Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara motor melaju halus membelah keramaian kota metropolitan. Kak Sicheng mengendarai motornya terkesan santai dan nggak terburu.
Sedangkan aku sesekali mengelus punggungnya, berusaha menenangkan atas kekalahannya melawan Ayah. Aku juga sedih, kok. Jangan ditanya.
"Kamu mau jajan jajan dulu?" tanya Kak Sicheng dengan suara agak teredam akibat helm bogo yang tertutup.
"Nggak, Kak. Masih kenyang."
"Oke."
Beralih mengusap lengan yang mulai disapa halus sang angin malam menembus jaket tebal yang kugunakan. Tak lupa menghirup napas tuk menikmati semilir angin yang entah kenapa terasa begitu manis setiap ada Kak Sicheng bersamaku.
NGENG!
Aku maupun Kak Sicheng terkejut dan kontan menoleh ke samping saat ada motor yang tiba-tiba mensejajarkan posisi dengan motor Kak Sicheng.
Keduanya memakai pakaian serba hitam. Celana levis hitam, jaket kulit hitam, dan helm hitam jua.
"Eta gelo siah! Munduran!" Teriak si penumpang menjitak helm yang mengemudi.
"Sorry, refleks," balas sang pengemudi.
Dan setelah itu, motor itu kembali melaju di belakang motorku dengan Kak Sicheng.
Tiba-tiba bulu kudukku meremang, hatiku mulai resah. Entah kenapa rasanya ada yang janggal.
Terlebih saat motor Kak Sicheng berbelok masuk ke dalam komplek perumahan Chenle dan motor tersebut juga ikut masuk.
"Kak," panggilku.
"Hm?"
"Itu yang pakai baju hitam tadi kayak ngikutin kita nggak, sih?"
"Emang mereka masih ada di belakang?" Kulihat dari belakang sini, Kak Sicheng nampak melirik spion sebelum kembali melanjutkan, "mungkin emang tujuannya sama, Dyr. Jangan nuduh gitu ah, nggak baik."
"Bukan nuduh kak-"
"Terus?"
"Ya... Ya gitu deh, ah! Udah lupain!" racauku pada akhirnya.
Aku kan niatnya mau wanti-wanti kenapa jadi nuduh, sih? Huh!
Tak lama kemudian kami sampai di depan pagar menjulang rumah Chenle. Kak Sicheng memberhentikan motor, membuka kaca helm. "Dyr, bisa minta tolong bukain?"
Aku pun kontan mengernyit. "Loh, tumben nggak ada yang bukain dari dalam?"
"Semuanya lagi pergi, Dyr."
"Termasuk bibi bibi di rumah?"
"Iya. Soalnya Chenle sama keluarga nya lagi ke China ada urusan. Kan tinggal aku doang, makanya semua ART disuruh pulang sama Maminya Chenle mumpung rumah sepi. Lagian waktu lebaran kemarin mereka nggak sempat pulang karena Mami Chenle masak-masak untuk ngundang orang-orang muslim di komplek."