Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sinar terik mentari nampaknya bukan menjadi penghalang bagi laki-laki kelasanku untuk bermain basket di siang bolong. Bahkan mereka terlihat lebih antusias dengan keringat yang sudah membanjiri.
Sedangkan aku dan ciwi-ciwi kelasku lebih memilih duduk di bangku pinggir lapangan yang adem karena terlindungi oleh pohon. Ya biasa lah, pada takut menghitam.
Sekarang jam olahraga.
Melihat Mark yang sedang kecewa sekaligus kesal saat bolanya berhasil direbut oleh Hyunjin membuatku terkikik geli.
Untung Mina bersekolah di sekolah lain, jadi nggak malu malu banget punya pacar yang noob main basket seperti Mark.
Fokusku terusik saat ciwi-ciwi kelasanku berseru 'cie-cie' sembari menjerit gemas.
Mengikuti arah pandang mereka, aku mendapati Kak Sicheng yang tengah berjalan kearahku dengan sekotak susu stroberi di genggaman.
Ia tersenyum simpul saat mata kami bertemu. Tak lupa pipinya yang sudah berhias semburat terlihat lebih jelas dibawah sinar matahari siang.
"Nih."
Ia menempelkan susu kotak tadi pada pipiku, memberikan sensasi dingin yang menjalar.
Baru beli, nih?
Suara-suara menggoda dari belakang kembali terdengar, membuat wajah Kak Sicheng bertambah merah.
"Makasih, Kak. Sini duduk." Aku menepuk-nepuk tanah sampingku yang masih tersisa tempat.
Setelah pantatnya mendarat, kami berdua sama-sama memerhatikan kegiatan di tengah lapangan.
Ini sudah satu minggu sejak ayah Jeno meninggal. Dan kudengar-dengar hari ini ia sudah mulai masuk sekolah. Entahlah, aku belum bertemu dengannya lagi.
Hubunganku dengan Kak Sicheng? Bisa dibilang tambah dekat. Dia jadi sering datang ke rumahku dengan berbagai macam alibi. Seperti Chenle yang ingin bertemu Icung, ingin mengajariku Fisika atau Kimia—ternyata dia sangat jago—, dan atau bahkan dengan alasan hanya ingin berjumpa belaka. Rindu katanya.
Ah tau, deh. Pokoknya beberapa hari belakangan dia jadi tambah cheesy. Sifat malu-malunya pun sedikit berkurang dan lebih sering menatapku berani.
"Kakak kok ada di sini?" tanyaku saat baru menyadari kalau seharusnya ia ada di kelas. Ini bukan jam istirahat.
"Freeclass."
"Oh...."
"Kamu ada PR kimia?"
Cukup beberapa detik diriku memutar otak. "Eum... ada."
"Oke, nanti sehabis pulang sekolah kita ke rumah kamu."