyum manis. "Pagi, Indyra," sapanya yang mana membuatku tambah muak.

PLAK!

"Kurang ajar kamu, Jen! Kurang ajar!"

"INDYRA!" Teriak Heri cukup terkejut. Buru-buru ia menghampiri kami dan menjadi penengah.

"Kenapa ini, Dyr? Kamu kok main tampar Jeno aja pagi-pagi begini? Kasian tuh tangan kamu merah," ujar Heri menunjuk buku-buku jemariku yang memerah dengan matanya.

Jeno mendengus. Mungkin merasa iri karena Heri lebih memperhatikanku dibanding pipinya yang jadi korban.

"Teman kamu ini-" Jari telunjukku mengacung di depan wajah si pemilik mata bak bulan sabit. "-brengsek!"

"INDYRA!"

Bukan. Itu bukan suara Heri. Suara itu berasal dari punggung Jeno. Sedikit mengintip, kulihat Mark yang baru datang dengan tas ransel yang tersampir.

"Kamu apa-apaan, sih?" rudung Mark saat tiba.

Ah, dia dengar perkataanku tadi.

"Teman kamu ini, Mark. Dia yang nyebarin berita Kak Sicheng! Dia yang ngepost berita itu di akun Lambenana! Dia orangnya! Dia!" Ingin rasanya aku menjerit sekarang juga, tapi masih kutahan karena sadar sekarang masih pagi. Dan nggak hanya aku yang ada di sini.

Jeno hanya memandangiku datar dengan jemari yang menempel pada pipi. Wajahnya nggak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. Gila.

"Kamu ngomong apa, sih? Jeno kan temannya Ahcong, mana mungkin dia ngelakuin itu, Dyr."

clumsy | winwin ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang